Kampanye negatif (negative campaign) vs kampanye hitam (black campaign)

PDF24 Tools    Send article as PDF   

Artikel ini saya tulis karena keprihatinan saya akan sebagian besar masyarakat yang belum dapat membedakan kampanye negatif (negative campaign) dan kampanye hitam (black campaign), namun sebelum kita melangkah lebih jauh, ijinkan saya untuk mengungkapkan sedikit dari latar belakang saya

Saya adalah salah seorang pendukung Jokowi-Ahok, Jokowi-JK dan juga Ahok-Djarot, dimana saya menjadi relawan Jokowi-Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta 2012, relawan Jokowi-JK dalam Pilpres 2014 dan relawan Ahok-Djarot dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 serta relawan Teman Ahok dalam pengumpulan 1 juta KTP buat Ahok. Karena saya seorang blogger, saya lebih sering berkampanye via online, dimana saya menulis artikel-artikel untuk mengkampanyekan Jokowi-Ahok, Jokowi-JK dan Ahok-Djarot serta Teman Ahok. Saat saya menjadi relawan Jokowi-JK, serangan demi serangan datang kepada kubu Jokowi-JK, dimana kandidat lawan melancarkan apa yang dinamakan kampanye hitam (black campaign), yaitu dengan menyebarkan berita-berita hoax mengenai Jokowi. Saya kemudian melawan berita-berita hoax mengenai Jokowi tersebut dengan menulis artikel-artikel yang membongkar siapa kandidat lawan berdasarkan fakta dan data yang Ada, namun mungkin karena ketidakmengertian, salah seorang teman kerja (waktu saya masih bekerja di salah satu website otomotif) berkata bahwa saya melancarkan kampanye hitam (black campaign), padahal saat itu saya hanya melawan berita-berita hoax yang dilancarkan kubu lawan dengan menyuguhkan fakta dan data yang akurat untuk membongkar siapa kandidat lawan (selain juga mengkampanyekan hasil kerja nyata Jokowi sewaktu beliau menjabat Gubernur DKI Jakarta)

Dari pengalaman tersebut di atas, saya menyimpulkan bahwa sebagian masyarakat belum dapat membedakan belum dapat membedakan kampanye negatif (negative campaign) dan kampanye hitam (black campaign). Dalam artikel ini kita akan membahas lebih dalam mengenai perbedaan kampanye negatif (negative campaign) dan kampanye hitam (black campaign)

Kampanye negatif (negative campaign) ialah kampanye berisi pengungkapan fakta secara jujur mengenai kekurangan calon Presiden, calon anggota legislatif maupun calon pemimpin lainnya dalam ruang lingkup wilayah tertentu berdasarkan fakta dan data yang akurat, dengan tujuan untuk memberitahukan masyarakat mengenai orang yang dimaksud

Kampanye hitam (black campaign) merupakan kebalikan dari kampanye negatif (negative campaign), dimana kampanye hitam (black campaign) tidak berdasarkan fakta dan data yang akurat, bahkan cenderung menyebarkan berita-berita hoax yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, dengan tujuan untuk menyesatkan opini masyarakat dan juga menjatuhkan pesaing dengan cara yang tidak sehat

Contoh kampanye negatif (negative campaign) vs kampanye hitam (black campaign) dapat dibaca di Jokowi Anak PKI Itu Hoax, Prabowo Anak Pemberontak Itu Fakta yang diterbitkan Infomenia, dimana dalam artikel tersebut isu Jokowi anak PKI itu jelas-jelas merupakan kampanye hitam (black campaign), karena tidak didukung oleh fakta dan data yang akurat, bahkan kenyataannya ialah Jokowi bukanlah keturunan PKI

Sementara itu, dalam artikel tersebut Infomenia dengan jelas menyuguhkan fakta dan juga data yang akurat mengenai siapa Prabowo Subianto sebenarnya. Saya tidak akan membahas lebih lanjut mengenai Prabowo Subianto, karena dalam artikel yang diterbitkan Infomenia tersebut telah dibahas dengan jelas mengenai siapa Prabowo Subianto sebenarnya

Silahkan para pembaca membaca artikel tersebut dan menilai sendiri kebenarannya. Sebenarnya Infomenia mengambil berita tersebut dari website Gerilya Politik, namun karena website tersebut terkena “Internet Positif“, akhirnya saya menyertakan link berita dari Infomenia)

Saat menjadi relawan Ahok-Djarot dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 saya juga menerapkan kampanye negatif (negative campaign) untuk melawan kampanye hitam (black campaign) yang dilancarkan kubu lawan, dimana dalam putaran pertama saya menulis artikel-artikel mengenai hasil kerja nyata Ahok-Djarot dan juga membongkar siapa dua kandidat lawan berdasarkan fakta dan data yang akurat

Kampanye negatif (negative campaign) vs kampanye hitam (black campaign)

Sumber: http://news.liputan6.com

Dalam putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2017 saya juga menerapkan kampanye negatif (negative campaign) untuk melawan kampanye hitam (black campaign) yang dilancarkan kubu lawan, meskipun Ahok-Djarot akhirnya kalah karena tekanan massa yang tergabung dalam ormas yang mengatasnamakan agama (salah satunya dengan mengkhafi-khafirkan para pendukung Ahok-Djarot dan juga menolak untuk menyolatkan jenazah para pendukung Ahok-Djarot (meskipun sama-sama beragama Islam))

Kampanye negatif (negative campaign) vs kampanye hitam (black campaign)

Sumber: http://news.liputan6.com

Meski demikian, setidaknya saya telah berkontribusi dalam memberikan pembelajaran politik, yaitu dengan memberitahukan kepada masyarakat umum mengenai hasil kerja nyata Ahok-Djarot dan juga membongkar siasat jahat kubu lawan yang sudah tidak sabar ingin menjadi penguasa DKI Jakarta

Jadi intinya ialah untuk membedakan mana kampanye negatif (negative campaign) vs kampanye hitam (black campaign), kita harus mengetahui seberapa akurat fakta dan data yang disuguhkan. Jika fakta dan data yang disuguhkan benar-benar akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, hal tersebut dapat dikategorikan sebagai kampanye negatif (negative campaign). Sebaliknya, jika fakta dan data yang disuguhkan tidak akurat dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, hal tersebut dapat dikategorikan sebagai kampanye hitam (black campaign), karena menyebarkan berita-berita hoax

Kita telah membahas mengenai kampanye negatif (negative campaign) dan kampanye hitam (black campaign). Kiranya para pembaca terbuka serta dapat membedakan mana kampanye negatif (negative campaign) dan mana kampanye hitam (black campaign)

Kampanye negatif (negative campaign) vs kampanye hitam (black campaign)

Sumber: http://www.99mindset.xyz

NB : Artikel-artikel yang saya tulis semasa Pilkada DKI Jakarta 2012, Pilpres 2014 dan Pilkada DKI Jakarta 2017 udah tidak ada lagi, karena sejumlah blog lama saya telah dihapus

LINE it!

Lay Cao Lay

Penulis artikel di blog Rudy Haryanto (blog yang dimiliki Founder One Indonesia Satu dan WAG IDNEWS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: