Donald Trump Akui Yerusalem Ibu Kota Israel, Ini Dampak Positif Bagi RI

PDF24    Send article as PDF   

Sebagaimana telah diketahui bersama, keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel disambut negatif oleh banyak negara di dunia, bahkan pasar saham Tokyo hingga Jepang goyang menyusul pidato kontroversial Presiden Amerika Serikat Donald Trump, karena timbulnya kekhawatiran dari para investor

Ekonom Institute For Economic and Development Finance (Indef) Bima Yudhistira mengungkapkan bahwa hal tersebut akan berdampak untuk dua hal secara ekonomi kepada Indonesia, dimana pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tersebut dinilai akan membawa dampak positif kepada harga komoditas yang akan naik dan dipercaya akan membawa pengaruh kepada daya beli masyarakat

Ketika harga komoditas (minyak mentah) naik, daya beli masyarakat di tempat-tempat penghasil komoditas diharapkan pulih lebih cepat. Artinya orang akan lebih banyak kredit kendaraan bermotor nanti. KPR akan tumbuh. Harga minyak (ICP) sekarang kan sudah US$ 56 per barrel, di 2018 bahkan diprediksi bisa sampai US$ 80 per barrel. Jadi nanti kelihatannya konsumsi masyarakat di 2018 setidaknya bisa tumbuh 5-5,1%,” ungkap Bima Yudhistira saat ditemui di Auditorium Perbanas, sebagaimana dilansir finance.detik.com (07/12/2017)

Meski demikian, di sisi lain, pernyataan kontroversial Presiden Amerika Serikat Donald Trump tersebut juga akan membawa dampak negatif bagi Indonesia, karena pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel akan menimbulkan potensi pecahnya perang di Timur Tengah dan akan berpengaruh kepada produksi minyak dunia, sehingga membuat harga minyak dunia naik, sementara subsidi energi Indonesia dalam APBN 2018 diperkirakan tidak mampu menopang naiknya harga minyak dunia tersebut

Karena kita net importir minyak, bukan eksportir minyak lagi, yang terjadi adalah, subsidi energi kita bisa kuat atau enggak sampai akhir 2018. Karena di asumsi APBN 2018 kita cuma US$ 48 per barrel, sementara diprediksi bisa tembus sampai US$ 80 per barrel,” jelas Bima Yudhistira, sebagaimana dilansir finance.detik.com (07/12/2017)

Menurut Bima Yudhistira, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2018 dapat mencapai 5,1 persen, pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2018 tersebut diperkirakan akan banyak ditopang oleh ekspor lewat harga komoditas yang naik

Tahun depan pertumbuhan kita targetkan syukur kalau bisa tumbuh 5,1% karena konsumsi masyarakat masih lemah. Tapi yang bisa nolong pertumbuhan tahun depan the only one adalah ekspor karena harga komoditas tadi naik,” tutup Bima Yudhistira, sebagaimana dilansir finance.detik.com (07/12/2017)

indonesiasatu

Website resmi One Indonesia Satu yang dimiliki Rudy Haryanto (Founder One Indonesia Satu dan WAG IDNEWS, praktisi blogging, Citizen Reporter Persatuan Pewarta Warga Indonesia, Freelance Writer UC We-Media) dan penulis di Kompasiana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: