Benarkah Prabowo Bokek alias Kehabisan Uang ? Ini Penjelasannya

PDF24    Send article as PDF   

Sebagaimana telah diketahui bersama, calon gubernur Jawa Barat yang sebelumnya sempat akan diusung Partai Gerindra, yaitu Deddy Mizwar belum lama ini mengeluarkan pernyataan kontroversial terkait Ketua Partai Gerindra Prabowo Subianto, dimana Wakil Gubernur Jabar tersebut mengungkapkan bahwa Prabowo Subianto memang tengah mengalami permasalahan keuangan

Menurut Deddy Mizwar, keluhan tersebut pernah disampaikan oleh Prabowo Subianto beberapa kali kepada dirinya, dimana mantan Danjen Kopassus tersebut menyatakan bahwa dirinya tidak memiliki cukup uang untuk menghadapi Pilpres 2019 dan Pilkada Serentak 2018, namun beliau tidak berani meminta

Pak Prabowo bilang, sudah nggak punya uang. Tapi nggak berani minta. Untuk pemilihan presiden, untuk pemilihan gubernur gak punya uang.Tapi (Prabowo) nggak minta,” ungkap Deddy Mizwar, sebagaimana dilansir politik.rmol.co (13/01/2018)

Pernyataan Deddy Mizwar tersebut mengundang tanda Tanya dari masyarakat luas : benarkah Prabowo Subianto yang juga dikenal sebagai pengusaha sukses tersebut sedang kehabisan uang ? Kalau iya, dari mana saja sebenarnya sumber pendanaan politik Prabowo Subianto selama ini ?




Untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, kita harus melihat dari dua hal, yaitu:

1) Pilpres 2014

Masalah keuangan Prabowo Subianto tersebut mungkin saja tidak terlepas dari Pilpres 2014 yang menghabiskan cukup banyak biaya, dimana Prabowo Subianto dan pendukungnya dinilai telah habis-habisan dalam memenangkan dirinya sebagai Presiden RI ke-7. Indonesia Corruption Watch (ICW) bahkan mengungkapkan kalau pasangan Prabowo-Hatta Rajasa mengeluarkan dana lebih dari Rp 166 miliar dalam Pilpres 2014, namun jumlah tersebut diperkirakan jauh lebih besar bila melihat modal politik seorang calon presiden secara keseluruhan

Analisis ekonomi yang dilakukan Forbes pernah mengungkapkan bagwa seorang kandidat Presiden RI harus menyiapkan dana setidaknya US$ 600 juta atau sekitar Rp 7 triliun untuk pencalonan dirinya, diantaranya untuk membayar parpol, saksi, tim sukses dan tim profesional (konsultan, lembaga survei dan lain-lain). Selain itu, pos-pos pengeluaran lainnya, seperti kampanye door to door dan media ruang publik (baliho, iklan di media massa, spanduk dan lain sebagainya) juga menyedot anggaran yang tidak sedikit

Dengan kata lain, dana yang dikeluarkan Prabowo Subianto dalam Pilpres 2014 tersebut sangat mungkin lebih besar dari laporan yang disebutkan Indonesia Corruption Watch (ICW) tersebut di atas

Dari sisi kekayaan, dalam Pilpres 2014, Prabowo Subianto dikenal sebagai calon presiden RI terkaya dengan total kekayaan mencapai Rp 1.670.392.580.402,- dan US$ 7.503.134 (meningkat drastis sejak tahun 2003, dimana sebelumnya hanya berjumlah Rp 10,1 miliar dan US$ 416.135)

Peningkatan nilai aset tersebut merujuk pada laporan harta kekayaan Prabowo Subianto sebagai calon presiden RI yang disampaikannya kepada KPK pada 20 Mei 2014

Kekayaan sebanyak itu memang tidak akan habis untuk tujuh turunan, namun, bila rumor bahwa Prabowo Subianto sedang kesulitan keuangan tersebut benar, hal tersebut berarti kekayaan beliau ternyata dapat dihabiskan hanya untuk pencalonan dirinya sebagai Presiden RI ke-7

Bila mengacu pada pernyataan Indonesia Corruption Watch (ICW) tersebut di atas (Prabowo Subianto mengeluarkan dana lebih dari Rp 166 miliar dalam Pilpres 2014), jumlsh tersebut jauh lebih sedikit dari jumlah yang sebenarnya, karena kekayaan Prabowo Subianto masih lebih dari cukup untuk membiayai pencalonan dirinya kembali dalam Pilpres 2019, apalagi dalam Pilpres 2014 beliau juga mendapat sumbangan dari calon legislatif Partai Gerindra sebesar Rp 300 juta per orang

Jika dielaborasi antara kekayaan yang dimiliki Prabowo Subianto dengan jumlah perkiraan nominal pengeluaran capres seperti yang disebutkan oleh Forbes , yaitu mencapai Rp 7 triliun, pernyataan Deddy Mizwar tersebut di atas mungkin saja benar, apalagi Prabowo Subianto juga sering mendukung calon-calon dari Partai Gerindra dalam Pilkada dengan mengeluarkan uangnya sendiri. Contohnya : dalam Pilkada DKI Jakarta 2012, Prabowo Subianto terang-terangan mendukung pasangan Jokowi-Ahok yang terlihat dari iklan di beberapa stasiun televisi yang biayanya tidaklah murah

Pernyataan Deddy Mizwar juga mungkin saja benar adanya bila Prabowo Subianto telah menghabiskan uang begitu banyak demi biaya politik sejak tahun 2014, sehingga tidak heran bila pada tahun 2018 Prabowo Subianto sudah mulai kebingungan, terkait kebutuhan dana untuk Pilpres 2019 yang kian mendekat dan hal tersebut membuat Prabowo Subianto harus semakin giat dalam mencari sokongan dana dari berbagai pihak untuk menutupi masalah keuangan beliau tersebut

2) Hashim Djojohadikusumo

Masalah keuangan yang dialami Prabowo Subianto saat ini mungkin juga dipengaruhi oleh Hashim Djojohadikusumo (adik kandung Prabowo Subianto) yang dikenal sebagai pengusaha sukses dan menempati posisi 35 dalam daftar orang terkaya di Indonesia (versi majalah Forbes tahun 2017). dengan jumlah kekayaan mencapai US$ 850 juta) dan juga ikut membangun Partai Gerindra

Hashim Djojohadikusumo sendiri menempati posisi direktur utama di beberapa perusahaan, seperti Arsari Group, PT Kiani Kertas, PT Tirtamas Comexindo dan perusahaan lainnya. Gurita bisnis beliau mulai dari tambang, semen, kertas, perkebunan dan banyak lagi bisnis lainnya. Perusahaan beliau juga tersebar hampir di seluruh dunia, seperti Myanmar, Vietnam, kawasan Timur Tengah, Eropa Timur, bahkan Rusia

Dukungan Hashim Djojohadikusumo juga sangat besar peranannya bagi pertarungan Prabowo Subianto dalam Pilpres 2014, dimana Hashim Djojohadikusumo mengaku bahwa dukungan dirinya tersebut diwujudkan dalam bentuk uang, namun beliau merahasiakan nilai nominal yang ia keluarkan dengan alasan persoalan jumlah merupakan urusan keluarga

Keikutsertaan Hashim Djojohadikusumo dalam mendukung Prabowo Subianto tersebut masuk akal bila dikaitkan dengan besarnya dana yang diperlukan saat itu, dimana biaya triliunan rupiah akan tertutup lewat bantuan Hashim Djojohadikusumo dan rekan-rekan bisnisnya (yang mungkin saja ikut terafiliasi dengan Partai Gerindra). Peran Hashim Djojohadikusumo tersebut tidak terlepas dari ikatan darah yang kuat antara putera-putera Sumitro Djojohadikusumo

Meski demikian, Pilpres 2014 ternyata juga berdampak pada menurunnya harta kekayaan yang dimiliki oleh Hashim Djojohadikusumo, dimana hal tersebut terindikasi melalui jumlah kekayaan Hashim Djojohadikusumo yang menurun, yaitu dari US$ 790 juta ke US$ 750 juta (antara tahun 2011-2013), sehingga kekalahan Prabowo Subianto dalam Pilpres 2014 juga menimbulkan kekecewaan dalam diri Hashim Djojohadikusumo, apalagi sang kakak dikalahkan oleh pendatang baru, yaitu Joko Widodo (Jokowi)

Di sisi lain, sebagai pemilik dan petinggi di beberapa perusahan minyak dunia, Hashim Djojohadikusumo ikut terimbas dalam krisis yang diakibatkan oleh penurunan harga emas hitam, sehingga kondisi keuangan yang menurun inilah, mungkin saja ikut memaksa Hashim Djojohadikusumo mengurangi pendanaan bagi Prabowo Subianto

Kabar yang beredar juga menyebutkan bahwa ada perbedaan pandangan antara Prabowo Subianto dengan Hashim Djojohadikusumo akhir-akhir ini, dimana Beberapa pihak menduga bahwa kedekatan Partai Gerindra dengan PKS yang berhaluan Islam garis keras tersebut dianggap tidak sesuai dengan pemikiran Hashim Djojohadikusumo yang merupakan penganut Kristen Protestan yang cukup taat (berbeda dengan Prabowo Subianto yang beragama Islam)

Meski demikian, rumor perbedaan pandangan antara Prabowo Subianto dengan Hashim Djojohadikusumo tersebut di atas mungkin saja salah Dan mungkin jyga ada alasan lainnya yang membuat Hashim Djojohadikusumo tidak lagi membiayai Prabowo Subianto dan Partai Gerindra akhir-akhir ini

Pilpres 2019 sudah di depan mata dan tahun politik pun telah dimulai. Jika pernyataan Deddy Mizwar tersebut di atas benar, Hal tersebut berarti Prabowo Subianto harus mencari cara lain untuk memperoleh bantuan dana yang mungkin saja berasal dari berbagai kalangan

Jangan sampai pernyataan Deddy Mizwar tersebut di atas membuat peluang Prabowo Subianto menjadi semakin kecil untuk maju dalam Pilpres 2019

Prabowo Subianto sendiri masih berambisi untuk kembali maju dalam Pilpres 2019 dan berhadapan dengan Joko Widodo (Jokowi) untuk kedua kalinya, namun hal tersebut mustahil bila tidak Prabowo Subianto memiliki dana yang cukup besar, ditambah lagi elektabilitas Prabowo Subianto jauh tertinggal dibandingkan Joko Widodo (Jokowi)

Mari kita sama-sama melihat kejutan apa lagi yang akan terjadi dalam tahun politik menuju Pilpres 2019

Benarkah Prabowo Bokek alias Kehabisan Uang ? Ini Penjelasannya

Sumber: http://pinterpolitik.com

Sumber : Prabowo Kehabisan Uang?



LINE it!

indonesiasatu

Website resmi One Indonesia Satu yang dimiliki Rudy Haryanto (Founder One Indonesia Satu dan WAG IDNEWS, praktisi blogging, Citizen Reporter Persatuan Pewarta Warga Indonesia, Freelance Writer UC We-Media) dan penulis di Kompasiana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: