Menyikapi Kepolisian Secara Bijak Dalam Penanganan Kasus

en.pdf24.org    Send article as PDF   

Dalam 3 tahun terakhir ini saya baru merasakan intensitas tinggi pembicaraan publik tentang agama di timeline media sosal.  Menariknya, diskursus yang dinarasikan lebih banyak soal agama, dibandingkan tema lain. Ekses-ekses dari pembicaraan itu tak jarang ke dunia nyata, yakni persekusi fisik dan pelaporan ke Polisi

Saya mencoba memahami posisi pihak Kepolisian dimana tiap hari menerima pelaporan tentang tuduhan penghinaan, fitnah di media sosial dari berbagai pihak. Alangkah sibuk dan pusingnya, para pelapor kebanyakan politisi dan tokoh masyarakat, mereka minta diproses cepat

Bila laporan tidak segera diproses, pelapor dari politisi Senayan dan pengurusan partai berteriak-teriak di media massa. Mereka menyatakan pihak Kepolisian “tebang pilih” dan lain-lain. Alangkah naifnya sikap itu, Polisi sebagai pelayan masyarakat juga melayani kasus – kasus lain, tak hanya kasus “gegeran” di media sosial

Seharusnya sama-sama bersikap bijak, kasus-kasus lain di dunia nyata juga banyak dan berdampak langsung di masyarakat, seperti kasus perampokan, pencurian, pemerkosaan, penculikan, pembunuhan

Tentunya kasus-kasus ini juga menjadi prioritas Polri. Bila mengutip data rasio polisi dan jumlah penduduk, saat ini Kepolisian masih kekurangan personil. Angka idealnya satu polisi melayani 350 ribu orang (1:350), faktanya 1:750 satu polisi melayani 750 orang




Bila ditelaah secara nalar, bagaimana seorang polisi harus memproses 750 laporan secara bersamaan, berapa waktu dihabiskan untuk menyelesaikannya ? Semua pelapor minta didahulukan, seorang Polisi dengan kercerdasan tinggi pun saya kira tak sanggup

https://platform.twitter.com/widgets.js

Terkuaknya kasus Saracen, MCA dan kasus yang berasal dari ranah media sosial dan internet acap kali menyudutkan Kepolisian secara tidak proposional. Seperti tuduhan Kepolisian merekayasa kasus, apa jadinya bila selalu berpikir negatif terhadap lembaga penegak hukum

Memang ada oknum – oknum polisi yang bertindak demikian, Kapolri sendiri mengakui dalam laporan kinerja tahunan Kepolisian tahun 2017. Dalam laporan itu, di tahun 2017 Kepolisian telah memecat 222 personil dengan tidak hormat. Artinya apa, Kepolisian sudah bersungguh – sungguh dalam meningkatkan layanan masyarakat meski dengan jumlah personil terbatas

https://platform.twitter.com/widgets.js

Kasus hukum soal agama memang sensitif, menimbulkan sentimen massal. Namun perlu dipahami juga, Kepolisian juga tak serta menetapkan status tersangka, ada metodologi dan SOP- nya. Memantau perkembangan kasus dan memberikan dorongan kepada Kepolisian agar cepat menyelesaikan adalah sikap paling bijak

Artikel ini juga saya tulis dan terbitkan di Kompasiana dengan judul “Menyikapi Kepolisian Secara Bijak Dalam Penanganan Kasus



Sigit Bud

Sigit Budi Cahyono ialah salah seorang kontributor di Kompasiana, UCNews, Kumparan dan One Indonesia Satu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: