Muslimin Presiden Alumni Sekolah Jesuit Ini Sebuah Contoh Kerukunan Beragam

PDF24    Send article as PDF   

Dalam sebuah acara diskusi yang dilakukan oleh lembaga survei opini publik, “Kedai Kopi” di bilangan Jalan Juanda Jakarta, saya bertemu berjumpa Haji Datuk Sweida Z. Ketika pembawa acara memperkenalkan sosok Haji Datuk sebagai Ketua Umum (Presiden) Asosiasi Alumni Jesuit Indonesia, saya tertarik untuk berbincang lebih dalam dengan Haji Datuk. Saya sedikit penasaran, dengan sosok Haji Datuk seorang Muslim yang menjadi Ketua Umum(Presiden) sebuah perkumpulan Alumni Sekolah Katholik Ordo Jesuit

Saat menyapa dan berkenalan dengan Haji Datuk, saya merasakan pribadinya yang ramah, humble dan bersahaja. Setelah berbincang – bincang lebih jauh, saya baru tahu Haji Datuk seorang pengusaha di bidang Radiologi pemegang principle sebuah perusahaan dari Jerman, Sarjana Hukum dari UGM 1977, alumni SMA Kolose De Britto Yogyakarta tahun 1973

Satu hal lagi, Haji Datuk adalah relawan militan dari Presiden Joko Widodo sejak mencalon diri sebagai Gubernur DKI Jakarta sampai menjadi RI I. Meski begitu, Haji Datuk ber-komitmen hanya mendukung Presiden Joko Widodo karena melihat sosoknya yang baik bagi Indonesia

Setelah hiruk – pikuk kontestasi politik di Pilkada dan Pilpres, Haji Datuk kembali menekuni aktifitas rutinnya sebagai pengusaha. Di sebuah restoran kawasan Duren Tiga, Pasar Minggu Jakarta saya berusaha menggali alasan – alasan dan harapannya untuk Indonesia, konteks-nya dalam tahun politik 2018 dan 2019, kenapa Presiden Joko Widodo harus 2 periode




Alasan mendukung Presiden Joko Widodo ?

Saya percaya Pak Jokowi orang baik, sejak awal mendukung mulai beliau mencalonkan sebagai Gubernur DKI Jakarta. Saya dan kawan-kawan sudah menjadi relawan secara militan dan terus – menerus. Karena keyakinan kami beliau itu orang baik, punya visi baik untuk pembangunan Jakarta waktu itu, dan sekarang untuk pembangunan Indonesia

Kenapa Pak Jokowi harus 2 periode ?

Kita harus berpikir untuk memberikan kesempatan kepada Pak Jokowi melanjutkan. Satu periode sudah pasti tidak cukup membangun Indonesia yang begitu tertinggal, terbelakang. Kita tahu bahwa sampai hari ini, selama puluhan tahun Indonesia Merdeka, pembangunan adanya di bagian barat. Bagian timur Indonesia sangat tertinggal, baru pada jaman Pak Jokowi inilah Indonesia timur mendapat perhatian lebih dari Indonesia bagian barat. Kita bisa melihat seperti apa sibuknya beliau membangun Papua dan sekitarnya

Kelebihan  dan kekurangan Pak Jokowi dengan Capres lain ?

Kelebihan Capres lain belum bisa kita jabarkan, kalau bicara yang potensial, terlalu banyak yang potensial. Paling tidak yang merasa dirinya potensial. Kalau kita melihat Pilpres lalu, hanya satu Capres potensial yaitu Pak Prabowo, atau orang yang akan dicalonkan Pak Prabowo. Calon lainnya belum ada, kalau pun ada yang mencalonkan dirinya itu hanya untuk “bergenit – genit” saja. Lebih tepatnya mereka menawarkan dirinya sebagai Cawapres. Siapapun Cawapres dari Pak Jokowi atau Pak Prabowo akan menjadi “putra mahkota” di Pilpres 2024.

Saya mengamati, alangkah indahnya kalau Pak Prabowo saat ini tidak perlu mengajukan dirinya, sehingga rakyat mempunyai alternatif lain. Sebab putra terbaik bangsa ini cukup banyak, Pak Prabowo sudah membuktikan kalau mendukung orang lain lebih berhasil daripada mencalonkan dirinya. ( Pak Jokowi dan Pak Anies sukses menjadi DKI Jakarta I antara lain karena didukung Pak Prabowo).

Mungkin kalau beliau mendukung orang lain menjadi presiden, “Insya Allah” akan lebih baik. Lebih “simpel” lagi, Pak Jokowi akan lebih hebat kalau Pak Prabowo yang mendukung juga sebagai Presiden yang akan datang. Indah sekali kalau Pak Jokowi didukug oleh Pak Prabowo

Kelebihan dan Kekurangan Pak Jokowi sebagai Presiden ?

Kelebihannya hanya satu, “simpel” sekali, dia itu pekerja. Pekerja keras itu kelebihan Pak Jokowi, dia tidak berbasa – basi, tidak suka segala macam protokoler, betul -betul dia seorang pekerja keras, dan sudah dibuktikan dengan baik sekali. Selama 3 tahun pertama ini seperti apa pembangunan Indonesia bagian timur dan seperti apa pembangunan yang diteruskan oleh Pak Jokowi. Dia melakukan pekerjaan yang tertinggal, mungkin ide – ide itu bukan murni dari Pak Jokowi, tapi dari Presiden-Presiden lalu

Sekarang Pak Jokowi yang melaksanakan dengan baik sekali. Presiden-Presiden terdahulu mungkin seorang “thinker” yang meletakan pemikiran, rencana tapi tidak ada eksekusinya. Sekarang Pak Jokowi mengeksekusi dengan sempurna dan baik. Soal kekurangan Pak Jokowi, setiap manusia ada kekurangannya, soal selera kita masing – masing mengomentarinya

Bermacam – macam orang komentar seperti beliau “ndheso” segala macam. Secara pribadi saya comfortable dengan gaya Pak Jokowi, saya menyukai gaya dia seperti itu saat ini, kekurangannya bagi saya sudah bisa saya eliminir

Potensi ancaman terhadap Pak Jokowi ?

Entah kenapa saya tidak habis pikir, masyarakat kita lebih suka bergunjing, orang rajin bergunjing daripada kerja, lebih suka mengatai orang kerja buat kita. Saya tidak habis pikir, kenapa rakyat kita senang melakukan hal – hal seperti itu, kenapa tidak bisa berpikir lebih positif, lebih baik untuk NKRI ini. Kita semua harus jujur seberapa besar tekanan terhadap Pak Jokowi

Apapun yang terjadi kita coba atas bersama-sama karena yang mereka lakukan masih dalam koridor warga negara. Haknya dilindungi oleh UU, kalau sudah melewati batas hukum, Presiden harus turun tangan. Bagaimanapun negara kita adalah negara hukum, selama berpegang pada hukum  Insya Allahsemua akan selamat untuk NKRI ini. Karena sangat sulit sekali menyatukan NKRI ini kala kita tidak mau berpikir bersama – sama. NKRI terdiri dari bermacam – macam suku, bahasa, itu harus kita satukan, itulah pesan dari para founding father kita

Cara yang baik mendukung Pak Jokowi ?

Selalu kita sampaikan kepada rakyat Indonesia bahwa Pak Jokowi orang baik, mau bekerja untuk kita semua. Tidak usah muluk – muluk, tidak usah macam – macam, kita buktikan saja. Tunjukkan bukti yang sudah dilakukan oleh Pak Jokowi dan jangan bosen – bosen terus – menerus menyampaikan hal itu secara baik. Kita tidak perlu mengikuti apa yang dilakukan oposisi kepada Pak Jokowi. Kita jangan ragu – ragu menyampaikan segala kebaikan, segala hasil kerja keras dari Pak Jokowi

Belajar dari sosok Datuk Sweida, bahwa agama tak menjadi halangan untuk berkiprah di organisasi / komunitas  agama yang berbeda, peruncingan perbedaan agama dan etnis  belakangan ini oleh politik praktis justru merusak hubungan komunitas sosial yang sudah terbangun puluhan tahun

Artikel ini juga saya tulis dan terbitkan di Kompasiana dengan judul “Datuk Sweida Sebuah Contoh Kerukunan Beragama, Muslimin Presiden Alumni Sekolah Jesuit



Sigit Bud

Sigit Budi Cahyono ialah salah seorang kontributor di Kompasiana, UCNews, Kumparan dan One Indonesia Satu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: