Inilah Benteng Terakhir HET Beras

www.pdf24.org    Send article as PDF   

Keberadaan warung kelontong yang menyediakan aneka kebutuhan sehari -hari mulai dari beras, gula, kopi, sabun mandi, sabun cuci rambut jumlahnya melebihi outlet ritel modern. Kelebihan outlet tradisional ini (lawan dari outlet ritel modern) pada kedekatan lokasi dengan perkampungan padat penduduk, meski kini outlet ritel modern juga mulai merangsek ke kawasan itu

Namun persyaratan pembukaan ritel modern yang ribet, mulai dari perijinan, standar luas tanah dan bangunan dan posisinya harus berhadapan dengan jalan bisa dilewati mobil dua arah menghambat pertumbuhannya. Beda dengan warung kelontong, di beberapa kawasan padat penduduk keberadaannya banyak ditemui, meski jalan di depannya hanya bisa dilewati oleh kendaraan bermotor satu arah atau orang

Fleksibilitas, inilah keunggulan warung kelontong, menurut databoks.katadata.co.id, di DKI Jakarta jumlah warung kelontong di tertinggi mencapai 50 ribu, wajar saja mengingat kepadatan dan jumlah penduduk juga tinggi di Ibukota dibandingkan provinsi lain. Meski saat ini jumlah warung ritel modern juga terus meningkat di Provinsi DKI Jakarta

Beberapa waktu lalau, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita melemparkan sebuah gagasan untuk merevitalisasi warung kelontong agar mampu bersaing dengan outlet ritel modern melalui modernisasi display dan pengantaran (delivery) barang, pembayaran secara online dan akses modal. Sayang masih tahap pilot project sehingga belum bisa dilihat kinerja dan efektifitasnya. Peran warung kelontong tak bisa diabaikan dalam distribusi barang kebutuhan pokok sehari-hari, pembeda utama dengan ritel modern adalah pembeli bisa beli kuantiti satuan dan kemasan terkecil (seperti shampo, sabun cuci, kopi sachet-an)

Relevansinya dengan HET beras, masyarakat lebih leluasa membeli beras di warung-warung kecil karena fleksibel dengan uang di kantong, misalnya punya uang 10 ribu pun bisa membeli setengah liter/ kg tanpa ongkos tamabahan, point adalah biaya transportasi. Meski harga kebutuhan pokok di pasar tradisional lebih murah daripada di warung kelontong menjadi mahal ketika komponen biaya transportasi ditambahakan

Apalagi bila belanja barangnya tidak signifikan volume dan kuantiti-nya. Pasar tradisional saat ini menjadi salah satu tolok ukur melihat fluktuasi harga kebutuhan pokok, termasuk beras. Memang cara paling mudah untuk menge-chek harga di lapangan adalah lewat indikator ini, namun perlu diingat kebanyakan pembeli di pasar ini untuk dijual lagi. Artinya masih ada kesenjangan (disparitas) harga saat barang sampai ke tangan pembeli rumahan, dimana setiap daerah berbeda kesenjangannya

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Kesenjangan Harga Beras dan Warung Kelontong

Dalam bayangan saya, disparitas harga ini tidak terlalu lebar di kota-kota besar dan Pulau Jawa, tapi bagaimana daerah terpencil di Papua, Maluku, Kalimantan, Sumatera, Nusa Tenggara ? Apalagi di daerah-daerah yang tidak termasuk dalam daftar lumbung padi nasional. Untuk memasok kebutuhan beras di sana pun perlu mendatangkan dari luar pulau, sudah pasti harga eceran teringgi (HET) di pasar tradisional wilayah tersebut tidak sama dengan di Pulau Jawa. Apalagi setelah beras tersebut dijual di warung-warung, bila lokasi warung masih dalam radius mudah dijangkau transportasi umum mungkin tak bemasalah, gawatnya bila tidak bisa dijangkau

Kita tidak dapat menutup mata geografi dan infrastruktur nasional masih jauh dari ideal, terbukti disparitas harga semen dan BBM eceran di Papua jauh lebih tinggi dibandingkan provinsi lain. Sayangnya soal harga beras eceran beras di warung-warung di Papua tidak ada yang memberitakan secara luas. Papua adalah contoh kasus bagaimana infrastruktur mempengaruhi harga eceran kebutuhan pokok, termasuk beras. Baru pada era Joko Widodo, pemerintah secara serius menggalang kekuatan negara dengan program “Satu Harga” yang berbasis pemerataan dan keadilan

Inilah Benteng Terakhir HET Beras

Sumber: https://smart-money.co

Kementerian Perdagangan memang sudah menerapkan sistim zonanisasi untuk HET beras yang diberlakukan tahun lalu. Dengan kebijakan ini, Kemendag berusaha mengontrol harga beras mulai wilayah timur hingga barat Indonesia dan menerapkan klasifikasi beras, yakni kelas medium dan premium. Kelas medium paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat luas, sudah semestinya HET lebih rendah dari kelas premium

Menteri Perdagangan menjamin, kebijakan itu merata dan bisa dipantau di pasar tradisional becek dan pasar ritel modern, seperti dilansir detik.com (01/09/2017), namun Enggartiasto melupakan peran warung kelontong dalam penetapan harga ini. Jumlah warung kelontong di Indonesia mencapai ratusan ribu, tentu lebih sulit mengontrol harga kebutuhan pokok di tiap warung dibandingkan dengan jumlah pasar modern dan tradisional

Inilah Benteng Terakhir HET Beras

Sumber: https://inipasti.com

Pasar modern ada 23.000 unit dan dari jumlah itu sebanyak 14.000 lebih di antaranya merupakan kelompok usaha minimarket, sedangkan sisanya adalah supermarket,” ujar Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Srie Agustina. Menurut Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri, jumlah pasar tradisional yaitu sebanyak 9.950 unit dan telah menyusut dibandingkan tahun 2007 yakni 13.450 (kemendagri.go.id 30/01/2017)

Kerawanan Sosial Kelangkaan Beras

Dalam tulisan ini, saya ingin mengatakan Kementerian Perdagangan perlu mengubah cara kerja berkait dengan distribusi dan monitoring lalu lintas (traffic) harga dan kertesediaan (stock) beras secara real time.Mengapa harus dilakukan ? Dengan perkembangan teknologi informasi, perkembangan stok dan HET beras dapat diketahui dari jam demi jam seperti halnya melihat layar graphic chart di bursa efek. Data-data lapangan ini mempermudah pengambilan kebijakan berkait dengan beras karena berbasis data yang mendekati pasti (valid), dibandingkan mengandalkan mesin birokrasi untuk mengumpulkannya

Sehingga kasus kelangkaan beras di Maluku Tenggara Barat (MTB) lalu tak perlu terjadi bila mempunyai metode antisipasi yang canggih dan efektif, sebab beras adalah barang kasat mata setiap perpindahan dari gudang sampai ke konsumen dan pergeseran harga menghasilkan data. Seperti dilansir intimnews.com, Bupati MTB, Petrus Fatlolon sempat membekukan dua distributor beras terbesar di sana selama dua minggu, ketika satgas pangan mengecek stok ke gudang ternyata stok beras memang habis

Lalu siapa yang bertanggung tanggung jawab atas kasus seperti ini, ribuan rakyat bisa kelaparan karena tidak bisa makan. Usut punya usut, kelangkaan stok beras di MTB karena Kapal Tol Laut tak lagi menyinggahi MTB, dan mereka harus menungu pasokan beras dari Surabaya

Selain soal harga beras, kelangkaan beras juga masih menghantui kawasan-kawasan kepulauan kecil di Indonesia dimana pasokan beras di wilayah tersebut bergantung dari luar pulau. Saya mencatat dua hal utama pekerjaan besar Kemendag ini, menyediakan stok beras secara merata di semua wilayah NKRI dan menjaga kestabilan harganya. Instrumen tehnologi digital bisa dimanfaatkan untuk pemantauan harga dan stok secara seketika (real time)

Sedangkan pemerataan stok dan ketersediaannya, Kemendag adalah pemegang kebijakan di sektor hilir perlu koordinasi lebih intensdengan stake holder beras lainnya, paling utama adalah Kementerian Pertanian yang menangani sektor hulu beras. Meski diakui masih ada ego sektoral antar kementerian dan lembaga dalam mewujudkan kehadiran negara dalam pekerjaan ini

Revitalisasi pasar tradisional dan warung kelontong memang sangat bermanfaat bila dipadukan dengan tehnologi digital dalam proses bisnisnya, Kemendag dan pemangku kepentingan lainnya juga perlu restrukturisasi tata niaga beras nasional agar lebih pendek mata rantai-nya. Tak kalah penting adalah melibatkan pemilik warung sebagai agen pengontrol stok dan harga beras dilapangan salah satu solusi mengantisipasi kenaikan harga beras di tingkat regional dan nasional. Warung kelontong adalah benteng pertahanan terakhir HET beras dan bahan pokok lainnya di tingkat konsumen

Artikel ini juga saya tulis dan terbitkan di Kompasiana dengan judul “Warung Kelontong, Benteng Terakhir HET Beras

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Sigit Bud

Sigit Budi Cahyono ialah salah seorang kontributor di Kompasiana, UCNews, Kumparan dan One Indonesia Satu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: