Seniman Internasional Ini Mengerti Makna Bhinneka Tunggal Ika Di Balik Kata Mutiara nya

PDF24    Send article as PDF   

Aku mencintaimu saat engkau sujud di mesjidmu, berlutut di pura mu, berdoa di gereja mu. Kau dan aku adalah anak-anak dari salah satu agama, dan itulah jiwa (I love you when you bow in your mosque, kneel in your temple, pray in your church. For you and I are sons of one religion, and it is the spirit).” –Khalil Gibran

Sebagian besar para pembaca mungkin telah mengetahui biografi Khalil Gibran dan sebelum melangkah lebih lanjut, kita akan membahas sedikit mengenai siapa Khalil Gibran sebenarnya

Seniman Internasional Ini Mengerti Makna Bhinneka Tunggal Ika Di Balik Kata Mutiara nya

Sumber: https://www.pinterest.com

Khalil Gibran adalah seorang seniman, penyair dan penulis terkenal yang dilahirkan di Basyari, Lebanon pada tanggal 06 Januari 1883 di lingkungan keluarga Katolik Manorit dan pada usia 10 tahun, Khalil Gibran pindah ke Boston, Massachusetts, Amerika Serikat bersama sang ibu (Kamilah) dan kedua adik perempuannya (Marianna dan Sultana)

Pada tahun 1899 Khalil Gibran kembali ke Lebanon dan melanjutkan pendidikan di College de la Sagasse Sekolah Tinggi Katolik Maronit sejak hingga 1902. Khalil Gibran meninggalkan tanah airnya lagi saat beliau berusia 19 tahun dan di Boston beliau menulis mengenai negeri Lebanon untuk mengekspresikan dirinya dan kelak hal tersebut justru memberikan dirinya sebuah kebebasan untuk menggabungkan dua pengalaman budaya yang berbeda menjadi satu

Antara bulan Maret dan Juni tahun 1903 sebuah tragedi telah menghancurkan keluarga Khalil Gibran, dimana Sultana yang saat itu berumur 15 tahun meninggal karena TBC, disusul dengan Peter (kakak Khalil Gibran yang menjadi seorang pelayan toko dan juga tumpuan hidup saudara-saudaranya) dan Kamilah (sang ibunda) juga meninggal karena penyakit TBC di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat

Khalil Gibran dan Marianna (adik perempuan beliau yang masih hidup) harus berusaha keras untuk menjaga kelangsungan hidup keluarga tersebut. Demi menyambung hidup mereka berdua, Marianna bekerja sebagai penjahit di Miss Teahan’s Gowns dan sebagian uang hasil menjahit tersebut digunakan untuk membiayai penerbitan tulisan-tulisan karya Khalil Gibran dan juga membiayai Khalil Gibran dalam meneruskan karier keseniman dan kesasteraan beliau

Pada tahun 1908 Khalil Gibran kembali singgah di Paris setelah sebelumnya beliau juga tinggal di Paris serta menulis drama pertamanya dari tahun 1901 hingga 1902. Khalil Gibran saat itu meneriman cukup uang secara rutin dari Mary Haskell (seorang wanita kepala sekolah yang berusia 10 tahun lebih tua, namun dikenal memiliki hubungan khusus dengan Khalil Gibran sejak dirinya masih tinggal di Boston)

Dari tahun 1909 hingga 1910 Khalil Gibran mengenyam pendidikan di School of Beaux Arts dan Julian Academy, lalu beliau kembali ke Boston dan mendirikan sebuah studio di West Cedar Street di bagian kota Beacon Hill serta mengambil alih pembiayaan keluarga beliau

Pada tanggal 10 April 1931 pukul 23:00 waktu setempat, Khalil Gibran meninggal dunia, karena menderita sirosis hati dan TBC, setelah pada pagi hari terakhir itu Khalil Gibran dibawa ke St. Vincent’s Hospital di Greenwich Village. Hari berikutnya Marianna mengirim telegram ke Mary Haskell di Savannah untuk mengabarkan kematian penyair internasional tersebut dan Mary Haskell pun menyempatkan diri untuk melayat jenazah Khalil Gibran yang kemudian dikebumikan pada tanggal 21 Agustus 1931 di Mar Sarkis (sekarang Gibran Museum) yang merupakan sebuah biara Karmelit tempat beliau pernah melakukan ibadah

Seniman Internasional Ini Mengerti Makna Bhinneka Tunggal Ika Di Balik Kata Mutiara nya

Sumber: http://elmediatoday.com



Salah satu kata mutiara yang ditulis Khalil Gibran tersebut di atas berbicara mengenai indahnya keberagaman, dimana ada kata “mesjid” yang merupakan representasi umat Muslim, “pura” yang merupakan representasi umat Hindu dan juga “gereja” yang merupakan representasi umat Kristen serta Katolik, bahkan kata “pura” itu sendiri dituliskan Khalil Gibran dalam bahasa Inggris dengan kata “temple” yang juga dapat dijadikan representasi umat Budha

Ironisnya, keberagaman yang digambarkan Khalil Gibran dalam kata mutiara tersebut di atas berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini, dimana keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila dirongrong oleh segala paham maupun bentuk radikalisme yang berakar pada intoleransi

Apa itu intoleransi ? Guntur Romli (salah seorang aktivis pejuang keberagaman yang juga salah seorang aktivis Nahdlatul Ulama (NU)) mengungkapkan bahwa intoleransi berarti tidak mau toleran terhadap perbedaan dan juga tidak mau toleran dengan orang lain. Pria yang pernah bergabung dalam Komunitas Kesenian dan Kebudayaan Utan Kayu (2005-2008) dan Komunitas Salihara (2008-2017) tersebut bahkan menjelaskan bahwa intoleransi menimbulkan kebencian dan ketika kebencian tersebut berkarat serta meningkat, kebencian akan menjadi permusuhan, radikalisme, ekstrimisme, separatisme, teroris dan juga peperangan

Intoleransi menimbulkan kebencian, karena orang tidak mau toleran terhadap perbedaan, tidak mau toleran dengan orang lain. Ketika kebencian itu, berkarat, meningkat, maka dia akan menjadi permusuhan. Dia akan jadi radikalisme, dia akan menjadi ekstrimisme, menjadi separatisme, menjadi teroris, menjadi peperangan. Jadi segala ketidakaturan, segala yang menolak kedamaian, itu akarnya adalah intoleransi,” jelas salah satu pendiri organisasi Garda Satwa Indonesia (GSI) yang peduli terhadap hak-hak dan kesejahteraan satwa sejak tahun 2012 tersebut, sebagaimana dilansir dari One Indonesia Satu (17/09/2017)

Lebih parahnya lagi, intoleransi yang melahirkan segala paham maupun tindakan radikalisme dan yang dapat menghancurkan kedaulatan salah satu negara di wilayah Khatulistiwa tersebut tersebut justru dilakukan justru oleh sesama anak bangsa dan hal tersebut menggenapi salah satu prediksi Bung Karno yang menyatakan, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah. Perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.

Seniman Internasional Ini Mengerti Makna Bhinneka Tunggal Ika Di Balik Kata Mutiara nya

Sumber: https://www.instagram.com/rudyharyanto77

Seniman internasional sekelas Khalil Gibran justru sangat memahami makna Bhinneka Tunggal Ika, meski saat beliau hidup, saya yakin beliau tidak mengenal istilah tersebut, namun bangsa Indonesia yang notabene memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika justru tidak menghargai keberagaman yang merupakan salah satu anugerah Tuhan terindah bagi Indonesia yang sama-sama kita cintai, dimana sejumlah aksi kekerasan yang dilakukan kelompok radikal membuktikan bahwa bangsa Indonesia belum sepenuhnya memaknai Bhinneka Tunggal Ika dengan semestinya

Seniman Internasional Ini Mengerti Makna Bhinneka Tunggal Ika Di Balik Kata Mutiara nya

Sumber: http://www.bbc.com

Sangat miris bila bangsa Indonesia yang notabene memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika harus kembali mempelajari makna Bhinneka Tunggal Ika kepada seniman internasional sekelas Khalil Gibran yang justru sangat mengerti makna Bhinneka Tunggal Ika, meski beliau sama sekali tidak pernah mendengar semboyan tersebut semasa hidupnya

Mari kita sebagai sesama anak bangsa kembali kepada makna Bhinneka Tunggal Ika yang juga menjadi jiwa bangsa Indonesia yang telah tertanam ratusan tahun di bumi Ibu Pertiwi. Masa kita kalah sama Khalil Gibran yang sangat mengerti makna keberagaman yang ada dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika ? Khalil Gibran saja mengerti dan juga sangat menghargai keberagaman umat beragama, masa kita sebagai sesama anak bangsa Indonesia tidak dapat menghargai keberagaman umat beragama dan juga suku, ras serta golongan ? Alangkah baiknya jika kita semua kembali bercermin dan merenungkan apa yang selama ini telah kita perbuat kepada suku, ras, agama dan golongan yang tidak sama dengan kita, lalu kembalilah kepada makna Bhinneka Tunggal Ika sebagai jiwa bangsa Indonesia yang telah tertanam ratusan tahun lamanya

LAWAN INTOLERANSI !!! LAWAN RADIKALISME !!!

SALAM SOLIDARITAS !!!

Seniman Internasional Ini Mengerti Makna Bhinneka Tunggal Ika Di Balik Kata Mutiara nya

Sumber: http://rri.co.id

Artikel ini juga saya tulis dan terbitkan di blog Rudy Haryanto dengan judul “Seniman Internasional Ini Mengerti Makna Bhinneka Tunggal Ika Di Balik Kata Mutiara nya



Lay Cao Lay

Lay Cao Lay seringkali membaca buku-buku mengenai blogging di Toko Buku Gramedia dan seiring waktu, pengetahuan blogging Lay Cao Lay semakin meningkat dan beliau juga berharap ke depannya akan ada banyak blogger yang mendulang penghasilan dari kegiatan blogging yang ditekuni mereka. Lay Cao Lay saat ini menjadi salah seorang penulis artikel di blog Rudy Haryanto (blog yang dimiliki Founder One Indonesia Satu dan WAG IDNEWS) dan juga website One Indonesia Satu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: