Inilah Bukti Jokowi Kredibel dan Prudent Kelola Utang

PDF24    Send article as PDF   

Sebagaimana telah diketahui bersama, kualitas utang Indonesia kembali mendapat penilaian, dimana lembaga pemeringkat Moody’s Investor Service (Moody’s) meningkatkan Sovereign Credit Rating (SCR) Republik Indonesia dari Baa3/Outlook Positif menjadi Baa2/Outlook Stabil setelah Moody’s Investor Service (Moody’s) memperbaiki outlook Sovereign Credit Rating (SCR) Republik Indonesia dari Stable menjadi Positive serta sekaligus mengafirmasi rating pada Baa3 (Investment Grade) pada tanggal 08 Februari 2017

Menanggapi hal tersebut, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengungkapkan bahwa kenaikan tersebut membuktikan Pemerintah dan Bank Indonesia sangat kredibel mengelola utang

Ini menjadi bukti bahwa Presiden Jokowi kredibel dan pruden dalam mengelola utang,” ujar Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bidang Ekonomi dan Bisnis Rizal Calvary M, sebagaimana dilansir tribunnews (14/04/2018)

Rizal Calvary M menjelaskan bahwa kenaikkan tersebut merupakan cerminan kredibilitas penyelenggara kebijakan terkait utang dan efektif mendorong stabilitas makro ekonomi

Ini yang menilai positif Moody’s, bukan kami, bahwa pemerintahan sebelumnya sampai pemerintahan Jokowi-JK mampu menjaga defisit fiskal di bawah batas 3 persen sejak 2003. Defisit dapat dipertahankan di level rendah dan didukung oleh pembiayaan yang bersifat jangka panjang dapat menjaga beban utang tetap rendah sehingga mengurangi kebutuhan dan risiko pembiayaan,” lanjut Rizal Calvary M, sebagaimana dilansir bisnis.com (14/04/2018)




Lebih lanjut, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) juga mengapresiasi kinerja Bank Indonesia (BI) yang mampu menjalankan tugasnya di wilayah moneter, sehingga stabilitas makro ekonomi terjaga dengan baik

Ada kebijakan nilai tukar yang fleksibel, berkat kerjasama yang cantik antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dan BI, inflasi terjaga di level yang cukup rendah dan stabil,” pungkas Rizal Calvary M, sebagaimana dilansir bisnis.com (14/04/2018)

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menilai bahwa saat ini kondisi keseimbangan primer (primary balance) Indonesia terus membaik

Memang dalam primary balance, pendapatan dengan pengeluaran pemerintah masih defisit. Defisit itu biasa, hanya sedikit negara yang enggak defisit, sehingga pemerintah mencari utangan untuk menutupi itu. Yang penting kondisinya terus membaik dan terkelola dengan baik,” papar Rizal Calvary M, sebagaimana dilansir suara.com (14/04/2018)

Sebagaimana diketahui, sebagian besar negara mengalami defisit anggaran, diantaranya China yang mengalami defisit anggaran 2,74 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), India sebesar 7,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), Malaysia sebesar 3,03 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), Vietnam sebesar 6,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), Polandia sebesar 2,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), Argentina sebesar 7,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan Kolombia sebesar 2,84 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB)

Jadi defisit kita aman 3 persenan, Bahkan Qatar negara kaya minyak defisit sampai 10 persen. Norwegia 5 persen, Brasil 10 persen,” beber Rizal Calvary M, sebagaimana dilansir tribunnews (14/04/2018)

Menurut Rizal Calvary M, saat ini banyak pihak hanya melihat utang dari nominalnya saja

Ini cara pandang yang sesat, tidak melihat utang dari progresifitas dan kapasitas ekonomi. Ini seperti anak SD melihat utang ayahnya atau utang perusahaan ayahnya. Kaget-kaget dia. Jadi, ukurannya adalah PDB,” jelas Rizal Calvary M, sebagaimana dilansir bisnis.com (14/04/2018)

Rizal Calvary M juga mengungkapkan bahwa rasio utang tertinggi atas PDB pernah terjadi di masa pemerintahan Presiden RI ke-6 Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dimana nilai utang pemerintah saat itu sebesar Rp 1.232,8 triliun dengan rasionya menjadi 88,7 persen terhadap PDB

Sudah sebesar 88,7 persen terhadap PDB, toh juga tidak seribut zaman Pak Jokowi yang hanya 27 persen atas PDB. Setelah masa itu, rasio utang pemerintah atas PDB mengalami tren penurunan. Sampai saat ini masih dibawah 30 persen. Rasio utang saat Pak Harto lengser sebesar 57,7 persen dari PDB, dilanjutkan zaman Pak Habibie menjadi 85,4 persen atas PDB. Bandingkan dengan saat ini yang hanya 27 persen,” tutup Rizal Calvary M, sebagaimana dilansir suara.com (14/04/2018)





indonesiasatu

Website resmi One Indonesia Satu yang dimiliki Rudy Haryanto (Bacaleg DPR RI dapil Jawa Tengah 3 dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Founder One Indonesia Satu dan WAG IDNEWS, praktisi blogging, Citizen Reporter Persatuan Pewarta Warga Indonesia, Freelance Writer UC We-Media) dan penulis di Kompasiana)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: