Inilah Kegelisahan yang Dialami Sutradara Film Prenjak Wregas Bhanuteja

Create PDF    Send article as PDF   

Sebagaimana telah diketahui bersama, dalam sebuah diskusi bersama para mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta pada hari Senin tanggal 14 Mei 2018, sineas muda Indonesia Wregas Bhanuteja menceritakan tekanan yang dialami dirinya saat ingin membuat film yang sesuai idealisme atau mengikuti selera pasar dan juga memproduksi film sarat makna atau artistik serta unik

Dalam kelompok diskusi yang disebut Sindikat Senen tersebut Wregas Bhanuteja menangkap kesan bahwa konsumen film Indonesia cenderung menyukai film populer dengan efek yang spektakuler

Orang Indonesia belum cukup tahan dan siap menonton film-film sarat makna dan pesan atau yang biasa orang sebut film mikir,” ujar penerima penghargaan Film Pendek Terbaik di 55th Semaine de la Critique Cannes Film Festival 2016 berjudul Prenjak (In the Year of Monkey)




Wregas Bhanuteja memahami bahwa kecenderungan tersebut mengingat usia perfilman di Indonesia belum setua perfilman Hollywood atau Eropa. Keprihatinan beliau ternyata juga dimiliki oleh para sineas yang sealiran dengan Wregas Bhanuteja dan yang dalam filmnya lebih mengedepankan makna dan pesan ketimbang efek visual yang menakjubkan. Meski demikian, Wregas Bhanuteja tentu tidak dapat memaksa orang Indonesia untuk menyukai film-film seperti itu, sehingga Wregas Bhanuteja lebih memilih menawarkan filmnya tersebut ke luar negeri. Film-film karya Wregas Bhanuteja ternyata lebih diminati penonton dan diapresiasi, dimana hal tersebut dibuktikan lewat penghargaan prestisius diperoleh Wregas Bhanuteja dalam Festival Film Cannes 2016

Meski demikian, tidak selamanya Wregas Bhanuteja akan terus-menerus memasarkan film ke luar negeri, dimana beliau bermimpi bahwa suatu hari nanti dirinya membuat film sarat makna yang dapat diterima dan diapresiasi di negeri sendiri

Bukan hal mudah, tetapi bukan berarti tidak mungkin,” tutup Wregas Bhanuteja

Sebagai info tambahan, ada enam film yang diputar mengawali diskusi Sindikat Senen tersebut, dimana acara tersebut menayangkan tiga film karya Wregas Bhanuteja antara lain Lemantun, Lembusura dan Prenjak serta tiga film pendek pemenang Lomba Video Pendek Dies Natalis ke-49 Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta





indonesiasatu

Website resmi One Indonesia Satu yang dimiliki Rudy Haryanto (Caleg DPR RI dapil Jawa Tengah 5 dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Founder One Indonesia Satu dan WAG IDNEWS, praktisi blogging, Citizen Reporter Persatuan Pewarta Warga Indonesia, Freelance Writer UC We-Media) dan penulis di Kompasiana)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: