Amien Rais Lebih Pantas Disebut Bapak Pengkhianat Reformasi, Ini Alasannya

www.pdf24.org    Send article as PDF   

Sebagian besar para pembaca pasti mengetahui bahwa dalam banyak kesempatan, para pendukung Amien Rais seringkali menyebut beliau sebagai Bapak Reformasi, namun fakta menujukkan bahwa banyak aktivis di Jogja yang muak dengan perilaku Amien Rais sejak tahun 1997 (saat gelombang reformasi belum membesar), dimana saat itu para mahasiswa yang lebih dulu turun jalan sering meminta Amien Rais untuk menyampaikan orasi dukungan dalam rangka menuntut Soeharto turun, namun Amien Rais menolak

Amien Rais baru mau memenuhi permintaan para mahasiswa tersebut ketika demonstrasi membesar, dimana beliau ikut turun ke jalan layaknya pahlawan kesiangan dan seolah paling suci, Amien Rais sering menuntut pembersihan Soeharto dan kroni-kroninya yang disebut sarat praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN)

Lebih lanjut, para aktivis 98 juga beramai-ramai menyebut Amien Rais sebagai pengkhianat reformasi, karena manuver politik beliau yang hanya menumpangi gerakan massa dan mahasiswa, lalu membelokkan demi kepentingan pribadi semata-mata, bahkan seorang purnawirawan senior dan mantan Wakil Presiden RI, yaitu Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, juga menyebut Amien Rais sebagai pengkhianat, karena Amien Rais dinilai gagal mengawal mandat kedaulatan pada UUD ’45

Pertanyaannya ialah layakkah Amien Rais dijuluki Bapak Reformasi ? Dalam artikel ini kita akan kupas tuntas mengenai apa yang dilakukan oleh Amien Rais (yang dijuluki Bapak Reformasi oleh para pendukung beliau) beserta keluarganya, agar pertanyaan tersebut dapat terjawab

1) Benarkah Amien Rais bersungguh-sungguh menuntut pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) ?

Sebagian besar para pembaca pasti mengetahui bahwa reformasi tahun 1998 bergulir seiring dengan muak nya rakyat terhadap rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto yang sarat akan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Saat itu, bak pahlawan kesiangan, Amien Rais ikut turun ke jalan dan menuntut pembersihan Soeharto serta kroni-kroninya yang sarat praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN)

Meski demikian, fakta menunjukkan bahwa:

a) Amien Rais tidak anti korupsi, dimana dalam kasus korupsi pengadaan alat kesehatan dengan terdakwa mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, Jaksa KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) menyebut adanya aliran dana sebesar Rp 600 juta ke rekening Amien Rais

Meski Amien Rais mengelak bahwa transfer dana tersebut berasal dari Ketua Umum PAN (Partai Amanat Nasional) saat itu, yaitu Sutrisno Bachir, namun Amien Rais sendiri tidak menampik bahwa dirinya menerima aliran uang tersebut dan jika kasus tersebut dilanjutkan, sangat mungkin ditemukan bukti bahwa Amien Rais memang terlibat

Amien Rais Lebih Pantas Disebut Bapak Pengkhianat Reformasi, Ini Alasannya

Sumber: https://www.liputan6.com

b) Ketika Amien Rais dipanggil oleh penyidik Polda Metro Jaya pada tanggal 10 Oktober 2018 terkait kasus penyebaran berita hoaks Ratna Sarumpaet, beliau datang dengan dikawal massa dari Persaudaraan Alumni (PA) 212, meski klaim 500 massa yang Amien Rais sebut tersebut tidak terbukti, karena yang datang hanya segelintir orang

Selain itu, Amien Rais juga berkoar-koar akan membongkar kasus lainnya yang melibatkan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dan ternyata Amien Rais meminta agar Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mencopot Kapolri Jenderal Tito Karnavian tanpa alasan yang jelas

Yang dilakukan Amien Rais tersebut merupakan bentuk kolusi, dimana upaya barter kasus yang Amien Rais gulirkan tersebut bertujuan agar kasus yang beliau hadapi tersebut tidak berlanjut. Selain itu, dukungan massa dari Persaudaraan Alumni (PA) 212 tersebut juga merupakan kode bahwa Amien Rais akan mengerahkan massa jika kasus hukum beliau dilanjutkan

Amien Rais Lebih Pantas Disebut Bapak Pengkhianat Reformasi, Ini Alasannya

Sumber: https://kumparan.com/@kumparannews

c) Kalau para pembaca menengok catatan mengenai anak-anak Amien Rais saat ini, kita dapat mengetahui bahwa ternyata empat dari lima anak-anak Amien Rais tersebut maju semua sebagai calon legislatif dari PAN (Partai Amanat Nasional), yaitu Hanafi Rais dan Mumtas Rais yang maju sebagai caleg DPR RI serta Hanum Rais dan Baihaqi Rais yang maju sebagai caleg DPRD

Hal tersebut menunjukkan bahwa anti nepotisme merupakan salah satu lelucon Amien Rais yang paling garing, dimana selama ini Amien Rais sangat getol dalam mencari celah untuk menambal penghidupan anak-anak beliau

Amien Rais Lebih Pantas Disebut Bapak Pengkhianat Reformasi, Ini Alasannya

Sumber: https://twitter.com/joxzin_jogja



2) Apakah kelakuan anak-anak Amien Rais mencerminkan semangat reformasi yang diinginkan rakyat selama ini ?

Sebagian besar para pembaca pasti mengetahui pepatah “Buah tidak jauh dari pohonnya” dan kali ini, kita akan melihat kelakuan anak-anak Amien Rais

a) Mumtas Rais

Syariful dan Ahmad Amri mungkin tidak akan lupa dengan kejadian di tahun 2014, dimana mereka berdua ialah staf Bawaslu DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) yang mengantarkan surat ke rumah Amien Rais pada tanggal 28 Juni 2014, terkait laporan pelanggaran kampanye oleh Amien Rais yang kala itu diduga menumpangi acara pengajian di kampus UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) untuk agenda kampanye beliau

Syariful dan Ahmad Amri saat itu diusir oleh Mumtas Rais (anak ketiga Amien Rais), dimana setelah mengetahui bahwa surat tersebut berisi pemanggilan, Mumtas Rais langsung mengusir kedua petugas Bawaslu DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) tersebut, bahkan mereka berdua diminta pergi sambil menuntun motor mereka

Menurut laporan staf yang antar surat panggilan ke rumah Amien Rais ada insiden pengusiran. Staf kami diusir dan motornya harus dituntun keluar dari pekarangan rumahnya,” ungkap Sri Rahayu, sebagaimana dilansir Liputan6.com (27/06/2014)

Kejadian tidak mengenakan lainnya yang dilakukan oleh Mumtas Rais terjadi pada tahun 2010, dimana saat itu Mumtas Rais membentak polisi yang akan menilang Mumtas Rais, karena melanggar lalu lintas

Sebenarnya ada banyak cerita busuk lainnya terkait kelakuan Mumtas Rais yang sengaja bersikap arogan sambil mengasong nama keluarga Rais tersebut dan Amien Rais paham dengan kelakukan anaknya tersebut, namun sang ayah membiarkan saja

b) Hanafi Rais

Amien Rais yang saat itu mendapat tekanan dari kiri-kanan terkait kelakukan Mumtas Rais tersebut akhirnya tidak mengusung Mumtas Rais lagi sebagai caleg DPR RI dari PAN (Partai Amanat Nasional) dalam Pemilu 2014 dan sebagai gantinya, Amien Rais mendorong anak sulungnya, yaitu Hanafi Rais, sebagai caleg DPR RI dari PAN (Partai Amanat Nasional)

Dari sisi pembawaan, Hanafi Rais memang lebih kalem dibanding Mumtas Rais, apalagi saat itu Hanafi Rais barusaja kalah dalam Pilwakot Jogja 2011, sehingga beliau butuh panggung politik baru. Meski demikian, kelakuan Hanafi Rais tak kalah buruknya dibanding dengan Mumtas Rais, dimana dalam kampanye Pemilu Legislatif 2014, Polres Gunung Kidul menyita dua karung uang sebesar Rp 510 juta yang dibawa timses Hanafi Rais

Sebelumnya, Hanafi Rais gagal memenangkan kursi walikota dalam Pilwakot Jogja 2011, namun kalah bukan berarti rugi, dimana orang-orang yang terlibat dalam Pilwakot Jogja 2011 cukup paham bahwa Hanafi Rais memiliki saldo cukup besar, meski beliau kalah dalam Pilwakot Jogja 2011, yaitu tak kurang dari Rp 10 miliar (menurut sumber yang dapat dipercaya dan sisa dana tersebut dia gunakan sebagai modal pencalegan dalam Pemilu 2014

Pada tahun 2011 Amien Rais menggunakan pengaruh beliau sebagai Ketua Majelis Pertimbangan PAN (Partai Amanat Nasional) untuk melakukan lobi-lobi terhadap koalisi pemerintahan yang waktu itu dipimpin oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama Koalisi Indoesia Bersatu II (KIB II), sehingga Amien Rais berhasil mengumpulkan dana segar untuk mendanai pencalonan Hanafi Rais dalam Pilwakot Jogja 2011, namun Hanafi Rais gagal menjadi walikota

Masyarakat Jogja saat itu tidak memilih Hanafi Rais dalam Pilwakot 2011, karena mereka muak dengan sikap dan tindakan Hanafi Rais beserta keluarga, dimana Amin Rais yang arogan, kemaki dan kemlinthi tersebut sama sekali tidak mencerminkan kepribadian warga Jogja

c) Hanum Rais

Setelah Muntas Rais dan Hanafi Rais, mari kita bongkar kelakuan Hanum Rais, dimana Hanum Rais mencuri perhatian publik dengan akting hoax beliau bersama Ratna Sarumpaet, dimana saat drama hoaks penganiayaan Ratna Sarumpaet belum terungkap, Hanum Rais dengan akting nya yang emosional tersebut menyebut Ratna Sarumpaet sebagai Cut Nyak Din masa kini yang akan mengilhami perjuangan para perempuan di Indonesia. Selain itu Hanum Rais, lewat akun Twitter beliau, juga menyebut bahwa Ratna Sarumpaet dianiaya dan diintimidasi sekelompok orang yang mengancam akan menghabisi Ratna Sarumpaet hingga anak cucunya jika beliau melapor ke polisi

Dalam berbagai pernyataan Hanum Rais, beliau menggiring opini, seolah pemerintah adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas penganiayaan tersebut Ratna Sarumpaet dan hal tersebut dilakukan oleh Hanum Rais bersama gerombolah Prabohong untuk menggiring opini publik agar menyalahkan pemerintah

Setelah hoax terkait Ratna Sarumpaet terungkap, tanpa merasa malu Hanum Rais mengaku bahwa dirinya dibohongi dan hal tersebut ironis, karena beliau mengaku bahwa sebelumnya, dirinya telah mengecek langsung wajah Ratna Sarumpaet dan menyimpulkan bahwa itu semua korban penganiayaan. Hanum Rais sendiri menempuh pendidikan kedokteran di UGM (Universitas Gadjah Mada), sehingga beliau seharusnya memahami prosedur umum diagnosis trauma fisik yang sangat-sangat menentukan prosedur medik yang akan ditempuh dan jika diagnosis trauma fisik terebut dilakukan serampangan, prosedur pengobatan dapat menyimpang dan juga dapat berdampak fatal terhadap pasien. Untunglah Hanum Rais tidak membuka praktek kedokteran, karena betapa riskan nya seorang pasien bila ditangani oleh dokter seperti Hanum Rais

d) Baihaqi Rais

Satu lagi yang akan kita bongkar ialah drama keluarga Amien Rais yang tidak berbau politik, namun sempat menjadi pergunjingan publik, yaitu Baihaqi Rais (anak bungsu Amien Rais) yang menikah dengan Selmadena secara siri pada tanggal 27 Agustus 2016, kemudian dilanjutkan dengan pernikahan resmi pada bulan Maret 2017, dimana Baihaqi Rais ternyata merebut Selmadena dari pacar lama nya yang telah menjalin hubungan 6 tahun, yaitu dengan memanfaatkan posisi LDR (Long Distance Relationship) atau pacaran jarak jauh Selma dengan pacar lamanya yang saat itu tengah menepuh pendidikan Akademi Kepolisian

Amien Rais Lebih Pantas Disebut Bapak Pengkhianat Reformasi, Ini Alasannya

Sumber: https://www.twitter.com/joxzin_jogja

3) Reaksi masyarakat sekitar

Saat ini banyak tokoh dan warga yang mulai muak dengan perilaku Amien Rais beserta keluarga beliau, diantaranya kejadian pada tanggal 08 Oktober 2018, dimana sejumlah seniman di Yogyakarta yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Anti Hoax (Gerah) melarung tokoh wayang Sengkuni di Pantai Parangkusumo, Bantul, Jogjakarta

Koordinator Gerakan Rakyat Anti Hoax (Gerah), yaitu Anter Asmorotejo, menjelaskan bahwa belakangan ini masyarakat dihebohkan dengan kebohongan Ratna Sarumpaet yang mengaku dianiaya dan disebarluskan oleh sejumlah tokoh

Salah satunya dari tokoh yang dianggap reformis dari Yogyakarta. Bersama salah seorang putrinya, (tokoh tersebut) telah menyampaikan pernyataan tidak benar dan tidak terpuji ke publik melalui media maupun media sosial sebelum akhirnya meminta maaf,” ungkap Anter Asmorotejo, sebagaimana dilansir news.detikcom (8/10/2018)

Amien Rais Lebih Pantas Disebut Bapak Pengkhianat Reformasi, Ini Alasannya

Sumber: https://news.detik.com

Kita akan mengakhiri artikel ini dengan sebuah kesimpulan bahwa Amien Rais tidak layak dijuluki Bapak Reformasi, apalagi seorang purnawirawan senior dan mantan Wakil Presiden RI, yaitu Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, bahkan menyebut Amien Rais sebagai pengkhianat, karena Amien Rais dinilai gagal mengawal mandat kedaulatan pada UUD ’45

Amien Rais Lebih Pantas Disebut Bapak Pengkhianat Reformasi, Ini Alasannya

Sumber: infoteratas.com

Rasanya Amien Rais lebih pantas dijuluki Bapak Pengkhianat Reformasi, karena manuver politik beliau yang hanya menumpangi gerakan massa dan mahasiswa, lalu membelokkan demi kepentingan pribadi semata-mata pada tahun 1998 dan juga menggunakan pengaruh beliau sebagai Ketua Majelis Pertimbangan PAN (Partai Amanat Nasional) hanya demi kepentingan pribadi dan keluarga semata-mata

 

View this post on Instagram

 

Detik-detik Sengkuni disuruh pulang ke dunia wayang, agar tidak menggangu Indonesia

A post shared by Rudy Haryanto (@rudyharyanto77) on

Untuk info selengkapnya, silahkan baca kultwit berjudul “Mengurai Dinasti Politik Penghianat Reformasi Bernama: Amien Rais” yang ditulis oleh akun Twitter @joxzin_jogja di bawah ini




One Indonesia Satu

Website resmi One Indonesia Satu yang dimiliki Rudy Haryanto (Caleg DPR RI dapil Jawa Tengah 5 dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Founder One Indonesia Satu dan WAG IDNEWS, praktisi blogging, Citizen Reporter Persatuan Pewarta Warga Indonesia, Freelance Writer UC We-Media) dan penulis di Kompasiana)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: