Retorika Boleh, Program Jangan Ditinggalkan

www.pdf24.org    Send article as PDF   

Bagi sebagian orang mungkin akan menertawakan komentar Sandi dan Prabowo, seperti pernyataan ekonomi kebodohan, tempe setebal kartu kredit, makan nasi ayam di Singapura lebih murah, dll

Saya mencoba mencermati pernyataan-pernyataan tersebut di atas yang beredar luas di media sosial dan media online. Sebenarnya pernyataan-pernyataan itu sebuah penyederhanaan (simplifikasi) realitas yang dikemas lewat sebuah pesan (message) kampanye

Metode komunikasi seperti ini jamak dilakukan oleh oposisi untuk mengkritik petahana dengan memainkan sentimen kebutuhan hidup dasar (basic needs) masyarakat untuk menggalang simpati dan dukungan untuk gerakan

Biasanya sentimen yang dimainkan adalah perasaan cemas karena tak bisa membeli bahan pangan, kehilangan pendapatan karena menganggur. Tak heran bila isu soal beras, serbuan TKA Cina, kenaikan tarif dasar listrik, kenaikan BBM selalu menjadi “gorengan” politik yang renyah untuk dikunyah

Pada tahun 1966 muncul jargon Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura) isi tuntutan berkait dengan kebutuhan pokok adalah “Turunkan Harga“. Pada tahun 1998 juga mengemuka Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN) sebagai tuntutan pemersatu gerakan penentang rezim Orde Baru

Narasi yang dibangun saat itu rezim Orba memperkaya diri sendiri dan kroninya sehingga rakyat sengsara tedampak krisis moneter global, akibatnya pengangguran dan harga kebutuhan pokok naik

Topik tentang lapangan kerja, harga sembilan bahan kebutuhan pokok, energi, kemiskinan menjadi tema aktual dalam setiap kontestasi politik. Selain itu, sentimen keagamaan juga menjadi bahan bakar politik yang efektif untuk menarik dukungan massa pemilih




Pada satu sisi metode ini terlihat sebagai pembodohan atau penyesatan nalar (logical fallacy), namun faktanya pesan-pesan seperti itu yang paling mudah dicerna nalar dibandingkan angka-angka statistik. Faktanya, daya serap akar rumput tidak secanggih yang kita bayangkan

Pilihan “frasa” kampanye politik menjadi penting dalam memenangkan dukungan politik. Mengingat heterogenitas publik secara vertikal dan horizontal, komunikator oposisi akan memilih pesan yang bisa diserap nalar semua kelas sosial dengan substansi kontra kebijakan petahana. Narasi-narasi itu terwakili dalam pesan-pesan kampanye oposisi seperti : harga BBM mahal, Beras mahal, Listrik mahal, Tarif Tol Mahal

Untuk menghadang serbuan narasi-narasi kontra dari oposisi, petahana seyogyanya merumuskan pernyataan-peryataan yang singkat, rasional dan membangkitkan sentimen positif dalam setiap tatap muka dengan publik atau media

Rezim Joko Widodo dengan masa kerja sampai hari ini memang belum sempurna, namun pondasi-pondasi ekonomi sudah mulai dibangun untuk kemajuan Indonesia. Sangat disayangkan bila Indonesia diperintah oleh rezim yang pandai beretorika tapi hasil nihil

Kita tunggu program-program oposisi, seperti pernah dikemukakan Presiden Joko Widodo yang mengajak adu gagasan dan program, bukan adu retorika belaka

Artikel ini juga saya tulis dan terbitkan dalam Kompasiana dengan judul “Retorika Boleh, Program Jangan Ditinggalkan




Sigit Bud

Sigit Budi Cahyono ialah salah seorang kontributor di Kompasiana, UCNews, Kumparan dan One Indonesia Satu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: