3 Parpol Ini Tak Serius Dukung Prabowo-Sandi (BoSan)

www.pdf24.org    Send article as PDF   

Sebagian besar para pembaca mungkin pernah mendengar lagu “100 Years” yang dinyanyikan oleh Five for Fighting (nama panggung yang dimiliki oleh Vladimir John Ondrasik III), dimana lagu yang dinyanyikan oleh seorang penyanyi dan penulis lagu asal Amerika Serikat tersebut menyebut usia 67 tahun sebagai masa senja dan juga saatnya orang menjadi bijak. Meski demikian, lagu tersebut kelihatannya tidak berlaku untuk Prabowo Subianto yang memasuki usia ke-67 pada tanggal 17 Oktober 2018, namun masih sibuk dengan ambisi politik beliau dalam Pilpres 2019

Survei yang dilakukan oleh Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada tanggal 07-14 September 2018 terhadap 1.220 responden dengan response rate 1.074 responden menunujukan bahwa Joko Widodo (Jokowi) memiliki elektabilitas 60,2%, Prabowo Subianto memiliki elektabilitas 28,7% dan 11,1% responden tidak tahu atau tidak menjawab

Dalam simulasi dua nama capres, Jokowi unggul atas Prabowo,” ungkap Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Djayadi Hanan, sebagaimana dilansir news.detik.com (07/10/2018)

Survey tersebut membuat Prabowo-Sandi (BoSan) menjadi pesakitan dalam Pilpres 2019, karena mereka berdua bukanlah figur yang kuat untuk bersaing dengan Joko Widodo (Jokowi) sebagai petahana dan parpol pendukung Prabowo-Sandi (BoSan) satu per satu memutuskan untuk menghindar dari pertarungan dalam Pilpres 2019

Bila kita cermati, parpol pendukung Prabowo-Sandi (BoSan) sendiri tengah bermasalah dalam hal dukungan terhadap Prabowo-Sandi (BoSan), diantaranya:




1) Partai Demokrat

Partai Demokrat merupakan parpol yang paling gamang dalam mendukung Prabowo-Sandi (BoSan), dimana Dedy Mizwar, Tuan Guru Bajang (TGB) dan Lukas Enembe merupakan jajaran elit Partai Demokrat yang secara tegas dan terbuka menolak untuk mendukung Prabowo-Sandi (BoSan)

Selain itu, Pakde Karwo bersama Partai Demokrat Jawa Timur juga enggan memberikan dukungan politik kepada Prabowo-Sandi (BoSan) ditambah lagi dengan Andi Arief (Wasekjen Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat) yang justru sering mengumbar kekecewaan beliau terhadap Prabowo Subianto

Sebagai parpol yang memiliki pengalaman berkuasa selama 2 periode, Partai Demokrat dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) cukup memahami bahwa pasangan Prabowo-Sandi (BoSan) tidak memiliki harapan untuk menang dalam Pilpres 2019, sehingga Partai Demokrat tidak mau buang-buang tenaga dengan mendukung Prabowo-Sandi (BoSan)

3 Parpol Ini Tak Serius Dukung Prabowo-Sandi (BoSan)

Sumber: https://nasional.tempo.co

Prabowo Subianto pun kelihatannya mulai menyadari kelemahan beliau tersebut dan mulai malas-malasan serta tidak mau bermanuver untuk kemenangan beliau sendiri, sehingga Andi Arief langsung menyemprot Prabowo Subianto

Partai Gerindra sendiri sering menyorot sikap Partai Demokrat yang dianggap tidak total dalam mendukung Prabowo Subianto dan karena merasa terus-menerus dipojokkan, Andi Arief akhirnya buka kartu dan menyatakan bahwa sebenarnya Prabowo Subianto sendiri yang tidak serius sebagai Capres

3 Parpol Ini Tak Serius Dukung Prabowo-Sandi (BoSan)

Sumber: https://www.senayanpost.com

2) Partai Amanat Nasional (PAN)

Dari awal, banyak kader Partai Amanat Nasional (PAN) yang mendorong Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan untuk mengarahkan dukungan kepada Joko Widodo (Jokowi), namun pengaruh Amien Rais yang masih sangat kuat tersebut berhasil membelokkan dukungan Partai Amanat Nasional (PAN) dari Joko Widodo (Jokowi) kepada Prabowo-Sandi (BoSan)

Meski demikian, dalam internal Partai Amanat Nasional (PAN) sendiri banyak pihak yang kontra terhadap Amien Rais, dimana banyak kader Partai Amanat Nasional (PAN) di lapisan bawah yang sudah muak dengan kelakukan politik Amien Rais yangg dinilai blunder dan banyak merugikan Partai Amanat Nasional (PAN)

Meski para kader Partai Amanat Nasional (PAN) lapisan bawah tersebut memahami bahwa Amien Rais berjasa dalam pendirian Partai Amanat Nasional (PAN), namun mereka menilai bahwa sudah waktunya bagi Amien Rais untuk mundur dari gelanggang politik dan memberikan tongkat estafet kepada generasi penerus. Meski demikian, Amien Rais tidak mendengarkan aspirasi para kader Partai Amanat Nasional (PAN), karena beliau haus kekuasaan

Hal tersebut membuat para kader Partai Amanat Nasional (PAN) yang tidak mau didikte oleh Amien Rais dan DPP Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut diam-diam mengalihkan dukungan mereka, dimana mereka seolah-olah mendukung Prabowo-Sandi (BoSan) di depan DPP Partai Amanat Nasional (PAN), namun dalam praktiknya, mereka sama sekali tidak bergerak untuk memenangkan Prabowo-Sandi

Selain ketidakcocokan dengan Amien Rais, para kader Partai Amanat Nasional (PAN) lapisan bawah tersebut juga merasa dimanfaatkan oleh DPP Partai Amanat Nasional (PAN) yang menyetujui Sandiaga Uno sebagai cawapres hanya demi kardus dana Pemilu dan juga menilai bahwa tindakan menerima kardus tersebut telah menurunkan marwah Partai Amanat Nasional (PAN) itu sendiri

Hal tersebut dibuktikan oleh pengakuan Sekjen Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno yang mengaku bahwa sejumlah calon anggota legislatif (caleg) yang diusung oleh Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut menolak untuk ikut mengkampanyekan Prabowo-Sandi (BoSan) dalam Pilpres 2019

Di antara caleg kita yang berjuang di daerah, ‘mohon maaf ketum, mohon maaf sekjen. Tetapi di bawah, saya mungkin tidak bisa terang-terangan untuk berpartisipasi dalam pemenangan Pak Prabowo. Karena konstituen saya tidak sejalan dengan itu. Jadi mohon maaf’. Saya menerima WhatsApp, SMS, wah ternyata yang kita pilih itu bukan kader. Kalau kita sekarang keluar teriak-teriak Pak Prabowo, yang dapat angin positifnya Gerindra, bukan PAN. Akhirnya tersadarkan ujung-ujungnya kita harus bergerak untuk memenangkan pileg,” ungkap Eddy Soeparno, sebagaimana dilansir nasional.kompas.com (18/10/2018)

3 Parpol Ini Tak Serius Dukung Prabowo-Sandi (BoSan)

Sumber: https://nasional.kompas.com

3) Partai Keadilan Sejahtera (PKS)

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menyimpan masalah yang tak kalah pelik, dimana parpol tersebut tengah mengalami dilema keorganisasian yang sangat tajam setelah 19 tahun berdirinya Partai Keadilan (PK) dan 14 tahun pembentukan Partai Keadilan Sejahtera (PKS)

Dilema keorganisasian yang dimaksud ialah penggantian Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dari Anies Matta kepada Sohibul Iman dan juga konflik internal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang kian meruncing, dimana faksi kepemimpinan baru di Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut mulai membersihkan serta menyingkirkan anasir-anasir pendukung Anis Matta

Efek konflik yang nyata akibat pembersihan serta penyingkiran anasir-anasir pendukung Anis Matta oleh faksi kepemimpinan baru di Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut ialah pemberhentian Fachri Hamzah dari DPR RI yang dilakukan oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS), karena Fachri Hamzah dinilai sebagai pendukung Anis Matta dan juga sempat menyinggung faksi Orang Sana dan Orang Sini (Osan-Osin) yang tengah berseteru dalam tubuh Partai Keadilan Sejahtera (PKS)

Osan-Osin itu sendiri merupakan kelanjutan faksi lama Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang dari awal bersitegang dalam menentukan format organisasi, antara partai kader atau partai terbuka, bahakn saat pencalonan cawapres bagi Prabowo Subianto

Osan (Orang sana) sendiri merupakan faksi Sejahtera yang diidentikan dengan kubu Anis Matta dan juga Fahri Hamzah, sedangkan Osin (Orang sini) sendiri merupakan faksi Keadilan yang artinya Orang merupakan kubu Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang saat ini tengah berkuasa

Puncak kekecewaan kubu pendukung Anis Matta (Osan) ialah saat Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menerima Sandiaga Uno sebagai cawapres yang diusung untuk mendampingi Prabowo Subianto dan kali ini, kekecawaan dialami, bukan hanya oleh pendukung Anis Matta, namun juga para kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) lapis bawah

Mayoritas kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berharap Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dapat mengajukan sosok cawapres dengan latar belakang islamis untuk mendampingi Prabowo Subianto dan itulah sebabnya Hidayat Nur Wahid sampai memaksakan diri untuk menyebut Sandiaga Uno sebagai santri serta ulama dengan tujuan untuk menenangkan para kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) lapis bawah agar istiqomah dalam mendukung Prabowo-Sandi

Sayangnya, para elit partai Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut gagal dalam memahami bahwa para kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tidak sebodoh yang diduga, dimana para kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS tersebut dapat membedakan mana santri yang tulen dan mana yang karbitan

Selain kecewa dengan pilihan cawapres pasangan Prabowo Subianto, para kader para kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut juga menilai bahwa para pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tidak amanah, karena rela menjual kepercayaan mereka dhanya dengan imbalan kardus yang sangat duniawi serta tidak mencerminkan doktrin yang mereka ajarkan

Keretakan dalam tubuh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut semakin dipertegas oleh deklarasi Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi) yang dilakukan oleh para pendukung Anis Matta dan para kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang kecewa terhadap para pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS)

Sampai di sini, kita dapat menyimpulkan bahwa 3 parpol koalisi pendukung Prabowo-Sandi (BoSan) tersebut memiliki pendirian yang sangat lemah dalam mendukung serta memenangkan Prabowo-Sandi (BoSan) dan secara otomatis, parpol yg benar-benar mendukung Prabowo-Sandi (BoSan) saat ini cuma Partai Gerindra

Secara substansi, para kader Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menilai bahwa dukungan terhadap Prabowo-Sandi (BoSan) sama sekali tidak membawa manfaat terhadap partai mereka, karena Prabowo Subianto maupun Sandiaga Uno adalah kader Partai Gerindra

Parahnya, kardus yang diberikan oleh Sandiaga Uno untuk membeli dukungan sejumlah parpol koalisi pendukung Prabowo-Sandi (BoSan) tersebut sama sekali tidak sampai ke lapisan bawah, karena besar kemungkinan, kardus yang diberikan oleh Sandiaga Uno terswebut hanya dinikmati oleh para elit parpol koalisi pendukung Prabowo-Sandi (BoSan), sehingga para kader dari ketiga parpol tersebut merasa tidak ada untungnya bagi mereka untuk mengkampanyekan Prabowo-Sandi (BoSan), ditambah dengan tidak lakunya Prabowo Subianto, bahkan justru melemahkan suara para caleg yang diusung oleh ketiga parpol koalisi pendukung Prabowo-Sandi (BoSan) tersebut dalam Pileg 2019

Jadi, saat ini yang benar-benar mendukung Prabowo-Sandi (BoSan) hanyalah Partai Gerindra yang memang didirikan Prabowo Subianto dan tidak pernah melakukan kongres hingga saat ini, sehingga Prabowo Subianto berkuasa mutlak dalam Partai Gerindra itu sendiri

Yang dapat dilakukan saat ini hanyalah saling menyalahkan di antara mitra koalisi, terutama Partai Demokrat yang dianggap paling tidak serius dalam mendukung Prabowo-Sandi (BoSan) dan di sisi lain, Partai Demokrat juga tidak mau disalahkan dengan dianggap setengah-setengah dalam mendukung serta memenangkan Prabowo-Sandi (BoSan)

Prabowo Subianto sendiri juga tidak menunjukkan keseriusan dalam memenangkan Pilpres 2019, sehingga dengan kondisi tersebut, koalisi pendukung Prabowo-Sandi (BoSan) akan terus bergejolak, saling memojokkan dan menyalahkan satu sama lain. Itulah yang sedang terjadi terhadap Prabowo Subianto yang dari remaja memang telah sibuk dengan nafsu kekuasaannya dan masih sibuk dalam mengejar kekuasaan di masa tua beliau, walaupun terus-terusan kalah

3 Parpol Ini Tak Serius Dukung Prabowo-Sandi (BoSan)

Sumber: https://news.detik.com

Kesimpulannya ialah saat ini tampaknya Prabowo Subianto telah lelah dan para pendukung beliau pun makin lemah. Untuk info selengkapnya, silahkan baca kultwit berjudul “Prabohong Lelah, Koalisi Lemah” yang ditulis oleh akun Twitter @joxzin_jogja di bawah ini




oneindonesiasatu

Website resmi One Indonesia Satu yang dimiliki Rudy Haryanto (Caleg DPR RI dapil Jawa Tengah 5 dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Founder One Indonesia Satu dan WAG IDNEWS, praktisi blogging, Citizen Reporter Persatuan Pewarta Warga Indonesia, Freelance Writer UC We-Media) dan penulis di Kompasiana)

One thought on “3 Parpol Ini Tak Serius Dukung Prabowo-Sandi (BoSan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: