Reposisi Peran Santri : Harus Menguasai Bahasa, Teknologi, dan Ilmu Eksakta

www.pdf24.org    Send article as PDF   

ONEINDONESIASATU.COM, SURABAYA – Hari Santri Nasional merupakan titik balik bangkitnya NKRI untuk mengingat sejarah kelamnya bangsa Indonesia yang tertindas oleh penjajah. Tak lepas dari itu, peran kyai & santri tak boleh dilupakan dalam sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia.

Peristiwa pertempuran Surabaya 10 November 1945 tak lepas dari peran Santri dan Ulama’. Maka Pemerintah pun melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri. Penetapan Hari Santri merupakan bentuk apresiasi pemerintah terhadap Pendidikan Islam.

Penetapan Hari Santri bukan soal hak Santri atau Pesantren meminta di tetapkannya hari Santri, penetapan Hari Santri sendiri merupakan wujud dari hak negara dan pemimpin bangsa, memberikan penghormatan kepada sejarah Pesantren, sejarah perjuangan para Kiai dan Santri. kontribusi Pesantren kepada Negara ini, sudah tidak terhitung lagi.

Hari Santri yang ditetapkan hari ini jangan hanya momentum untuk mengenang perjuangan Santri dan Ulama’ pada masa sebelum kemerdekaan dulu. Namun, peringatan tersebut harus mampu meningkatkan peran Santri dalam berkontribusi kepada pembangunan bangsa.

Jika dulu KH. Hasyim Asy’ari menyerukan jihad adalah membela tanah air dari penjajah, maka kini makna jihad ialah bagaimana Santri ikut berpartisipasi aktif dalam pembangunan Indonesia. Lalu bagaimana peran santri hari ini, dalam membangun dan memajukan Indonesia?.

Para santri harus meningkatkan kompetensi diri agar dapat menjadi poros peradaban. Santri harus bisa menguasai semua lini (leading sector), bukan hanya bisa membaca kitab dan menghafal Alquran saja. Santri wajib menguasai berbagai Bahasa Asing (Bahas Arab & Bahasa Inggris), Teknologi, & Ilmu Eksakta,

Pemilihan dua bahasa ini adalah pilihan logis. Sebab, untuk mendalami kitab kuning yang diajarkan di Pesantren, Santri harus menguasai bahasa Arab. Sedangkan untuk bahasa Inggris adalah karena bahasa ini merupakan bahasa Internasional. Dua bahasa tersebut saat ini merupakan bahasa yang penting di dunia.

Tidak hanya sampai situ. Ketika memasuki dunia kerja, banyak perusahaan yang mewajibkan pelamarnya mempunyai keahlian berbahasa asing, baik aktif maupun pasif. Sama halnya ketika akan mendaftar Pegawai Negri Sipil pun tak luput dari tes Bahasa Inggris. Jika kita melihat para petinggi kita yang harus berdiplomasi dengan petinggi bangsa lain, bahasa yang digunakan adalah Bahasa Inggris. Bahkan tingkat PBB sekalipun sebagai Perhimpunan Bangsa Bangsa, bahasa yang digunakan adalah Bahasa Inggris. Jika kita lihat, betapa pentingnya Bahasa Inggris?

Dengan menguasai bahasa Inggris, maka santri akan memiliki kesempatan yang lebih luas untuk bersaing di tingkat global. Selain untuk menghadapi persaingan global, kemampuan berbahasa Inggris yang baik juga akan memudahkan santri untuk menyampaikan ilmu agama di tingkatan global.

Persaingan saat ini, tidak hanya sesama anak bangsa. Tapi, sudah mendunia. Untuk itu, para Santri agar bisa bersaing di tingkat global perlu menguasai bahasa Asing. Minimal bahasa Arab dan Inggris.

Disamping itu, Santri Harus juga menguasai Teknologi dan media sosial. Kalau tidak, akan diisi oleh mereka yang bertolak belakang dari warisan Ulama’. Jadi kalau yang dulunya Santri hanya pegangannya kitab kuning, Alquran, maka Santri sekarang harus melek teknologi. Jadi bagaimana caranya mengaplikasikan ilmu agama yang dia dapat dengan teknologi. Dengan cara itu, santri diyakini akan dapat berperan lebih dalam menjaga eksistensi bangsa.

Karena, Pada umumnya, pesantren melarang setiap santriya untuk menggunakan ponsel karena bisa mengganggu proses belajar-mengajar. Meski begitu, di era digital, santri tetap harus melek teknologi. Sebab, teknologi bisa menjadi instrumen untuk menyebarkan nilai-nilai Islam.

Tantangan menjaga eksistensi Indonesia ke depan semakin berat. Di era teknologi, semua orang menjadi “umat digital” yang dipenuhi berbagai macam informasi, baik positif atau negatif.

Maka, tantangan nilai Islam yang moderat (washatan), Islam nusantara harus mampu dirawat, dengan memanfaatkan teknologi, Oleh karena itu, para Santri diminta untuk dapat mengisi ruang digital itu dengan terus menyebarkan konten-konten positif.

Di masa kini, sudah saatnya era kebangkitan santri yang merupakan bagian dari kebangkitan Islam. Maka santri harus menguasai ilmu dalam berbagai disiplin, Santri juga perlu mendalami ilmu kedokteran dan ilmu eksakta lainnya. Nantinya mereka tak hanya terdidik dalam hal agama juga terpelajar di bidang ilmu lain.

Oleh : Evi Ayu Lestari (Aktivis Perempuan Surabaya)

Arianto Deni Candra Kurnuawan

Mahasiswa semester 9 UNESA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: