Di balik Insiden Pembakaran Bendera HTI, Inilah Operasi Hitam yang Disusun Prabowo Subianto dalam Memecah Belah Umat Islam

www.pdf24.org    Send article as PDF   

Sebagian besar pembaca pasti mengetahui bahwa belum lama ini beredar video pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang dilakukan oleh anggota Banser dalam acara Hari Santri Nasional di Alun-alun Limbangan, Garut, Jawa Barat dan Ditreskrimum Polda Jawa Barat bersama tim gabungan Bareskrim Mabes Polri dan Polres Garut menggelar pra-penyelidikan terkait kasus tersebut, dimana Direktur Ditreskrimum Polda Jabar Kombes Pol Umar Surya Fana mengungkapkan bahwa pihaknya belum menemukan unsur pidana pada pelaku kasus tersebut

Karena perbuatan tersebut spontan yang dilakukan oleh oknum Banser yang mendasari terhadap konsensus yang telah disepakati sebelumnya. Sampai hari ini kami belum menemukan adanya sikap batin yang lain selain menghilangkan bendera HTI itu,” ungkap Kombes Pol Umar Surya Fana di Mapolda Jabar, sebagaimana dilansir liputan6.com (25/10/2018)

Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun turut menanggapi peristiwa pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang terjadi dalam acara Hari Santri Nasional, dimana Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Yunahar Ilyas menyebutkan perspektif MUI yang menilai bahwa bendera yang dibakar bukanlah bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), karena pada bendera yang dibakar tersebut tidak terdapat simbol ataupun tulisan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)

Dalam perspektif MUI karena itu tidak ada tulisan Hizbut Tahrir Indonesia, maka kita menganggap itu kalimat tauhid,” ungkap Yunahar Ilyas di Kantor MUI Pusat, Menteng, Jakarta Pusat, sebagaimana dilansir tribunnews.com (23/10/2018)

Di balik Insiden Pembakaran Bendera HTI, Inilah Operasi Hitam yang Disusun Prabowo Subianto dalam Memecah Belah Umat Islam

Sumber: http://www.tribunnews.com

Beberapa hari kemudian, polisi berhasil mengamankan dan memeriksa pemilik dari bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang dibakar tersebut pada hari Kamis tanggal 25 Oktober 2018. Saat dimintai keterangan, pria yang diketahui bernama Uus Sukmana tersebut mengakui bahwa bendera yang dibawa dan dikibarkan dirinya tersebut memang bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)

Uus Sukmana tahu bendera yang dibawa dan dikibarkan itu adalah bendera HTI. Kemarin malam diperiksa, dalam pemeriksaan menyatakan itu bendera HTI,” ungkap Kabareskrim Polri Irjen Arief Sulistyanto di Mabes Polri, sebagaimana dilansir merdeka.com (26/10/2018)

Menurut Irjen Arief Sulistyanto, Uus Sukmana sengaja hadir di acara Hari Santri Nasional dan mengibarkan bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), kemudian pihak Banser Nahdlatul Ulama (NU) mengamankan pria tersebut dan melakukan interogasi awal, karena berdasarkan aturan pihak panitia, setiap peserta tidak diperbolehkan membawa atribut apapun selain bendera merah putih

Diamankan di tenda panitia dan diinterview. Ternyata yang bersangkutan tidak diundang. Dia orang Bandung, tapi memang orang Garut. Saat diinterview petugas Banser, dia tidak membawa KTP sehingga diinterview dengan sopan sebagai sesama muslim dan ditanya apa yang dibawa ini. Dia menjelaskan bahwa bendera yang dibawa Uus ini adalah bendera HTI,” jelas Irjen Arief Sulistyanto, sebagaimana dilansir viva.co.id (26/10/2018)

Irjen Arief Sulistyanto menambahkan bahwa bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang dibawa oleh Uus Sukmana tersebut dibeli secara online dari salah satu akun Facebook, dimana dalam akun Facebook tersebut juga disebutkan bahwa bendera tersebut merupakan bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)

Beli online melalui Facebook yang diiklankan oleh akun facebook yang menyebut itu bendera HTI. Sebagian besar masyarakat sudah mengetahui bendera semacam itu sering digunakan dalam acara HTI. Coba di-googling pasti yang keluar bendera itu (HTI),” tutur Irjen Arief Sulistyanto, sebagaimana dilansir news.detik.com (26/10/2018)

Di balik Insiden Pembakaran Bendera HTI, Inilah Operasi Hitam yang Disusun Prabowo Subianto dalam Memecah Belah Umat Islam

Sumber: https://news.detik.com

Irjen Arief Sulistyanto mengungkapkan bahwa berdasarkan pengakuan Uus Sukmana, dirinya mengaku pernah diajak demo oleh Front Pembela Islam (FPI) Garut di Monas pada tahun 2016. Selain itu, Uus Sukmana juga mengaku bahwa dirinya mengenal Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dari salah satu forum diskusi di Facebook

Ada keterangan dari bersangkutan, pernah diajak demo oleh FPI Garut di Monas pada tahun 2016. Terakhir mengenal bendera HTI dari forum chat di Facebook dan teman-temannya,” ungkap Irjen Arief Sulistyanto, sebagaimana dilansir suara.com (26/10/2018)

Hal lainnya yang menarik dalam pemeriksaan Uus Sukmana oleh pihak kepolsian tersebut ialah pihak kepolisian saat ini masih mencari handphone lawas milik Uus Sukmana yang diduga sengaja dijual, tak lama setelah insiden pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)

Sampai saat ini petugas, tim penyidik, masih mendalami jejak digital Saudara Uus. HP yang ditemukan HP baru yang sudah berganti sejak 24 Oktober kemarin. HP-nya dijual, HP-nya ditukar. Kami sedang mencari HP yang lama yang digunakan,” ungkap Irjen Arief Sulistyanto, sebagaimana dilansir news.detik.com (26/10/2018)

Irjen Arief Sulistyanto juga menjelaskan bahwa pihak kepolisian perlu mencari handphone lawas tersebut, karena jejak digital dalam handphone lawas tersebut dapat menjadi salah satu bahan penelusuran penyidik dalam mengkonstruksi hubungan Uus Sukmana dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)

Untuk melengkapi alat-alat bukti dan profil pelaku karena dia pernah ikut aksi (212) bersama FPI di Monas pada 2016 lalu,” Irjen Arief Sulistyanto, sebagaimana dilansir beritasatu.com (26/10/2018)

Sementara itu, pada hari Jumat tanggal 26 Oktober 2018 sekelompok massa mengadakan Aksi Bela Tauhid di depan Kantor Kementerian Kooordinator Politik Hukum Keamanan (Kemenkopolhukam), Jakarta Pusat dan juga di beberapa kota lainnya, menyusul beredarnya video pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tersebut, serta mengajukan sejumlah tuntutan, termasuk membubarkan Banser




Di balik Insiden Pembakaran Bendera HTI, Inilah Operasi Hitam yang Disusun Prabowo Subianto dalam Memecah Belah Umat Islam

Sumber: https://www.cnnindonesia.com

Meski demikian, para pembaca perlu mengetahui bahwa Aksi Bela Tauhid yang diadakan di Jakarta dan sejumlah kota lainnya tersebut sesungguhnya merupakan salah satu operasi hitam yang dibuat serta dijalankan oleh kubu Prabowo-Sandi (BoSan) dan kelompok radikal yang ingin mengganti dasar negara Pancasila dengan khilafah dengan tujuan untuk memecah umat Islam dengan menghancurkan Nahdlatul Ulama (NU), dimana mereka membuat narasi bahwa Banser menistakan tauhid, padahal Banser sendiri merupakan sayap Nahdlatul Ulama (NU) yang dididik dengan tradisi pesantren dan saat itu Banser tengah merayakan Hari Santri Nasional, sehingga tidak mungkin Banser merayakan Hari Santri Nasional sambil melecehkan kalimat tauhid

Pertanyaannya ialah mengapa Uus Sukmana yang notabene seorang tukang bangunan tersebut berani mengibarkan bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di tengah-tengah peringatan Hari Santri Nasional ? Jawabannya ialah karena Uus Sukmana didukung oleh para elit politik dalam kubu Prabowo-Sandi (BoSan) yang di dalam nya terdapat banyak pensiunan TNI yang memang benar-benar mengerti operasi hitam semacam ini, sehingga Uus Sukmana merasa aman

Itulah sebabnya mengapa Uus Sukmana sengaja memprovokasi dan memang telah siap untuk ditangkap oleh pihak kepolisian. Selain itu, Uus Sukmana juga diminta menghilangkan jejak, setelah berkoordinasi dengan sang aktor intelektual, dengan menjual ataupun menukar handphone lawasnya tersebut, sehingga berbagai histori percakapan Uus Sukmana dan dengan siapa saja Uus Sukmana merencanakan aksinya tersebut belum dapat dlacak oleh pihak kepolisian, dimana cara tersebut lumrah dalam kalangan intelejen

Petunjuk lainnya ialah pengakuan Uus Sukmana di hadapan penyidik bahwa dirinya pernah diajak oleh Front Pembela Islam (FPI) Garut untuk mengikuti aksi 212 pada tahun 2016 di Monas dan di sini kita dapat mengetahui kemana arah politik gerakan 212 saat itu, yaitu mendukung Anies-Sandi sebagai calon gubernur dan calon wakil gubernur DKI Jakarta yang didukung oleh Prabowo Subianto sang bocah tua nakal beserta para begundal pendukung beliau tersebut

Pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sendiri tidak akan terjadi jika tidak ada aksi provokasi yang dilakukan oleh Uus Sukmana dalam acara Hari Santri Nasional tersebut dan dalam hal ini, Uus Sukmana telah melakukan tindak pidana dan dapat dijatuhi hukuman pidana dalam insiden pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tersebut

Kubu Prabowo-Sandi (BoSan) mengetahui bahwa pihak kepolisian akan membongkar kedoknya, sehingga tim cyber kubu Prabowo-Sandi (BoSan) menyebarkan hoax surat pemanggilan Kapolri Jenderal Tito Karnavian oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk diperiksa. Hal tersebut dilakukan untuk menjatuhkan kredibilitas Polri di mata rakyat dan membuat rakyat tidak lagi percaya kepada institusi Polri, namun Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto menyatakan bahwa surat pemanggilan Kapolri Jenderal Tito Karnavian oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tersebut hoaks

Itu hoaks. Sudah ada pernyataan dari KPK, surat itu kan ada kode-kode tersendiri,” tegas Irjen Pol Setyo Wasisto di Rupatama Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sebagaimana silansir tribunnews.com (26/10/2018)

Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah juga menegaskan bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak pernah mengeluarkan surat tersebut dan juga menyatakan bahwa penomoran hingga stempel yang digunakan dalam surat pemanggilan tersebut salah

Penomorannya keliru, tanda tangan dan stempel juga salah dan KPK tidak pernah mengeluarkan surat tersebut,” ungkap Febri Diansyah, sebagaimana dilansir news.detik.com (26/10/2018)

Di balik Insiden Pembakaran Bendera HTI, Inilah Operasi Hitam yang Disusun Prabowo Subianto dalam Memecah Belah Umat Islam

Sumber: http://aceh.tribunnews.com

Saat ini Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang notabene telah dibubarkan pemerintah tersebut telah menyiapkan demo berjilid-jilid yg tidak sengaja didukung oleh rakyat yang baru kemaren sore merasa membela agamanya dan mudah dibodohi tersebut. cara tersebut persis seperti yang terjadi di Suriah, dimana awal kehancuran Suriah diawali dengan aksi unjuk rasa yang dilakukan setiap hari Jumat dengan narasi bahwa pemerintah Suriah yang berkuasa saat itu ialah rezim dzalim

Para pembaca perlu mencatat baik-baik bahwa sebelum hancur karena aksi unjuk rasa berjilid-jilid yang dilakukan setiap hari Jumat dan sangat konspiratif tersebut, Suriah merupakan negara yang beragam dan penduduknya dapat hidup berdampingan secara harmonis, sama seperti Indonesia (negara multikultur yang harmonis). Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) bahhkan telah merancang skenario kekacauan (chaos), yaitu dengan menuntut pembubaran Banser (organisasi dengan ratusan ribu anggota yang sangat setia dengan Merah Putih). Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mencoba menghilangkan kesakralan dan kebanggaan rakyat Indonesia kpda Merah Putih yang diperjuangkan dengan tauhid oleh para ulama saat berperang melawan penjajahan kolonial saat itu

Pertanyaan berikutnya ialah apakah demo yang mereka lakukan tersebut tidak janggal ? Apakah demo yang mereka lakukan tersebut bebas politik ? Jelas janggal, karena memang pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tersebut memang rekayasa sistematis yang dilakukan oleh kubu Prabowo-Sandi (BoSan) dengan tujuan menciptakan situasi kekacauan (chaos), sambil berusaha memecah belah umat Islam, sehingga Prabowo Subianto sang bocah tua nakal dapat memancing di air keruh seperti biasanya

Prabowo Subianto sang bocah tua nakal masih melihat umat Islam sebagai kekuatan besar dan berpengaruh di Indonesia, sehingga untuk memanaskan situasi, beliau harus mengacaukan internal umat islam dan itulah salah satu operasi hitam, yaitu demo berjilid-jilid dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 dengan dalih bela Islam, yang ingin kembali diulang oleh kubu Prabowo-Sandi (BoSan) dalam Pilpres 2019, dimana mereka cukup memahami bahwa masyarakat Indonesia akan mudah tersulut emosinya kalau disulut dengan menggunakan isu agama

Kubu Prabowo-Sandi (BoSan) dan kelompok radikal berusaha mencari-cari celah untuk menyulut kericuhan baru dan peringatan Hari Santri Nasional dinilai sebagai saat yang tepat, karena peringatan Hari Santri Nasional tersebut merupakan momen hari besar umat Islam di Indonesia yang diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) pada tanggal 22 Oktober 2015 dan Nahdlatul Ulama (NU) yang dari awal mendukung penetapan Hari Santri Nasional tersebut adalah ormas Islam terbesar yang aktif merayakan Hari Santri Nasional dan pasti akan mengerahkan segenap santrinya untuk merayakan Hari Santri Nasional

Di balik Insiden Pembakaran Bendera HTI, Inilah Operasi Hitam yang Disusun Prabowo Subianto dalam Memecah Belah Umat Islam

Sumber: http://setkab.go.id

Di sisi lain, Nahdlatul Ulama (NU) juga dikenal pro aktif dalam melawan kelompok Islam pengusung khilafah dan anti Pancasila, sementara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) merupakan kelompok yang terbukti mengusung khilafah dan menetang Pancasila dan di sinilah skenario Prabowo Subianto tersebut menemukan titik picu, dimana Prabowo Subianto telh memetakan bahwa massa Nahdlatul Ulama (NU) yang tengah euforia dalam merayakan Hari Santri Nasional tersebut akan mudah terprovokasi ketika ada oknum Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menyusup di tengah mereka

Itulah sebabnya Prabowo Subianto sang bocah tua nakal justru menugaskan tim kecil untuk beroperasi di beberapa titik, dimana dalam tim kecil tersebut ada orang yang bertugas mengibarkan bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), orang yang bertugas meneriakkan serta memprovokasi dan orang yang bertugas merekam, lalu menyebarkan video saat bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tersebut dibakar

Hal tersebut terbukti dari pernyataan Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Yaqut Cholil Qoumas bahwa pengibaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dalam acara Hari Santri Nasional terebut sistematis, karena dilakukan di sembilan wilayah, yaitu Garut, Bandung Barat, Ciamis, Karawang, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, Semarang, Yogyakarta dan Kalimantan Selatan.

Ya, kami menemukan beberapa insiden serupa di peringatan Hari Santri Nasional. Dugaan kami masifnya pengibaran bendera HTI di tengah peringatan Hari Santri ini kami menduga ada upaya yang sistematis,” ungkap Yaqut Cholil Qoumas di Kantor PP GP Ansor, Jakarta Pusat, sebagaimana dilansir cnnindonesia.com (24/10/2018)

Di balik Insiden Pembakaran Bendera HTI, Inilah Operasi Hitam yang Disusun Prabowo Subianto dalam Memecah Belah Umat Islam

Sumber: https://www.cnnindonesia.com

Warga Nahdliyin yang melihat bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tersebut menjadi marah dan Banser yang menjadi penanggung jawab keamanan pun mengambil alih situasi, lalu membakar bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) untuk menenangkan massa dan saat itulah salah seorang anggota tim kecil yang dibentuk oleh Prabowo Subianto sang bocah tua nakal tersebut merekam pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tersebut lalu menyebarkan video tersebut secara provokatif dengan narasi Banser Membakar Kalimat Tauhid

Tak lama kemudian, Ismail Yushanto (mantan Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)) langsung ambil bicara dan menyebutkan bahwa bendera yang dibakar tersebut bukanlah bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), melainkan kalimat tauhid

Perlu saya tegaskan di sini bahwa yang dibakar itu bukanlah bendera Hizbut Tahrir Indonesia. Hizbut Tahrir Indonesia tidak punya bendera,” tulis Ismail Yushanto dalam video diunggah oleh akun Twitter @ismail_yusanto

Selain itu, dalam keterangan video tersebut, Ismail Yushanto juga menyatakan bahwa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tidak memiliki bendera

Ada banyak pernyataan yang mengatakan bahwa bendera yang dibakar kmrn adalah bendera HTI, saya perlu tegaskan bahwa HTI tidak memiliki bendera. Yg dibakar dlm video yang beredar luas kmrn adlh Ar Roya (Panji Rasulullah), bendera berwarna hitam yang bertuliskan kalimat Tauhid,” tulis Ismail Yushanto dalam keterangan video diunggah oleh akun Twitter @ismail_yusanto

Meski demikian, faktanya ialah Buku Putih Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menyebutkan bahwa bendera tersebut merupakan panji negara khilafah yang akan mereka dirikan dan disinilah kebohongan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang membawa-bawa agama tersebut terbongkar. Selain itu, pernyataan bahwa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tidak memiliki bendera membuat Forum Umat Islam Revolusioner melaporkan Ismail Yusanto ke Bareskrim Polri Jakarta

Di balik Insiden Pembakaran Bendera HTI, Inilah Operasi Hitam yang Disusun Prabowo Subianto dalam Memecah Belah Umat Islam

Sumber: https://twitter.com/joxzin_jogja

Juru Bicara Persaudaraan Alumni (PA) 212 yang juga anak buah Rizieq Shihab, yaitu Novel Bamukmin juga unjuk gigi, yaitu dengan menyebutkan bahwa pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tersebut hanya PKI yang sanggup melakukannya

Kami dari PA 212 sangat mengutuk tindakan biadab yang telah sangat menyakiti umat islam sedunia karena hanya PKI yang sanggup melakukan itu. Karena ormas ini memang selalu membuat resah umat islam karna selalu melakukan perbuatan menyimpang,” ungkap Novel Bamukmin, sebagaimana dilansir suara.com (22/10/2018)

Di balik Insiden Pembakaran Bendera HTI, Inilah Operasi Hitam yang Disusun Prabowo Subianto dalam Memecah Belah Umat Islam

Sumber: suara.com

Para pendukung Prabowo-Sandi (BoSan) kemudian beramai-ramai mengunggah tagar pembubaran Banser dan diikuti dengan peredaran konten yang berisi ajakan Aksi Bela Tauhid dan hal tersebut memang merupakan salah satu operasi hitam yang telah direncanakan kubu Prabowo-Sandi (BoSan) dari awal, terbukti dari jari pendukung bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang mengacungkan dua jari, padahal semua orang tahu bahwa simbol tauhid ialah mengangkat satu jari, namun karena saat ini Prabowo Subianto sang bocah tua nakal menjadi capres dengan nomor urut 2, mereka pun tak malu-malu menggadai angka satu tauhid degan angka dua jari

Di balik Insiden Pembakaran Bendera HTI, Inilah Operasi Hitam yang Disusun Prabowo Subianto dalam Memecah Belah Umat Islam

Sumber: https://www.facebook.com/pageKataKita

Untuk dapat menggerakan massa, kubu Prabowo-Sandi (BoSan) juga mengerahkan tokoh-tokoh 212 untuk segera memberikan pernyataan dan membakar emosi massa, diantaranya Ustad Arifin Ilham dan KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Selain itu, kesiapan kubu Prabowo-Sandi (BoSan) dalam momentum yang ditunggu-tunggu tersebut juga jelas terlihat ketika semua buzzer Prabowo-Sandi (BoSan) dipersenjatai oleh pernyataan Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Yunahar Ilyas yang menyatakan bahwa bendera yang dibakar tersebut bukanlah bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)

Yunahar Ilyas ialah sosok kunci yang menegaskan bahwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat itu melakukan penistaan agama, dimana beliau bertugas untuk memberikan pernyataan-pernyataan kontroversial yang menguntungkan pihak Prabowo Subianto sang bocah tua nakal beserta para begundal pendukung beliau tersebut. Selain itu, Yunahar Ilyas ialah salah seorang tokoh Muhammadiyah yang cenderung radikal dan juga berasal dari Sumatera Barat yang merupakan salah satu daerah yang sangat militan dalam mendukung Prabowo Subianto sang bocah tua nakal sejak tahun 2014

Tak heran bila Yunahar Ilyas tetap menjalankan agenda pribadi nya dan juga memastikan skenario menumbangkan Joko Widodo (Jokowi) sang capres petahana dengan rentetan aksi demo berjilid-jilid tersebut dapat kembali terlaksana seperti yang terjadi dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. Apa yang dilakukan oleh Yunahar Ilyas sebagai salah seorang kader Muhammadiyah tersebut membuat malu sang Ketua Umum Muhammadiyah, yaitu Haedar Nasir, yang meminta warga Muhammadiyah untuk tidak mengikuti Aksi Bela Tauhid

Di balik Insiden Pembakaran Bendera HTI, Inilah Operasi Hitam yang Disusun Prabowo Subianto dalam Memecah Belah Umat Islam

Sumber: https://kumparan.com/@kumparannews

Selanjutnya, Prabowo Subianto sang bocah tua nakal akan diam-diam mendanai dan memanas-manasi massa yang mereka gerakkan, karena beliau tahu bahwa dirinya akan kalah jika adu program kerja dengan Joko Widodo (Jokowi) sang capres petahana. Prabowo Subianto sang bocah tua nakal juga membutuhkan seorang koordinator lapanagan (korlap) untuk memprovokasi massa, yaitu Rizieq Shihab, sehingga tak heran bila Prabowo Subianto sang bocah tua nakal berniat menjemput Rizieq Shihab ke Arab Saudi

Jika isu pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tersebut berhasil dipanaskan terus-menerus, Prabowo Subianto berniat menjemput Rizieq Shihab ke Arab Saudi, lalu menugaskan beliau untuk berorasi di depan massa dan bila kita menelisik secara rinci, rencana penjemputan Rizieq Shihab oleh Prabowo Subianto sang bocah tua nakal tersebut sama sekali tidak relevan, karena saat itu Rizieq Shihab pergi ke Arab Saudi atas keinginannya sendiri pada bulan Mei 2017 dengan alasan pergi umrah, namun tak kunjung pulang ke Tanah Air sampai saat ini

Sebagian besar para pembaca pasti mengetahui bahwa Rizieq Shihab takut pulang, karena harus menghadapi kasus hukum konten pornografi yang melibatkan Firza Husein bila beliau kembali ke Tanah Air, meski kasus tersebut telah dihentikan, akibat tidak ada kejelasan pihak penyebar konten porno dan dalam posisi tersebut, sebenarnya Rizieq Shihab tidak lagi memiliki penghalang untuk pulang ke Tanah Air

Di sinilah titik temu antara Prabowo Subianto sang bocah tua nakal dan Rizieq Shihab, dimana Prabowo Subianto menemukan peluang di balik kepergian Rizieq Shihab ke Arab Saudi dan meminta Rizieq Shihab untuk bertahan di Arab Saudi Prabowo Subianto sang bocah tua nakal kemudian akan menjemput Rizieq Shihab saat beliau telah berhasil membuat situasi kacau (chaos) dan ada tiga keuntungan yang dimiliki Rizieq Shihab bila Prabowo Subianto sang bocah tua nakal menjemput dirinya, yaitu:

1) Rizieq Shihab akan disambut bagai pahlawan yang dizhalimi pemerintah dan terusir hingga setahun lebi

2) Dalam situasi kacau (chaos), masyarakat luas akan melupakan skandal chat mesum Rizieq Shihab dengan Firza Husein

3) Prabowo Subianto telah menjanjikan jabatan Menteri Agama bagi Rizieq Shihab, jika Rizieq Shihab berhasil menaikkan konstelasi dalam situasi yang dibuat kacau (chaos) dan Prabowo Subianto sang bocah tua nakal berhasil melakukan deligitimasi pemerintah serta mengambil alih kekuasaan dalam Pilpres 2019

Sampai di sini, kita dapat melihat bahwa operasi hitam yang disusun oleh Prabowo Subianto sang bocah tua nakal tersebut sangat manis, namun operasi hitam tersebut tidak akan berhasil alias gagal maning. Dulu Aksi Bela Islam berhasil membesar ketika Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dituduh menistakan agama islam dan meski Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menyangkal dengan sekuat tenaga, gerakan massa berjilid-jilid tersebut tetap tidak mau mempercayainya

Dalam Pilpres 2019 kubu Prabowo-Sandi (BoSan) merencanakan aksi berjilid-jilid untuk mengkriminalisasi Banser dengan tuduhan menghina kalimat tauhid, namun tuduhan tersebut sama sekali tidak masuk akal dan juga sangat kurang ajar, karena Banser tidak akan mungkin menista kalimat tauhid yang merupakan simbol keimanannya sendiri. Dalam operasi hitam tersebut Prabowo Subianto sang bocah tua nakal sebenarnya juga berencana untuk mengadu warga Nahdlatul Ulama (NU) dengan warga Muhammadiyah, namun rencana tersebut juga gagal, karena sebelum situasi memanas, Muhammadiyah langsung mengadakan konferensi pers dan menyerahkan insiden pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tersebut pada prosses hukum yang berlaku

Aparat kepolisian hendaknya dapat bertindak objektif dan profesional sesuai koridor hukum yang berlaku disertai kemampuan membaca realitas secara cerdas dan bijak dalam semangat menegakkan hukum yang tidak sekadar verbal. Manakala penyelesaian hukum atas kasus ini bersifat parsial, tidak menyentuh substansi masalah utama, dan tidak menunjukkan objektivitas yang menyeluruh, maka dapat menimbulkan ketidakpuasan publik secara luas,” tutur Haedar Nashir, sebagaimana dilansir news.detik.com (26/10/2018)

Begitulah Prabowo Subianto sang bocah tua nakal yang gemar menghalalkan semua cara dalam rangka memuaskan syahwat politik beliau dan kami akan mengakhiri artikel ini dengan tak henti-hentinya mengingatkan kepada para pembaca agar jangan pernah percaya dengan sang bocah tua nakal beserta para begundal pendukung beliau tersebut, karena mereka tidak akan pernah berhenti membuat kekacauan demi hasrat kekuasaan belaka

Jangan lupa sebarkan artikel ini sebanyak-banyaknya ke media sosial, agar lebih banyak lagi orang-orang yang mengetahui operasi hitam yang dilakukan oleh Prabowo Subianto sang bocah tua nakal beserta para begundal pendukung beliau tersebut dalam rangka memuaskan syahwat politik mereka belaka dan untuk info selengkapnya, silahkan baca kultwit berjudul “Waspadalah! Prabowo Susun Operasi Pecah Belah Umat Di Isu Pembakaran Bendera HTI” yang ditulis oleh akun Twitter @joxzin_jogja

Sumber: https://www.kakekdetektif.com

As




indonesiasatu

Website resmi One Indonesia Satu yang dimiliki Rudy Haryanto (Caleg DPR RI dapil Jawa Tengah 5 dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Founder One Indonesia Satu dan WAG IDNEWS, praktisi blogging, Citizen Reporter Persatuan Pewarta Warga Indonesia, Freelance Writer UC We-Media) dan penulis di Kompasiana)

3 thoughts on “Di balik Insiden Pembakaran Bendera HTI, Inilah Operasi Hitam yang Disusun Prabowo Subianto dalam Memecah Belah Umat Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: