Budaya Plagiarisme di Kalangan Akademisi Membengkak

www.pdf24.org    Send article as PDF   

ONEINDONESIASATU.COM, PONOROGO – Apa itu plagiarisme? Bagi mahasiswa yang akrab dengan budaya literasi tentunya paham dengan istilah tersebut. Plagiarisme berasal dari kata plagiat yang berarti pengambilan karangan (pendapat dan sebagainya) milik orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dan sebagainya) sendiri, misal menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri. Orang yang melakukan tindakan plagiat disebut plagiator, yaitu “orang yg mengambil karangan (pendapat dan sebagainya) orang lain dan disiarkan sebagai karangan (pendapat dan sebagainya) sendiri; penjiplak” (KBBI, 2014). Neville (dikutip dalam putri, 2013) mengemukakan bahwa plagiarisme sebagai tindakan mengambil ide atau tulisan orang lain tanpa menyebutkan rujukan dan diklaim sebagai miliknya sendiri. Plagiarisme sedniri memiliki beberapa jenis, di anataranya yaitu: (a) plagiarisme ide, (b) plagiarisme isi (c) plagiarisme kata, kalimat, paragraf, (d) plagiarisme total (herquanto, 2013).

Pembodohan intelektual dalam bentuk plagiarisme sepertinya sudah menjadi fenomena umum dalam dunia pendidikan maupun dalam masyarakat luas. Pelaku plagiasi dikalangan akademisi saat ini tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa saja. Bahkan dalam beberapa kasus, plagiarisme juga dilakukan oleh oknum dosen kepada hasil karya mahasiswanya dan digunakan untuk kepentingan pribadinya. Beberapa oknum dosen yang seharusnya menjadi tauladan dan panutan bagi mahasiswanya sekalipun tak jarang diduga dan terbukti melakukan plagiasi hasil karya dari salah satu mahasiswanya yang disalah gunakan demi kepentingan pribadinya. Meskipun tidak terpublikasikan secara luas dan hanya menjadi rahasia di perguruan tinggi. Seharusnya pihak dari pimpinan perguruan tinggi menegakkan etika dan moral bagi seluruh civitas akademiknya. Misalnya dengan melakukan tidakan secara tegas kepada seluruh mahasiswa, alumni dan dosennya yang terbukti melakukan plagiasi diberikan sanksi tegas sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku.

Prilaku tidak etis dalam dunia pendidikan seperti ini tentunya sangat menciderai etika akademik. Apalagi jika hal ini justru dilakukan seorang dosen atau pengajar` yang seharusnya menjadi contoh bagai peserta didiknya. Maka tidak heran jika di kalangan mahasiswa plagiarisme sudah tidak menjadi sebuah larangan yang begitu mengancam. Banyak peristiwa yang kita temukan dikalangan mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas yang diberikan dosen dengan beban yang menyita waktunya membuat mahasiswa cenderung berfikir praktis dengan memanfaatkan teknologi yang mudah diperoleh kapanpun dan dimanpun cenderung melakukan tindakan praktis (copy+paste). Jika kita kaji bersama dampak dari pada plagiarisme ini akan mengakibatkan kebuntuan dalam berfikir serta mematikan nalar kretifitas. hal ini menjadi catatan tersendiri dikalangan akademisi sebagai bentuk dari pada degradasi moral kaum intelektual.

Namun perlu dicatat bahwa plagiarisme bisa terjadi secara sengaja ataupun tidak karena banyaknya sumber banyaknya karya yang mengambil tema seragam.dan luasBelajar dari sebuah kesalahan yang disengaja ataupun tidak disengaja maka solusi adalah salah satu bentuk dari perubahan yang nyata. Bagaimanapun kejahatan intelektual harus segera disadarkan agar hal ini tidak menjadi budaya di kalangan akademisi. Berbagai upaya pencegahan plagiasi pemerintah sebenarnya sudah memberikan ketegasan terhadap pelaku plagiasi dengan diundangkannya Undang-undang republik indonesia nomer 19 tahun 2002. Namun, berbicara soal hukum yang ada di indonesia masih terlalu banyak oknum-oknum tertentu yang kadang menjadikanhukum hanya sebatas alat rekaya untuk sebuah pembenaran atas kesalahan yang terjadi.

Namun seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, sebenarnya sudah muncul juga berbagai jenis perangkat lunak aplikasi untuk meminimalisir terjadinya plagiasi terhadap suatu karya ilmiah sejak dini pada lingkungan perguruan tinggi. Aplikasi-aplikasi tersebut menawarkan berbagai metode dan sejumlah itur-itur yang membuat penggunanya dapat dengan mudah mengoperasikannya. Berdasarkan hasil penelurusan penulis pada internet, terdapat sejumlah aplikasi anti-plagiarisme yang disajikan secara online, baik secara gratis maupun harus berbayar.

Contoh-contoh aplikasi yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya tindakan plagiat sejak diri, misalnya: Viper Anti-Plagiarism Scanner, Plagtracker, Plagiarism Detector, dan Turnitin. Manfaat utama dari penggunaan aplikasi tersebut adalah untuk mengecek tingkat similaritas atau kesamaan antara suatu karya ilmiah dibandingkan dengan karya ilmiah lainnya, sehingga dapat dilakukan pencegahan dini terhadap terjadinya plagiasi. (Chalis & A. Gani, 2014).

Banyaknya solusi yang ditawarkan mulai dari pada penegakan hukum hingga pada aplikasi yang canggih sekalipun tidaklah akan membuat seseorang jera dalam upaya melakukan kejahatan plagiasi. Sebenarnya faktor utama dan yang paling mendasar dari pada upaya pencegahan plagiasi adalah kejujuran dari seseorang untuk selalu sadar akan menghargai karya dari orang lain itu adalah ilmu yang paling mulai sepanjang masa. Oleh sebab itu hendaklah sebuah pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi agar lebih memprioritaskan moral force untuk membangun sebuah pendidikan yang lebih mermartabat dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Oleh : Cecep Jumadi – Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ponorogo Komisariat FITRAH

Arianto Deni Candra Kurnuawan

Mahasiswa semester 9 UNESA

One thought on “Budaya Plagiarisme di Kalangan Akademisi Membengkak

  • 2 January 2019 at 08:58
    Permalink

    Mantab kanda 😗

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: