Cipayung Surabaya Peringati HUT Cipayung yang Ke-47

www.pdf24.org    Send article as PDF   

SURABAYA, ONEINDONESIASATU.Com – Tepat pada tanggal 22 Januari 2019 merupakan ulang tahun Cipayung Ke 47 Tahun. Gerakan Cipayung digagas awal mulanya karena pemerintah orde baru dianggap sudah jauh dari cita cita kenegaraan. Komitmen awal pemerintah membangun semangat tata negara yang didasarkan atas kedaulatan rakyat dan demokrasi dirasa kian menyimpang. Maka, diadakanlah pertemuan pada tanggal 19-22 Januari 1972 di Desa Cipayung Jawa Barat. Pertemuan ini dihadiri oleh pimpinan pusat organisasi kemahasiswaan diantaranya HMI, GMNI, PMII, GMKI dan PMKRI yang kemudian menghasilkan 7 butir Indonesia yang kita cita-citakan. Tujuh butir itu ialah 

  1. Bahwa Indonesia yang kita cita-citakan adalah Indonesia yang digambarkan dalam pembukaan UUD 1945 yaitu, masyarakat adil dan makmur, spiritual dan material berdasarkan Pancasila.

  2. Bahwa Indonesia yang kita cita-citakan adalah Indonesia yang kuat bersatu, Indonesia yang cerdas dan modern, Indonesia yang demokratis dan adil, Indonesia yang menjunjung tinggi martabat manusia dan wibawa hukum, Indonesia yang sehat dan makmur, Indonesia yang bebas dari ketakutan dan penindasan, Indonesia yang berperanan dalam pergaulan bangsa-bangsa di dunia, Indonesia yang layak bagi tempat dan kehidupan manusia selaku makhluk Tuhan.

  3. Bahwa Indonesia yang kita cita-citakan hanya mungkin dicapai dari pembangunan ke pembangunan dengan bekerja keras, jujur, hemat, yang dilandasi semangat pioner melalui pengorbanan.

  4. Indonesia yang kita cita-citakan hanya dapat dibangun atas pikiran dan tekad bersama, yang erat dan terarah dari generasi ke generasi bangsa Indonesia dengan tidak mengenal perbedaan agama, suku, daerah, umur, dan golongan, karena tekad pikiran yang demikian inilah yang mencetuskan Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi 1945 dan Orde Baru kita sekarang ini.

  5. Dalam rangka membangun masa depan dalam Indonesia yang kita cita-citakan, maka pembentukan dan pembinaan generasi pembangunan selaku generasi penerus adalah mutlak. Kita bercita-cita membangun masa depan yang lebih baik dari masa kini dan masa kemarin, karena itu generasi pembangun memerlukan keberanian melihat dan menilai dasar-dasar pembangunan masa depan dan meninggalkan pola-pola lama, ikatan-ikatan lama, yang menghalangi usaha pembangunan masa depan yang baru. Generasi pembangun itu mempunyai ciri-ciri khas, yaitu bebas dan terbuka, positif, kritis, dinamis, jujur, berdedikasi, dan radikal. Ciri-ciri khas itu merupakan unsur dalam melihat masa depan, serta menilai masa kini dan masa lampau.

  6. Generasi pembangun mutlak turut menentukan isi, bentuk, corak, dan watak dari Indonesia yang kita cita-citakan, dengan memberikan kemungkinan dan kesempatan untuk menyampaikan pikiran-pikiran, pendapat-pendapat dan tenaga melalui kebebasan yang bertanggung jawab, yang dijamin atas dasar hukum, dan untuk itu pembinaan generasi pembangun menjadi kewajiban bersama.

  7. Generasi pembangun ini, akan mempunyai peranan bila dalam generasi pembangun itu sendiri ada inisiatif untuk mengubah dan mempersiapkan diri menerima dan memikul tanggung jawab masa depan dalam mencapai Indonesia yang kita cita-citakan itu. Inisiatif itu berbentuk usaha membuka diri dalam memahami pada artinya anugerah Tuhan untuk kita hidup di Indonesia, mempergunakan ilmu dan teknologi dalam memecahkan persoalan-persoalan masyarakat, menerima pikiran-pikiran yang beraneka ragam dari berbagai golongan generasi muda dalam masyarakat, dan kesediaan mempersiapkan diri mengabdi kepada masyarakat, bangsa, dan negara.

3D396EB3-349D-4935-B7AD-C67E24D0013B

Untuk mengingat sejarah tersebut, pimpinan cabang organisasi kemahasiswaan di tingkat  Surabaya menggagas konsolidasi yang mengatasnamakan Cipayung Surabaya. Pertemuan ini dilaksanakan pada tanggal 23 Januari 2019 bertempat di Sekretariat HMI Cabang Surabaya Jalan Pucang Anom No.85A, Surabaya. Pertemuan ini dihadiri oleh 7 organisasi kemahasiswaan diantaranya HMI, PMII, GMNI, PMKRI, MKHDI, IMM, dan LMND. Pembahasan Pertemuan ini menitikberatkan pada implementasi Permenristekdikti Nomor 55 Tahun 2018 tentang Pembinaan Ideologi Bangsa. 

Permen ini dipandang berpotensi sebagai perwujudan baru NKK/BKK pada era Orde Baru, sehingga perlu dijadikan topik utama pembahasan mengingat berkaitan langsung dengan eksistensi Cipayung di kampus-kampus. Salah satu indikasinya adalah dengan dilarangnya atribut Ormek (organisasi ekstra kampus) dipasang di kampus. Tetapi disisi lain juga memberikan angin segar bagi Ormek bahwa dengan diberlakukannya Permen tersebut menjadi dasar legalisasi Ormek di dalam kampus. 

Dari pertemuan ini menghasilkan beberapa catatan penting diantaranya adalah mendorong Rektor sebagai pimpinan kampus untuk menerbitkan peraturan rektor yang salah satu isinya adalah menegaskan legalisasi Ormek di kampus sesuai amanat permenristekdikti nomor 55 Tahun 2018. Meninjau kembali  teknis pembentukan dan pelaksanaan UKM Pembinaan Ideologi Bangsa dengan meminta penjelasan dari Kemenristek Dikti mengenai hal tersebut. 

Silaturrahmi Cipayung Surabaya, juga dijadikan momentum konsolidasi gerakan mahasiswa di Surabaya dalam penyikapan terhadap isu isu lokal yang ada di Kota Surabaya. Dengan hastag #GoyangSurabaya.

Oleh : Cipayung Surabaya

Arianto Deni Candra Kurnuawan

Mahasiswa semester 9 UNESA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: