HMTL Unusida Goes To School MA Nurul Huda

www.pdf24.org    Send article as PDF   

SIDOARJO, ONEINDONESIASATU.COM – Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Nadhatul Ulama Sidoarjo (HMTL Unusida) pada Sabtu memberikan pelatihan pengolahan sampah kepada peserta didik Madrasah Aliyah (MA) Nurul Huda, Sedati, Sidoarjo. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari HMTL Goes to School untuk mengajak generasi milenial peduli terhadap sampah dan lingkungan sekitar. Sebanyak 105 peserta didik berpartisipasi dalam kegiatan yang dimulai pukul 09.00 hinga 12.00 WIB tersebut.

M. Afif Mahfudz selaku ketua pelaksana mengatakan bahwa, kegiatan ini merupakan salah satu wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pengabdian masyarakat. Peserta didik dipilih karena mereka potensial menjadi kader penggerak kepedulian lingkungan di masyarakat sekitar. “Generasi milenial memiliki semangat yang tinggi serta kreatifitas untuk melakukan perubahan yang lebih baik,” tutur Afif. Sabtu, (26/1/2019).

Sesi pertama materi disampaikan oleh Tomy Satryo Laksono, yang mengenalkan macam-macam sampah beserta teknik pemilahan dan pengolahannya. Sampah merupakan hasil sisa aktivitas manusia yang kurang memiliki nilai guna. Secara umum, sampah dibagi menjadi anorganik dan organik. Sampah organik ini bisa terurai di alam lebih cepat dibandingkan sampah anorganik yang bahkan memerlukan waktu hingga 100 tahun lebih. 

“Plastik contohnya, sampah yang memerlukan waktu ratusan tahun agar bisa terurai di alam.  Permasalahan sampah kian marak dikarenakan minimnya kesadaran buang sampah pada tempatnya dan minimnya keahlian masyarakat dalam melaksanakan program 3R (reduce, reuse, dan recycle),” lugas Tomy.

Imron Romanza, salah satu anggota (HMTL) kemudian melanjutkan materi sesi kedua. Ia memberikan motivasi pada siswa-siswi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pendidikan tinggi bukanlah untuk memamerkan gelar akademik, namun untuk membangun generasi agar lebih baik.

Di sela-sela itu, ia juga menyampaikan bahwa pemuda memiliki potensi besar untuk memimpin masyarakat. Pemuda dapat menjadi kunci keberlanjutan perubahan dengan pemikiran-pemikiran zaman now dengan kecepatan akses informasi dan teknologi. “Jangan minder untuk melanjutkan pendidikan tinggi dengan keterbatasan ekonomi, karena banyak sekali beasiswa yang bisa didapatkan bagi siswa-siswi,” tegas Imron.

Di sesi akhir, Diar Wildan Munandar mengajak siswa/i untuk membuat pupuk bokashi dari sampah daun. Panitia telah menyiapkan alat dan bahan untuk praktikum tersebut. Tujuan praktikum ini agar siswa/i mengerti bagaimana pengolahan sampah yang benar,  tidak hanya sekedar teori namun ditunjang dengan praktisi. 

“Pembuatan pupuk Bokashi dari sampah daun ini menggunakan metode komposting. Proses pembuatannya dengan cara daun dicacah kemudian dicampur dengan EM4, air gula, dan tanah yang kemudian didiamkan selama 3-5 minggu. EM4 sebagai bakteri bertujuan mendekomposisi daun sehingga lebih cepat terurai,” terang Dian. (ari)

Arianto Deni Candra Kurnuawan

Mahasiswa semester 9 UNESA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: