Seminar Kebangsaan & Maperca HMI Cabang Surabaya Komisariat Lidah Wetan Unesa

   Send article as PDF   

SURABAYA, oneindonesiasatu.com – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Surabaya Komisariat Lidah Wetan Unesa selenggarakan Seminar Kebangsaan dan Masa Perkenalan Calon Anggota (Maperca) HMI di Aula Koramil 0832/60 Karang Pilang kota Surabaya.

Acara ini mengambil tema, “Meneguhkan Rasa Cinta Kebangsaan Demi Mewujudkan Karakter yang Berkualitas Insan Cita”.

Sugeng selaku Babinsa kelurahan Wiyung kecamatan Wiyung mengatakan, membela negara tidak harus perang, namun mengikuti kegiatan seminar kebangsaan seperti ini adalah salah satu dalam membela negara.

“Tentara bukan diam tapi tentara dipastikan akan begerak ketika negara ini dalam keadaan genting, itu sudah dianalisa. Karna Indonesia lahir bukan semata-mata karna tentara, semua berperan saat itu, yang diawali anak-anak muda,” tegasnya dalam memberikan seminarnya di hadapan puluhan kader dan calon kader HMI. Jumat, (26/4/2019).

Ia menambahkan, 17 Agustus 1945 para kaum tua ragu, padahal Jepang sudah runtuh, kaum muda membuat skenario mendorong Soekarno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

“Saya berharap pemikiran anak muda sekarang seperti anak muda zaman dahulu”, harap Sugeng kepada anak-anak muda (HMI).

Selain materi yang disampaikan oleh Sugeng selaku Babinsa Kelurahan Wiyung, Seminar Kebangsaan dan Maperca pada kali ini juga dihadiri  Samwil sekalku Anggota DPRD Jatim dan Dian Hijrah Saputra yang sebagai Kepala SMP Labschool Unesa Lidah Wetan.

Di awal materi kakanda Samwil mengatakan, mengapresiasi kegiatan ini diselenggarakan di tempat TNI, berarti HmI kembali ke Barak.

“Janganlah HmI bermusuhan dengan TNI, karena HmI dibentuk untuk membantu TNI membela bangsa,” tegasnya.

Sementara itu, kakanda Dian mengutarakan bahwa, dalam proses bela negara ini, jadi tanggung jawab kita adalah mencerdaskan masyarakat, bagaimana kita bisa mencerdaskan masyarakat, ya kita harus mencerdaskan diri. Selalu mengaji dan mengkaji apa yang terjadi di lingkup masyarakat.

“Jangan hanya diam, karena mahasiswa yang katanya agent of change. Perlu dipikirkan kembali jika ingin masuk Himpunan Mahasiswa Islam, karena kami ingin berjuang atas nama keumatan dan kebangsaan, karena umat dan bangsa tidak bisa dipecahan, karena sejarah berdiri nya bangsa yaitu adanya umat,” lugas Dian.

Lanjut Dian, umat islam mengalah pada sidang BPUPKI penentuan dasar ideologi negara, yang umat islam bersikeras adanya piagam Jakarta, demi persatuan negara dari sabang sampai merauke akhirnya umat islam pada saat itu diwakili tokoh muslim akhirnya menyetujui produk yang kemudian disebut Pancasila.

“Maka dari itu umat islam dan bangsa tidak bisa dipisahkan. Jangan benturkan islam dengan bangsa Indonesia, islam tidak ingin mengganti pancasila, kalo ditanya apakah ada perpecahan itulah yang dilakukan oleh oknum yang ingin memecah islam dari dalam,” beber Dian.

Yang kemudian mengatakan islam agama yang keras, kata Dian, bagi HMI yang sepengetahuan dirinya dalam belajar NDP tidak ada islam garis keras, garis lembek.

“Ibarat makan roti tart harus dipotong, yang memecah itulah yang memotong tadi, ujar  Kakanda Dian selaku pemateri terakhir dalam acara seminar kebangsaan dan mapeca pada sore hari.

Di dalam seminar kebangsaan dan maperca juga adanya sesi tanya jawab. Satu pertanyaan yang ditanyakan oleh Kanda Muslim selaku ketua pelaksana, “jika orang yang belum mengikuti organisasi ekstra, pasti mikirnya jika kita mengikuti ormek akan memecah pertemanan.

Padahal setelah saya mengikuti HMI, saya dengan teman Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus (Ormek) lain selain hmi malah pertemanan terjalin baik, lalu apa yang membedakan hmi dengan ormek lain?”

Kakanda Dian menjawab, sejarah HmI berdiri pada 1947 karena keresahan karena islam pada saat itu golongan terbelakang, maka Lafran Pane berbicara di depan rekan-rekannya bahwa islam bukan sekedar agama kultural, bukan sekedar sholat, namun islam mengajarkan untuk kaya, pintar, cerdas, politik, ekonomi, berkeluarga, bermasyarakat karena di Al-Quran juga mengajarkan hal tersebut.

“Yang membedakan HMI dengan organisasi lain, bahkan HMI melahirkan PMII, IMM, harus kita sampaikan kepada mereka adik-adik kita. Kenapa muncul ormek lain karna NKKBK. Tidak ada yang salah di dalam ormek PMII , IMM, GMNI bagus,” pungkasnya.

Jika ingin malam jumat istighosah dan hafala, kata Dian, jadi kader yang tenang, masuk di PMII karena Nahdlatul Ulama (NU) itu ramah, teman IMM dengan islam kemajuannya islam modernisasi, teman-teman GMNI dengan semangat Soekarnonya, justru yang salah ketika kalian masuk HmI dan memanfaatkan HmI.

HMI organisasi kader, mencetak kader itu ada proses, seleksi alam dan harus siap untuk kualitas yang bagus. Yang membedakan logonya, untuk tujuan semua mempunyai tujuan yang baik,” tambahnya.

“Tingkatkan kualitas pola berfikir, setiap umat bisa bekerja, namun bekerjalah dengan pola pikir yang baik, itulah kader Hmi,” sambungnya sekaligus penutup. (ari)

 

Arianto Goder

Mahasiswa semester 9 UNESA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: