Tak Semua Keturunan Arab Seperti Dituduhkan Hendropriyono

   Send article as PDF   

AM Hendropriyono terang-terangan menyebut kelompok keturunan Arab yang memicu panas politik nasional paska Pemilu 2019 ini. Benarkah demikian, bila menelusuri profil dari oknum – oknumnya hampir dikatakan tuduhan mantan Kepala BIN ini benar

Sebut saja Habib Rizieq Shihab, Amien Rais, Haikal Hasan, Habib Bahar Smith adalah golongan keturunan Arab di Indonesia. Belum hilang dari ingatan kolektif kita, Anies Baswedan (golongan Arab) juga memicu “puting beliung” Pilkada DKI Jakarta karena di support HRS nota bene sesama ketururunan Arab

Klop, tuduhan pendiri PKPI di atas sulit dibantah, saya yakin Anies Baswedan dan Amien Rais tak berani menanggapinya. Kini seakan terulang lagi, Habib Rizieq Shihab melakukan hal sama seperti saat Pilkada DKI Jakarta. Dari tanah Arab Saudi, ia berkoar-koar memberikan komando dan pernyataan politik berkait dengan proses Pemilu




Indra Ganie, seorang penulis dan blogger pada tahun 2015 dalam peringatan 70 tahun Indonesia Merdeka pernah membuat tulisan berjudul : “Imperialisme Arab di Indonesia Sudah Jelas?“. Saya tertarik membaca hasil analisanya, secara runtut Ganie merunut kisah kedatangan bangsa Arab ke wilayah nusantara dan ekspansi pengaruh mereka dengan mengguna agama Islam

Indra juga menuturkan, golongan keturunan Arab di Indonesia mendapat hak istimewa apalagi dari garis keturunan nabi. Sebagian besar orang Indonesia menaruh hormat tinggi kepada mereka, lepas dari segala perbuatan mereka

Analisa Indra tersebut memberikan perspektif baru tentang agenda politik kelompok keturunan Arab di Indonesia. Untuk agenda politik golongan Cina sudah sering diungkapkan di banyak tulisan. Dengan tulisan Indra kita bisa lebih memahami konteks politik nasional dengan lebih luas

Indra juga mengungkapkan bahwa golongan keturunan Arab menggunakan agama Islam untuk merebut empati dan simpati masyarakat Indonesia. Terutama di bidang politik, tujuannya apa ? Jelas menanamkan hegemoni politik di Indonesia. Dalam pertarungan politik, hal itu wajar, faktanya Indonesia memang dihuni oleh berbagai kelompok keturunan dan masing-masing tentu ingin mempertahankan kepentingan. Bisa dikatakan sebagai bagian dari cara mempertahankan diri eksistensi kelompoknya

Di Amerika sebagai kiblat demokrasi pun terjadi hal serupa, disana juga ada kelompok-kelompok kepentingan dari berbagai bangsa. Kelompok – kelompok ini aktif melakukan lobi-lobi politik ke Senat dan Konggres. Salah satu kelompok terkuat adalah kelompok Yahudi, konon dapat menyetir kebijakan AS di Timur Tengah demi kepentingan nasional mereka. Lobi Yahudi bisa kuat karena perusahaan besar dunia yang berpusat di AS sebagian besar sahamnya dimiliki oleh keturunan Yahudi

Pertanyaannya, apakah Arab identik dengan Islam ?

Sebagai non-Muslim tadinya saya berpikir demikian, harus saya akui karena kurangnya referensi saya tentang kehidupan sosial dan budaya di Jazirah Arab. Saya berterima kasih kepada Pendeta Bambang Noorsena, pendiri Gereja Orthodox Syria di Indonesia yang memberikan pemahaman kehidupan budaya dan sosial di Semenanjung Arab dari perspektif non-Muslim

Secara demografis, tanah Arab tak hanya dihuni kelompok masyarakat beragama Islam, tetapi juga masyarakat dari agama lain seperti Kristen, Khatolik, Zoroaster dari Persia / Iran. Bagi yang sudah melihat film Freddie Mercury (Queen) “Bohemian Rhapsody“, keluarga Freddie adalah pengikut Zoroaster. Inilah agama-agama di Timur Tengah sebelum Islam lahir, juga di Indonesia ada agama-agama lain di luar 5 agama besar

Tuduhan AM Hendropriyono bisa salah, juga analisa dari Indra Ganie, Arab adalah suku bangsa, tak semua orang Arab atau Arab beragama Islam mempunyai agenda politik. Persepsi umum harus diluruskan dari penyederhanaan pikiran bahwa Arab itu identik Islam. Meski masyarakat juga tak bisa disalahkan karena mayoritas orang Arab di Indonesia beragama Islam

Lebanon juga masuk suku bangsa Arab, barangkali ada juga Arab Lebanon di Indonesia. Konon Lebanon memiliki emigran terbanyak di dunia (16 juta jiwa) dibandingkan penduduk yang tinggal sekitar 3, 8 juta jiwa. Mayoritas emigran Lebanon beragama Kristen, kelompok agama ini tadi mayoritas di Lebanon sebelum perang saudara

Negara ini pernah menjadi salah satu negara Arab termaju, dihuni berbagai agama, demokratis sebelum hancur oleh perang saudara (1975 – 1990). Selain perbankan, pariwisata Lebanon juga sangat terkenal bahkan dijuluki “Paris – nya Timur Tengah“. Bahkan di Wikipedia disebutkan dulu Lebanon memiliki Industri Perbankan paling modern di semenanjung Arab sebelum perang saudara puluhan tahun sehingga dikenal sebagai “Swiss-nya Timur Tengah

Sebenarnya bukan orang-orang keturunan Arab yang membuat panas iklim politik saat. Di era perang proxy saat ini bisa jadi kelompok ini hanya proxy yang dimanfaatkan pihak lain

Setiap suku bangsa merindukan kedamaian, hanya orang-orang haus kekuasaan yang memanfaatkan identitas suku dan agama untuk ambisi kekuasaan dan keserakahan

Artikel ini juga saya tulis dan terbitkan di Kompasiana dengan judul “Tak Semua Keturunan Arab Seperti Dituduhkan Hendropriyono




Sigit Bud

Salah seorang kontributor di Kompasiana, UCNews, Kumparan dan One Indonesia Satu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: