AMP-TKP Menuntut Penyelenggara Negara Invenstigasi Tuntas atas Tragedi Pemilu 2019

   Send article as PDF   

JAKARTA, oneindonesiasatu.com – Sejumlah tokoh masyarakat madani lintas agama, suku, dan profesi yang prihatin terhadap kematian dan jatuh sakit masal para petugas Penyelenggara Pemilu, dan Keamanan.

Sehingga mendirikan gerakan dengan nama Aliansi Masyarakat Peduli Tragedi Kemanusiaan Pemilu 2019. Mereka menuntut investigasi serius, tuntas, dan transparan. Berikut pernyataannya :

Aliansi Masyarakat Peduli Tragedi Kemanusiaan Pemilu 2019 > “Lakukan Investigasi Tuntas”

Dengan nama Tuhan Yang Maha Esa, kami unsur-unsur masyarakat madani Indonesia lintas agama, suku, dan profesi, bersepakat membentuk Aliansi Masyarakat Peduli Tragedi Kemanusiaan Pemilu 2019 (disingkat AMP-TKP 2019).

Sebagai wujud kepedulian dan keprihatinan terhadap kejadian luar biasa atau tragedi Kemanusiaan Pemilu 2019, dengan ini kami menyatakan hal-hal sebagai berikut:

1. Kematian 554 orang dan jatuh sakit 3.778 orang pada Pemilu 2019 (per 4 Mei 2019, viva.co.id/05-05-2019), yang terdiri dari petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) dan Polisi, adalah Kejadian Luar Biasa (KLB).

Inilah Tragedi Kemanusiaan yang menuntut perhatian dan keprihatinan kita semua, baik masyarakat maupun utamanya Penyelenggara Pemilu dan Pemerintah.

Kejadian Luar Biasa/Tragedi Kemanusiaan ini telah menimbulkan citra buruk Indonesia di mata internasional dan menciderai pelaksanaan Pemilu 2019 yang berdasarkan asas langsung, bebas, rahasia, adil, jujur, transparan, dan akuntabel.

Lemahnya tindakan pencegahan dan penanganan telah menyebabkan korban berjatuhan secara beruntun, masif, dan tragis.

2. Adalah tidak arif jika Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan Pemerintah menyikapi tragedi tersebut sebagai kejadian biasa, suatu sikap yang bernada mengabaikan dan kurang menunjukkan sikap bertanggung jawab.

3. Adalah penting bagi bangsa mengetahui penyebab Kejadian Luar Biasa/Tragedi Kemanusiaan tersebut untuk menghindari berkembangnya prasangka yang tidak perlu, dan agar tragedi serupa tidak terulang pada masa mendatang.

Maka atas dasar Sila Kedua Pancasila, “kemanusiaan yang adil dan beradab,” kami mendesak dilakukannya investigasi yang bersungguh-sungguh, mendalam, tuntas, transparan, dan berkeadilan.

4. Kami menuntut Penyelenggara Negara untuk hadir memberikan respons positif yang nyata terhadap Kejadian Luar Biasa/Tragedi Kemanusiaan tersebut melalui Tim Pencari Fakta yang dibentuk dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat madani.

5. Kami meminta Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) untuk turun tangan melakukan penyelidikan atas kemungkinan telah terjadi pelanggaran HAM dalam Kejadian Luar Biasa/Tragedi Kemanusiaan pada Pemilu 2019.

6. Kami mengajak segenap elemen masyarakat madani yang cinta keadilan dan kebenaran, serta peduli kemanusiaan, untuk bersama-sama melalui AMP-TKP 2019 ikut menanggulangi Kejadian Luar Biasa/Tragedi Kemanusiaan Pemilu 2019 secara tuntas.

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah Swt meridhai langkah kita. Wassalam.

Pendukung : Aay M. Furkon, Abdul Aziz Basyaruddin, Adiwarsita Adinegoro, Adnan Madani, Ahmad Sastra, Ahmadie Thaha, Alaidin Athory, Ali Akbar Soleman, Alia Baidhowi, Amidhan Saberah, Andrianto, Ani Hasibuan, Anwar Abbas, Any Setianingrum, Asep P. Bahtiar, Bahtiar Effendy, Bambang Prasetya, Bob Hasan, Busyro Muqoddas, Buya Muhammad Nurman, Chairul Tamimi, Chusnul Mar’iyah, Cut Meutia Adrina, Dadang Kahmad, Deni Solehudin, Dudi Salam, Faisal Haq, Edhi Mulyono, Gus Hafidh, Hamdani, Herry Sinaramata, Imbalo Iman Sakti, Iwan Piliang, Jeje Zaenudin, Joko Intarto, Jose Rizal, Latief Awwaludin, M. Din Syamsuddin, M. Lukman Ashari, Marah Sakti Siregar, Misbahuddin, Mohammad Siddik, Muhammad Chirzin Mpu Jaya Prema Ananda, Nashirul Haq, Nurjaman Mochtar, Nyoman Udayana Sangging, Reza Indragiri Amriel, S. Iskandar Sbw, Siane Indriani, Sri Lestari Linawati, Teuku Nasrullah, Tifauzia Tyassasmita, Umar Husin, Usep Syaefulloh, Widya Murni, dan Wilson Lalengke.

Para pemrakarsa terdiri dari tokoh agama, pimpinan organisasi, akademisi, advokat, dokter, profesional lain, dan aktifis sosial. Dukungan masih dibuka. Terima kasih.

Sumber : M. Din Syamsuddin

Arianto Goder

Mahasiswa semester 9 UNESA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: