Pembunuh Bayaran yang Incar 4 Tokoh Nasional dan Ketua Lembaga Survei Ditangkap

   Send article as PDF   

Sebagaimana telah diketahui bersama, pembunuh bayaran yang mengincar nyawa empat tokoh nasional dan pimpinan sebuah lembaga survei ditangkap pihak kepolisian

Hal tersebut disampaikan Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Muhammad Iqbal di jumpa pers di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta pada hari Senin tanggal 27 Mei 2019

Awalnya Irjen Pol Muhammad Iqbal membeberkan kronologi penangkapan segerolomban pembunuh bayaran serta penjual senjata api (senpi) ilegal tersebut

Siang ini kami akan menyampaikan hal tersebut, yaitu dengan kepemilikin senjata api ilegal yang akan digunakan dalam aksi 21-22 Mei, dan rencana pembunuhan. Waktu kejadian pada 21 Mei 2019 tempat kejadian perkara Hotel Megaria Cikini, Jakarta Pusat. Tindak pidana kepemilikan senjata api berserta amunisi dalam Pasal 1 dengan ancaman hukuman seumur hidup atau 20 tahun penjara,” jelas Irjen Pol Muhammad Iqbal sebagaimana dikutip dari tayangan langsung Kompas TV




Irjen Pol Muhammad Iqbal kemudian menjelaskan peranan dari kelima tersangka berinisial HK, AZ, IR, TJ, AD dan AV

Rencana pembunuhan tersebut diketuai atau dipimpin oleh terangka HK yang bertugas mencari eksekutor dan sekaligus menjadi eksekutor dalam rencana pembunuhan tersebut.l

Selain itu, HK juga turun dalam aksi massa yang berakhir ricuh di 21 Mei 2019 dengan berbekal senpi

Tersangka HK, dia adalah ketua perannya mencari senjata api dan sekaligus mencari eksekutor dan menjadi eksekutor, serta memimpin turun pada aksi 21 Mei dengan membawa senpi. Bersangkutan menerima uang Rp 150 juta,” jelas Irjen Pol Muhammad Iqbal

Tersangka AZ dan IR merupakan eksekutor dibawah kepemimpinan HK

Tersangka kedua AZ, peran mencari eksekutor sekaligus menjadi eksekutor. Tersangka ketiga IR, berperan sebagai eksekutor menerima uang Rp 5 juta,” jelas Irjen Pol Muhammad Iqbal

Serupa dengan AZ, IR, dan HK, tersangka TJ juga berperan sebagai eksekutor yang mengusai beberapa jenis senpi.

Tersangka keempat TJ, berperan sebagai eksekutor dan mengusai senpi, tersangka menerima uang Rp 50 juta,” lanjut Irjen Pol Muhammad Iqbal

Tersangka AD dan AV memiliki peranan sebagai penjual senpi rakitan dan organik. Selain itu, AD dan TJ diketahui posifif menggunakan narkoba

TJ positif amvitamin. Tersangka kelima AD, peran penjual tiga senpi rakitan, senpi rakitan laras panjang dan pendek kepada HK, menerima penjual sepi Rp 2,6 juta. Tersangka AV peran pemiliki senpi, ini seorang perempuan, tadi lima laki-laki, penjualan senpi Rp 50 juta,” beber Irjen Pol Muhammad Iqbal

Irjen Pol Muhammad Iqbal menjelaskan bahwa HK mendapatkan perintah dari seseorang pada 1 Oktober 2018 untuk membeli Senpi

Irjen Pol Muhammad Iqbal juga mengaku bahwa pihaknya telah mengantongi identitas seseorang yang menyewa jasa atau memerintahkan HK

Setelah mendapatkan senjata dari AF, HK menyuruh TJ untuk membunuh dua tokoh nasional

Tersangka HK menerima perintah dari seseorang 1 Oktober 2018, pihak kami sudah mengetahui identitasnya, untuk membeli senpi. 13 Oktober 2018 HK memberi senpi sebesar Rp 50 juta dari AF. 14 Maret 2019 tersangka HK menerima uang Rp 150 juta dan TJ mendapat bagian Rp 25 juta dari seseorang. Dimana TJ diminta untuk membunuh tokoh nasional,” cerita Irjen Pol Muhammad Iqbal

TNI dan pihak kepolisian telah mengetahui siapa tokoh nasional yang menjadi sasaran sekelompok pembunuh bayaran tersebut

Saya tidak sebutkan di depan publik, TNI dan Polri sudah paham,” ujar Irjen Pol Muhammad Iqbal

Pada 12 April 2019, HK kembali diperintahkan untuk membunuh dua tokoh nasional lainnya dan di bulan yang sama, AZ diminta untuk membunuh seorang pemimpin lembaga survei

Irjen Pol Muhammad Iqbal menerangkan bahwa para eksekutor tersebut telah beberapa kali mengintai atau mensurvei rumah keempat tokoh nasional tersebut

12 April HK mendapatkan perintah untuk membunuh dua tokoh nasional lainya, jadi empat target. Bulan April 2019 terdapat juga perintah lain melalui AZ untuk membunuh pimpinan lembaga swasta, lembaga survei. Dan tersangka tersebut sudah beberapa kali menyurvei rumah tokoh nasional,” cerita Irjen Pol Muhammad Iqbal




Anonymous

Penulis yang tidak mau diketahui identitasnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: