Makna Tradisi Bancakan bagi Masyarakat Kecamatan Wringinanom

   Send article as PDF   

MALANG, oneindonesiasatu.com – Bancakan merupakan salah satu kegiatan yang sudah menjadi tradisi keagamaan bagi masyarakat Kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik.

Tradisi ini seperti slametan atau syukuran, tetapi dilakukan bukan secara individu tetapi bersama-sama. Tradisi bancakan dilakukan setiap kamis pahing dan kamis kliwon. Tradisi ini dilakukan di musholla sekitar rumah setelah sholat maghrib dengan membawa berkat.

Dalam tradisi Bancakan, warga membawa makanan yang disebut berkat. Makanan ini dibungkus daun pisang sebagai alasnya. Berkat yang dibawa tidak ditentukan jenisnya.

Tergantung dari keluarga yang membawanya akan memberi apa. Ada yang membawa berkat nasi ataupun palapendem. Berkat yang dibawa tidak harus banyak, tetapi disesuaikan dengan kemampuan keluarga.

Berkat yang telah dibawa akan ditaruh di tengah-tengah. Masyarakat akan duduk melingkari berkat. Mereka akan berdoa secara bersama-sama dengan membaca tahli secara khusyuk.

Doa dipimpin dari salah seorang tokoh agama. Setelah selesai berdoa maka akan dilanjutkan dengan tukar berkat. Berkat yang telah disediakan akan ditukar dengan warga lain.

Jadi mereka akan mengambil makanan yang bukan milik mereka. Makanan akan dimakan disana dan jika sisa akan dibawa pulang. Setelah selesai tukar berkat maka mereka akan mengobrol santai tentang kehidupan.

Bancakan sangat disakralkan bagi masyarakat Kecamatan Wringinanom. Bancakan merupakan tradisi keagamaan, tetapi ada maskud lain dari tradisi ini.

Selain memanjatkan doa syukur dan mendoakan para leluhur yang telah meninggal. Ternyata, dibalik bancakan ada makna yang terpendam.

“Bancakan digunakan untuk ajang silaturahmi secara tidak langsung. Silaturuhmi yang terus berlangsung ini menimbulkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan.

Kebersamaan yang dimaksud dapat dilihat dari rasa kekeluargaan saat acara bancakan. Makanan yang dibawa tidak harus mewah dan banyak. Tetapi semampu keluarga dan seikhlasnya.

Hal ini berarti tidak membeda-bedakan golongan dan jenjang. Warga tidak akan memilih berkat yang ditukar tetapi sedapatnya mereka. Mereka dengan senantiasa membantu sesama warga yang membutuhkan jika dibutuhkan saat acara bincang-bincang.

Dalam penelitian Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) Universitas Negeri Malang (UM) mengangkat dampak berdirinya pabrik bagi masyarakat sekitar di Kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik. Pada PKM tersebut bahwa ada dampak yang ditimbulkan pabrik terhadap eksistensi tradisi Bancakan.

Sumber : Rista Anggraini (Jurusan IPS), Kholifatus Saadah (Jurusan Geografi), dan Veneshia Auralia Medida (Jurusan IPS) Universitas Negeri Malang (UM)

Arianto Goder

Mahasiswa semester 9 UNESA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: