Pabrik Memiliki Nilai Jual Tinggi Dibanding Pertanian

   Send article as PDF   

MALANG, oneindonesiasatu.com – Tidak ada alasan untuk bekerja di pertanian lagi. Pertanian kini sudah tak diminati lagi apalagi bagi kaum muda. Pertanian dianggap sudah kuno dan tidak memiliki nilai jual yang tinggi.

Salah satu alasannya karena adanya industri yang mampu memberikan lapangan pekerjaan meskipun hanya sebagai buruh pabrik. Setidaknya bekerja di pabrik sudah memiliki gaji pasti dan tidak mungkin rugi seperti pertanian yang belum tentu hasilnya.

Pabrik menjadi daya tarik bagi para pemuda desa yang akan bekerja. Bukan hanya para pemuda, tetapi rentangan usia kerja juga akan lebih memilih bekerja di pabrik.

Ketika bekerja di pabrik mereka tidak perlu jauh-jauh pergi ke kota lain. bagi mereka yang dulunya sebagai buruh tani menjadi sangat menguntungkan saat ada pabrik.

Bagi para pemilik lahan pertanian mereka banyak yang menjual lahannya dengan berbagai alasan. Mereka menjual karena pertanian tidak menjanjikan hasilnya.

“Pemilik lahan yang menjual lahan biasanya akan bekerja di pabrik juga jika masih muda. Jika mereka sudah tua maka biasanya mereka tidak akan bekerja, tetepi sudah mulai mengantungkan ke anaknya,” ucap Mariyah selaku petani desa Wringinanom yang tanpa disadarinya bahwa adanya pabrik menyulitkan pertanian.

Air yang ada menjadi licin sehingga lahan mereka menjadi kurang subur. Hal ini menyebabkan lahan pertanian susah untuk ditanami. Hasil pertanian ini tidak bisa maksimal seperti pada saat dulu.

Hal inilah yang juga menyebabkan para petani menjual lahan mereka. Alasan tersebut menyebabkan petani rela menjual lahan pertanian mereka untuk industri.

Lebih baik menjualnya daripada tidak mendapat keuntungan yang lebih dari sawah mereka. Meskipun mereka tahu bahwa yang menyebabkan air menjadi licin karena pengaruh limbah pabrik itu sendiri.

Ada dampak positif dan negatif dari pembangunan industri di Kecamatan Wringinanom. Penelitian yang diangkat pada kali ini yaitu dampak berdirinya pabrik-pabrik besar  bagi masyarakat di sekitar Kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik.

Penelitian ini dilakukan oleh Kholifatus Saadah – Mahasiswa Jurusan Geografi Universitas Negeri Malang (UM) untuk Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) tahun 2019.

Arianto Goder

Mahasiswa semester 9 UNESA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: