Grebeg Suro Daya Tarik Ponorogo

   Send article as PDF   

MALANG, oneindonesiasatu.com – Pemerintah Ponorogo tak berhenti dalam mengelola wilayahnya untuk dapat dikenal di mancanegara. Ponorogo dikenal sebagai Ethnic Art of Java yang memiliki makna bahwa Ponorogo mempunyai keunikan tersendiri dibandingkan dengan kota yang lainnya khususnya dibidang seni budaya.

Salah satu budaya yang dikenal asli dari Ponorogo selain Reyog yaitu Grebeg Suro dan Larungan sesaji di Telaga Ngebel.

Hal ini diungkapkan Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Sosial Humaniora UM. Tim ini terdiri dari Ketua Istikharotul Khoirun Nisa’, Elis Sri Kusumawati dan Eka Ari Widayanti dengan dosen pembimbing Dra Yuswanti Ariani Wirahayu.

“Grebeg Suro selain sebuah budaya juga sebagai penarik wisata asing amupun local untuk datang dan ikut merayakn pesta rakyat tersebut, ungkap Ketua Tim Istikharotul Khoirun Nisa’.

Tradisi Grebeg Suro kini telah menjadi suatu pariwisata budaya yang terdapat di Ponorogo. Grebeg Suro merupakan Tradisi asli Ponorogo yang telah dikenal di seluruh penjuru.

Tradisi Grebeg Suro memiliki daya pemikat yang cukup tinggi dengan berbagai adat, budaya dan rangkaian kegiatan yang dilakukan.

Kegiatan yang cukup besar ini tidak lepas dari sumbang siur dari pemerintah Kabupaten Ponorogo terkhusus di bidang pariwisata. Semua masyarakat sangat antusias dalam pelaksanaan acara ini.

Grebeg Suro adalah sebuah peringatan pergantian tahun hijriah yang dilaksanakan pada 1 Muharram (satu suro pada penanggalan  bulan jawa). Tradisi ini tidak dilakukan disemua tempat. Namun, Grebeg Suro dilakukan dibeberapa tempat yaitu Alon-alon Ponorogo, Makam Bathara Katong, dan Telaga Ngebel.

“Acara ini berupa wujud pesta rakyat yang dibarengi dengan Festival Reyog Nasional, Pawai Lintas Sejarah dan Kirab Pusaka, serta Larung Sesaji” ungkap Sugeng selaku Pegawai Dinas Pariwisata Kabupaten Ponorogo.

Dipaparkanya rangkaian Grebeg Suro di antaranya, prosesi penyerahan pusaka ke makam bupati pertama Ponorogo. Kemudian disusul pawai ratusan orang menuju pusat kota dengan menunggang bendi dan kuda yang dihiasi.

Berikutnya akan ada Festival Reog Nasional di alun-alun kota. Saat itu puluhan grup reyog di Jawa Timur bahkan dari Kutai Kartanagara, Jawa Tengah, Balikpapan, dan Lampung akan turut tampil memeriahkan acara ini.

Sumber : Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Sosial Humaniora Universitas Negeri Malang :

Yuswanti Ariani Wirahayu (Pembimbing)

Istikharotul Khoirun Nisa’ (Ketua)

Elis Sri Kusumawati (anggota)

Eka Ari Widayanti (anggota)

 

Arianto Goder

Mahasiswa semester 9 UNESA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: