Mendobrak Mitos Sebuah Budaya Ponorogo

   Send article as PDF   

MALANG, oneindonesiasatu.com – Pulau Jawa merupakan pulau yang memiliki banyak cerita mistis baik berupa legenda ataupun cerita masyarakat setempat. Ponorogo pun memiliki cerita tersendiri dibalik keunikan budayanya.

Selain itu, setiap wilayah memiliki tempat sacral yang memiliki cerita dibaliknya. Salah satu tempat sakral yang terdapat di Ponorogo yaitu Telaga Ngebel.

Hal ini diungkapkan Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Sosial Humaniora UM. Tim ini terdiri dari Ketua Istikharotul Khoirun Nisa’, Elis Sri Kusumawati dan Eka Ari Widayanti dengan dosen pembimbing Dra Yuswanti Ariani Wirahayu.

Telaga Ngebel merupakan telaga yang terdapat di Desa Ngebel, Kabupaten Ponorogo yangmana tempat ini merupakan tempat sakral dari berlangsungnya acara Larungan yang dilaksanakan pada hari pergantian tahun Hijriah bertepatan pada 1 Suro (1 Muharram).

“Telaga Ngebel ini memiliki legenda tersendiri, jadi masyarakat sejak dahulu ya sudah melaksanakan tradisi larungan tumpeng dan sesaji disana,” ungkap Deni, warga desa Ngebel.

“Legenda yang berkembang dimasyarakat yaitu pada zaman dahulu terdapat seorang anak bertubuh kerdil yang dikenal dengan Baru Klinting meminta makan disuatu desa.

“Namun, karena disangka ia adalah orang gila masyarakat setempat mengusirnya. Lalu, ia menancapkan sebuah lidi yangmana tidak ada yang dapat mencabutnya dengan begitu anak itu mencabut lidi tersebut dan keluarlah air yang banyak sehingga menenggelamkan desa itu,” ungkap Sugeng, Dinas Pariwisata Ponorogo.

Berdasarkan legenda tersebut telaga ini menjadi suatu tempat yang memiliki kisah tersendiri dengan itu menjadi tempat pariwisata yang ada di Ponorogo.

Tradisi Larungan ini sejenis ritual dengan rangkaian acara yang cukup padat, diantaranya yaitu menenggelamkan tumpeng raksasa, mengubur kambing gendit, dan berbagai tarian asli Ponorogo.

“Tradisi larungan tumpeng di Telaga Ngebel itu sudah sejak dahulu dimaksudkan untuk memberi makan bumi dan hewan di telaga seperti ikan-ikan disana, jadi menurut kami hal itu sama dengan memberi sedekah dengan bumi,” ungkap Mujiono kepala Desa Gupolo Kabupaten Ponorogo.

“Karena masyarakat sekitar masih menganggap hal ini merupakan kebutuhan bagi masyarakat Telaga Ngebel untuk meminta keselamatan.

Kepentingan dari dinas Pariwisata sah-sah saja karna dimasyarakat banyak kelompok yang berbeda-beda sehingga harus saling toleransi.

“Dan terdapat pula anggapan bahwa di Telaga Ngebel terdapat penunggu gaib sehingga perlu diberi sesaji setiap tahunnya sama halnya dengan daerah Bromo yangmana juga memberi sesaji dengan gunung,” tutur Sugeng, Dinas Pariwisata Ponorogo.

Dari berbagai rangkaian acara yang dilaksanakan di Telaga Ngebel dimaksudkan untuk dua hal yaitu sebagai penarik wisata dan sebagai tradisi yang harus dilaksanakan setiap tahunnya.

Dibalik sejarah kelam Telaga Ngebel menjadikan area ini banyak di jaga kelestarian alamnya. Selain it pula, di area telaga ini terdapat terowongan Belanda yangmana merupakan objek wisata bersejarah.

Sumber : Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Sosial Humaniora Universitas Negeri Malang :

Yuswanti Ariani Wirahayu (Pembimbing)

Istikharotul Khoirun Nisa’ (Ketua)

Elis Sri Kusumawati (anggota)

Eka Ari Widayanti (anggota)

LINE it!

Arianto Goder

Mahasiswa semester 9 UNESA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: