Adilkah Tuhan?

   Send article as PDF   

SURABAYA, oneindonesiasatu.com – Sempat kaget dengan beberapa pertanyaan yang tiba-tiba muncul dan mengeras dalam otak. Mungkin kamu pernah mengalaminya.

Sedikit rumit ketika tidak bisa menjawab hingga menjadi renungan diri mengenai keyakinan terhadap Tuhan, rasa peduli berlebih kepada orang lain. Apakah Tuhan itu adil?

Apakah agama yang sebenarnya itu ada? Beberapa keresahan ini selalu hadir ketika setiap manusia tidak bisa menyeimbangkan antara logika dengan perasaan.

Dalam quotesmainstreamyang biasa didengar mengatakan bahwa, “Perlakukan orang lain seperti kamu memperlakukan dirimu sendiri”.

Bagaimana dengan ini? Apa sudah sempat mempraktikannya? Apakah sudah merasakan efeknya? Ataukah sudah mengalami perubahan di setiap praktiknya?

Bingung memang, jika berbicara mengenai manusia. Pernah berpikir lebih banyak mengenai orang lain daripada dirimu sendiri? Mungkin ini salah satu keresahan yang dialami penulis. Karenakan, semakin banyaknya perdebatan yang tak berujung damai.

Apalagi persoalan sensitif dari beberapa tahun ini hingga menjadikan banyaknya perspektif negatif tentang Agama yang tidak disampaikan dengan menyenangkan.

Salah satu agama mengatakan, “Agamaku benar.” Agama lain berkata, “Hey. Agamaku lebih benar.” dibantah lagi oleh agama lainnya, “Bukan, berdasarkan kitabku agamaku yang paling benar.” Ada pun yang mengujarkan, “Agamamu salah, Aku yakin agamaku benar.”

Bisakah untuk bersikap tidak melulu mengenai ‘Aku’? Bisakah untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara? Bisakah mengurangi ucapan menyinggung hati? Bisakah mencari solusi dan memperkecil masalah?

“Apakah agamamu benar? Apakah ada yang salah dengan agamaku?” Apakah bisa berdiskusi mengenai kegalauan akan agama dengan memulai berpikiran terbuka? Tidak ada perasaan kalah ataupun menang.

Berusaha untuk mengkaji masing-masing agama dengan cara yang berbeda. Menjadi seorang yang lebih banyak belajar bukan mengajar. Diamlah jika ingin tahu banyak tentang sesuatu yang baru.

Agamamu mengatakan bahwa, “Selain mereka yang tidak memeluk agamamu akan mendapatkan balasan yang kejam dan dipastikan tidak akan pernah mencium bau surga.”

Agama lainnya mengatakan bahwa, “Jika sampai mati tidak berpegang teguh pada agama yang dianutnya, maka tidak akan pernah diterima seluruh amal baik di dunia.”

Setelah mengetahui jika agamamu dianggap paling benar, apa yang harus dilakukan? Apa perasaan awalmu ketika mendengar pernyataan tersebut? Apakah harus bersyukur?

Apakah harus menyesal? Apakah harus marah? Apakah harus kecewa? Apakah harus bahagia? Apakah harus bersedih? Apakah harus takut? Pastinya. Agama tidak akan mengajarkan seseorang berlaku buruk. Agama membuat manusia menjadi seorang yang berpotensi untuk berbuat baik.

Bagaimana dengan manusia lainnya yang pernah kamu kenal sebelumnya? Bagaimana nasib mereka ketika masih yakin dengan kepercayaannya, terhadap agamanya pula yang paling benar? Terkadang penulis merasakan bahwa, apa artinya hidup jika tidak berguna bagi orang lain? Lalu apa yang pasti dapat dilakukan?

Mereka harus percaya bahwa agamaku paling benar. Aku harus mempengaruhi mereka untuk yakin bahwa agamanya salah. Aku harus menyelamatkan mereka dari api neraka. Aku tidak ingin mereka menjadi makhluk yang terjerumus dalam dosa.

Tapi, hidup tidak cenderung untuk hanya berbuat baik kepada antar manusia. Hubungan spiritual dengan Tuhanmu juga perlu. Apa tidak bisa untuk sama-sama duduk dan berpikir demi mencapai kehidupan yang lebih baik?

Harusnya sama-sama mengkaji setiap kitab suci yang ada. Pada dasarnya, manusia dengan kelebihan akal yang dimiliki dimaknai bahwa harusnya lebih banyak berpikir.

Gunakan logika untuk dapat menyerap banyak ilmu yang bisa didapatkan. Tentunya tidak sembarang orang bisa memberikan pemahaman terhadap kitab suci, bahasa spesial dari firman Tuhan.

Memang akal manusia terbatas, kemungkinan ada beberapa bahasa yang tidak bisa dijangkau dengan logika, tetapi hanya bisa dirasakan oleh hati.

Tapi cobalah memahami dengan pikiran yang bersih dengan tidak dominan menggunakan rasa. Karena setiap pemeluk agama akan mudah menerimanya jika dijelaskan dengan pemahaman logika.

Bertindaklah untuk tidak menggiring ke salah satu agama yang paling benar. Hanya berupa penjelasan berlajut dengan pemaknaan diri. Fokus pada hal yang menjadi permasalahan. Fokus pada apa yang menjadi pertanyaan.

Sudahkan berpikir mengenai kemungkinan terbaik bahkan terburuk ketika kamu memutuskan untuk belajar agama orang lain? Sudah siapkah dengan segala resiko yang ada?

Sejatinya manusia dituntut untuk terus berpikir, karena diberikan kelebihan akal untuk dapat menghasilkan yang baik dan bermanfaat.

Terus berpikir, terus belajar, dan terus menghasilkan nilai yang dapat dijadikan panutan bagi orang lain. Memperdalam agama sendiri itu baik, tetapi mempelajari agama orang lain juga tidak masalah, selagi tidak membuat iman berkurang.

Tetapi, bagaimana jika nantinya agama yang kamu anggap benar ternyata salah? Bagaimana jika keraguanmu tentang agama, tentang Tuhan dapat terjawab? Bagaimana jika pembelaanmu terhadap agama berbalik mematahkan seluruh keyakinanmu?

Bagaimana jika keyakinanmu mulai luntur ketika mempelajari agama lain? Apa yang bisa kamu lakukan setelah itu? Apa kamu yakin ini benar?

Tanyakan ke orang yang lebih paham tentang Ilmu agama yang kamu pelajari. Jika semakin bingung teruslah bertanya hingga kamu yakin bahwa ini benar agama yang kamu percaya.

Maka, harusnya selalu memberikan perbandingan apa saja yang sekiranya bisa dikaji. Tahukah kalau kedudukan manusia di mata Tuhannya itu sama? Yang membedakan hanya amal dan perilaku selama di dunia.

Jadi, kawan, Jangan anggap temanmu sebagai lawan hanya karena mereka tidak sama denganmu. Temanmu suka genre music pop indie.Kamu suka genre musik pop rock. Jangan terlalu fokus dengan perbedaan.

Lihatlah banyaknya persamaan yang bisa kamu dapatkan. Sama-sama suka music, genre musicnya pun masih pop. Ini tidak jauh beda. Jadi, jangan buat orang lain selalu sama denganmu, harus jadi seperti yang kamu mau.

Ingat satu hal, manusia diberikan kelebihan akal, jadikan perbedaan tersebut sebagai cara untuk memahami dan mempelajari hal-hal baru.

Sama halnya dengan agama. Kamu tidak bisa memaksakanorang lain untuk sama denganmu. Bisakah untuk hidup berdampingan?

Bisakah menghilangkan Pola pikir yang negatif terhadap ajaran agama lain? Pikiran buruk terhadap orang lain yang tidak percaya dengan agamamu?

Tapi, yang penulis lihat akhir-akhir ini banyak mendengar beberapa kasus yang membuat geram hati. Seperti Persekusi terhadap Umat Kristen di Tiongkok yang dilansir oleh jawapos.com terkait dengan seorang pemimpin gereja terkemuka divonis 7 tahun penjara setelah membangun sekolah Kristen di Myanmar.

Selain itu belasan orang Kristen dikenai hukuman hingga 13 tahun penjara dikarenakan terlibat dalam apa yang disebut pemujaan.

Hal ini membuat beberapa pastor dan keluarga melarikan diri ke Amerika Serikat. Adapun di suatu daerah telah mendorong umat Kristen untuk mengganti poster Yesus dengan Presiden Xi.

Adanya Persekusi (Pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang/sejumlah warga yang kemudian disakiti, dipersusah atau ditumpas) terhadap Muslim Uighur di Cina.

Dilansir melalui www.bbc.newsbahwa terdapat kelompok hak asasi manusia yang mengatakan bahwa para umat Muslim ditahan dan dipaksa menyatakan kesetiaan kepada Presiden Xi Jinping.

Di samping mengecam atau meninggalkan keyakinannya dengan dalih memberikan kamp pendidikan kembali yang bernama “Pusat Pelatihan Pendidikan dan Keterampilan Kejuruan”.

Tujuannya, bukan untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi untuk orang-orang yang terpengaruh paham ekstrimisme. Kamp ini merupakan bagian dari serangan lebih luas terhadap ekstrimisme berhaluan Islam di Xianjiang.

Hal ini menjadikan kegelisahan yang begitu hebat terhadap toleransi antar umat beragama. Selalu dirundung keresahan, amarah, kekecewaan, dan buruk sangka terhadap umat lain. Padahal nyatanya, belum tentu seperti itu.

Bisakah kita menerapkan seperti di salah satu Kota di Indonesia yakni di Singkawang, Kalimantan Barat? Bukti toleransi yang dilakukan dapat dilihat ketika parade Cap Go Meh dengan dimeriahkan parade naga juga pawai kendaraan hias.

Selain itu, ketika momen Sholat Jumat tiba di hari tersebut, hingar bingar pun mendadak reda saat adzan berkumandang. Umat Muslim beribadah, sementara masyarakat etnis Tionghoa beristirahat sejenak. Tidak salah jika menduduki peringkat pertama Kota Toleran di Indonesia.

Sungguh tindakan yang apik ketika bisa diterapkan di daerah lain sehingga, bisa memberikan gejolak yang damai pada setiap aktivitas beragama.

Meskipun kita berbeda, tidak bisakah kita berteman?

Oleh : Danita Astri Utami – Mahasiswa Program Studi Ekonomi Islam Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya

Arianto Goder

Mahasiswa semester 9 UNESA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: