Hanya Indeks Ini Tak Diklaim Anies Baswedan Sebagai Keberhasilan

   Send article as PDF   

Di ulang tahun Kota Jakarta ke 492 Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memamerkan sejumlah prestasi selama 1,5 tahun sebagai menjabat gubernur, rata-rata yang dipamerkan adalah lanjutan kinerja pemerintahan sebelumnya

Selain itu capaian tersebut lebih bersifat administratif pemerintahan yang memang seharusnya dilakukan oleh Pemda, sebut saja predikat WTP, penghargaan dari KPK salah satunya adalah kategori Pemerintah Daerah dengan Penerapan Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara Terbaik Tahun 2018 (okezone 22/06/2019)

Dalam Rapat Paripurna Istimewa DPRD Provinsi DKI Jakarta HUT Jakarta Anies tak membeberkan kinerja program OK OC yang berganti nama dengan JakLingko bisa jadi pergantian ini menutupi kegagalan implementasi OK OC yang gagal total. Bila Anies dikejar mengapa capaian program JakLingko belum kelihatan dengan mudah akan dijawab program ini belum genap satu tahun jadi masih berproses




Bagaimana dengan indeks demokrasi yang dibanggakan oleh Anies ? Pencapaian kota Jakarta ini diraih dari hasil penilaian BPS pada tahun 2017 artinya sebelum Anies menjabat gubernur, penghargaan diberikan pada akhir tahun 2018 seperti dilansir Detik.com (13/06/2019)

Hasil penilaian tim BPS Jakarta menempati urutan pertama disusul oleh DI Yogyakarta, Kalimantan Utara, dan Kepulauan Bangka Belitung. Nah, ini fakta klaim dari Anies sesungguhnya, ibaratnya dia mendapatkan warisan keberuntungan dari kepemimpinan Jokowi dan Ahok

Sejumlah pekerjaan rumah penting dari Anies yang kini tak jelas penyelesaiannya yakni penanganan banjir di Jakarta, terutama di Kali Ciliwung dan Pesanggrahan yang mandeg karena ketidaksiapan Anies mengimplementasikan janji kampanyenya yaitu program naturalisasi sungai

Selain terkatung-katungnya nasih warga pinggiran Kali Ciliwung yang menang gugatan “class action“. Kabarnya tahun ini Pemda DKI Jakarta mencoret anggaran pembangunan penampungan sementara (selter) tapi juga tidak memberikan ganti rugi

Lagi-lagi retorika keberhasilan di depan sidang DPRD DKI Jakarta itu hanya untuk menutupi bolong-bolong kegagalan program kerja yang dijanjikan saat kampanye

Ada lagi bukti Anies tidak mampu mengelola pemerintahan dengan baik yakni rendahnya serapan anggaran APBD DKI Jakarta. CNN Indonesia (01/01/2019) melansir serapan anggaran DKI Jakarta tahun 2018 dibawah target, CNN mengutip dari situs publik.bapedadki.net tercatat belanja langsung dan tidak langsung baru terserap Rp 61,55 trilun dari total alokasi Rp 75,09 triliun. Berdasarkan angka tersebut Pemda DKI Jakarta tak mencapai target penyerapan hingga akhir tahun 2018

Apakah ini sebuah kecacatan administrasi atau ketidakmampuan orang nomer satu di DKI Jakarta mengelola anggaran ?

Masih ada satu lagi yang tak bakal diakui oleh Anies, hasil survei Setara Institut tahun 2018 indek toleransi di DKI Jakarta sangat rendah bahkan bisa dikategorikan buruk. Jakarta menempati menempati 10 kota dengan indeks toleransi terendah

Saat menanggapi hasil survei ini Anies bergaya seperti dosen meminta Setara Institut membuka data kuesionernya. Ibaratnya seperti pepatah “buruk muka cermin dibelah

Saya ingin baca nanti studinya, studi apapun kita harus baca supaya kita ketahui dan saya menganjurkan kepada Setara untuk mengumumkan daftar pertanyaanya kepada publik, kuesionernya, seluruh kuesionernya,” kata Anies seperti dilansir Detik.com (8/12/2018).

Bahkan saat itu Anies bersemangat sekali mempermalukan Setara Institute secara tak langsung di depan publik dengan mengajak ahli statistik menguji validitas dan realibilitas instrumen survei dari Setara Institut

Aksi ini mirip kubu Prabowo ketika tak mempercayai hasil quick count dan penghitungan suara dari KPU

Seharusnya Anies membuka capaian bidang toleransi ini juga saat pamer prestasi atau jangan-jangan Anies malu karena dirinya penyebab indeks toleransi makin merosot. Masih tersimpan dalam memori kolektif warga DKI Jakarta tentang sengitnya kubu Anies memainkan isu intoleransi SARA untuk menjegal gubernur petahana, Ahok

Aksi tersebut tak sia-sia Anies-Sandi berhasil menggiring opini di depan publik sebagai sosok sosok religius dan pro-rakyat. Kesan pro-rakyat ini dibangun lewat jargon anti-reklamasi, baru sekarang skenario busuk ini terungkap bahwa Anies tidak sungguh anti-reklamasi

Pemberian IMB kepada bangunan di pulau reklamasi tanpa menunggu pengesahan Perda Zonasi memberikan bukti Anies hanya membohongi para pemilihnya di Pilkada lalu

Artikel ini juga saya tulis dan terbitkan di Kompasiana dengan judul “Hanya Indeks Ini Tak Diklaim Anies Baswedan Sebagai Keberhasilan




Sigit Bud

Salah seorang kontributor di Kompasiana, UCNews, Kumparan dan One Indonesia Satu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: