BI dan KNKS Komitmen Kembangkan Ekonomi dan Keuangan Syariah di Tanah Air

   Send article as PDF   

JAKARTA, oneindonesiasatu.com – Bank Indonesia (BI) dan Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) akan menggelar banyak event-event yang sifatnya nasional maupun lokal dalam rangka mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah di tanah air.

Selain itu, semua sektor yang ada dan berkempentingan dengan ekonomi dan keuangan syariah akan digandeng untuk bekerja bersama-sama mewujudkan masterplan ekonomi syariah Indonesia.

“KNKS sekarang sedang meminta kepada semua stakeholder, ada sekitar 180-an stakeholder untuk menggali inisiatif inisiatif apa yang bisa mereka lakukan untuk memajukan ekonomi dan keuangan syariah di tanah air,” ucap Direktur Hukum, Promosi dan Hubungan Eksternal KNKS Taufik Hidayat kepada awak media di sela acara Halal Indonesia Expo 2019 di Jakarta Convention Center, Jakarta. Halal Indonesia Expo 2019 digelar mulai 27 hingga 30 Juni 2019.

Menurut Taufik, apabila bila semua ide sudah keluar diungkapkan oleh masing-masing stakeholder, selanjutkanya akan dilakukan harmonisasi dan dimartchingkan dengan masterplan ekonomi syariah Indonesia.

Selanjutnya setelah itu, KNKS akan mengembalikan semua hal tersebut kepada kementerian dan lembaga negara sesuai kapasitasnya.

Tujuannya agar mereka semua juga merasa memiliki ekonomi dan keuangan syariah dan bisa melakukan kerja bersama memajukan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.

“Sehingga nantinya harmonisasi yang sudah terjaga, hasilnya menjadi lebih kuat. KNKS mengharapkan impact-nya lebih besar lagi dari kerja bersama seluruh stakeholder ini,” terang Taufik. Kamis, (27/6/2019).

Taufik mengatakan, support dari perbankan syariah terhadap produk-produk halal Indonesia akan saling dikoneksikan. Sejauh ini KNKS sudah melakukan koneksi antara produsen produk halal dengan perbankan syariah, namun ke depan akan lebih dioptimalkan lagi.

Taufik menyebut contoh misalnya dalam mengembangkan sektor riil di satu sisi dan sektor keuangan di sisi lainnya. “Lebih detail lagi, sektor keuangan juga harus dibedakan di satu sisi suplai dan di sisi lain ada demand. Di sisi suplai misalnya keuangan, perbankan dan pasar modal. Itu bagian suplai untuk instrumennya,” ucap dia.

Tapi di sisi lain, kata Taufik, soal demand siapa yang akan membutuhkan bantuan keuangan syariah? Instrumen-instrumen itu juga harus disiapkan secara paralel.

Misalnya ada dana dana besar, investor institusi seperti BPJS Ketenagakerjaan, Taspen, Asabri dan institusi lainnya perlu dilibatkan dalam kerja KNKS secara bersama sama.

“Sehingga nanti begitu pemerintah bergerak maka misanya Surat Berharga Syariah Negara (SUKUK) juga bisa dikeluarkan oleh pemerintah daerah dan itu bisa dimanfaatkan,” beber Taufik.

Menurut Taufik, untuk mendorong percepatan ekonomi di satu daerah maka daerah tersebut bisa juga mengeluarkan SUKUK, sehingga bisa diabsorb oleh lembaga-lembaga keuangan maupun individu. Namun khusus individu biasanya nilai nominal kapitasinya harus lebih kecil misalnya SUKUK ORI.

“Hal semacam itu bisa dikembangkan. Harapan saya berbagai kegiatan event seperti pameran bisa me-remainder kepada kita semua bahwa perilaku, sikap hidup halal way menjadi satu keniscaya,” tambah Taufik.

Taufik menjelaskan, di satu sisi umat muslim bisa menjalankan ibadahnya secara kafah. Namun di sisi lain bagi non muslim juga bisa memanfaatkan produk halal karena dikenal higienis maupun produk-produk keuangan syariah karena mempunyai benefit lebih.

“Jadi dinilai dari sisi kemanfaatkannya. Supaya sifat rahmatan lil alamin dari agama Islam itu bisa dirasakan bersama seluruh rakyat Indonesia baik muslim maupun non muslim,” tutup Taufik. (ari)

Arianto Goder

Mahasiswa semester 9 UNESA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: