(TERCYDUK !!!) Inilah Deretan Nama Artis dan Atlet yang Gabung dalam Kelompok Radikal

   Send article as PDF   

Masyarakat luas belum lama ini dikejutkan dengan pengakuan mantan Panglima Negara Islam Indonesia (NII) Ken Setiawan yang menyebutkan bahwa ada sederet nama artis serta atlet di Indonesia yang tergiur janji masuk surga secara instan dan akhirnya bergabung dalam kelompok radikal

Ken Setiawan yang kini mendirikan NII Crisis Center tersebut mengungkapkan bahwa sejauh yang beliau ingat, ada 15 orang dari kalangan atlet dan 15 orang dari kalangan artis yang bergabung dalam kelompok radikal

Dari kalangan selebriti, beberapa yang kemudian diketahui bergabung dalam kelompok radikal antara lain berinisial DA, AS dan seorang anak dari artis, yaitu yang berinisial IF

Mereka diajarkan untuk mencapai surga dengan cara yang instan apalagi tidak menggunakan hal ribet,” ungkap Ken Setiawan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada hari Jumat tanggal 16 Agustus 2019




Cara instan tersebut contohnya tidak diwajibkan untuk salat ritual seperti yang diterapkan di Negara Islam Indonesia (NII) Komandemen Wilayah 9, dengan alasan Indonesia belum menjadi negara Islam

Mereka bahkan diwajibkan untuk mencari sumber pendanaan untuk program negara. Selain itu, cara instan lainnya ialah zikir yang seharusnya untuk mengingat Allah sebagai Tuhan, diganti untuk negara dan menurut Ken Setiawan, artis menjadi sasaran empuk, karena mereka lemah secara pemahaman agama

Artis ini secara pendanaan walau tidak aktif secara keorganisasian tapi aktif secara pendanaan,” jelas pria yang pernah bergabung ke Negara Islam Indonesia (NII) 2002-2003 tersebut

Ken Setiawan juga mengakui bahwa belum lama ini pihaknya menangani belasan atlet dari berbagai cabang olahraga yang terpapar radikalisme, namun beliau tidak memberikan inisial para atlet tersebut

Kemarin saya menangani 15 atlet berprestasi persiapan PON 2020. Positif masuk kelompok radikal anti-Pancasila juga,” beber Ken Setiawan

Lebih lanjut, Ken Setiawan menegaskan bahwa tinggal di asrama, melakukan aktivitas hormat bendera Merah Putih, mengumandangkan lagu Indonesia Raya dan lain sebagainya, bukanlah jaminan bagi para atlet tidak terhindar dari ideologi terlarang

Sejauh ini, para atlet tersebut mau menerima program kontraradikalisme yang diberikan pihaknya, masih dibutuhkan dialog-dialog yang menekankan akan Pancasila, karena Ken Setiawan sendiri belum yakin mereka sudah ternetralisasi seluruhnya

Sebagian dari mereka masih meyakini Pancasila sebagai tagut, Pancasila berhala. Ini yang kadang susah dihilangkan, bahwa Pancasila itu bukan pengganti Alquran. Pancasila itu seperti Piagam Madinah. Pancasila sebuah kesepakatan bersama,” imbuh Ken Setiawan

Sebagai info tambahan, Ken Setiawan sendiri dulunya adalah atlet pencak silat Jawa Tengah dan saat itu beliau bertemu rekan-rekan sesama atlet di Jakarta. Beliau mendapati rekan-rekannya masih menyempatkan diri untuk membaca Alquran di sela-sela aktivitas mereka dan yang ada dalam benaknya saat itu hanyalah rasa salut

Selain itu, rekan-rekannya tersebut seringkali melakukan diskusi dan karena tertarik, Ken Setiawan ikut menimbrung hingga terlalu dalam

Ternyata berbeda pikiran, bukan (membahas) beragama tadi. Tapi, mereka membahas persoalan-perosalan negara,” cerita Ken Setiawan

Ken Setiawan juga menambahkan bahwa masih banyak mahasiswa yang terkontaminasi radikalisme yang tumbuh subur dan bahkan hingga menjangkiti anak seorang rektor dalam sebuah kampus tentara yang saat ini ikut ditangani oleh Ken Setiawan

Jadi, bahkan keluarga Polri tidak sedikit yang kita tangani. Ketika di kampus dan di sekolah, mereka berinteraksi dengan siapa saja. Berdialog, dia kalah argumentasi otomatis mengikuti argumentasi yang menang,” papar Ken Setiawan

Mereka rentan terjangkiti, karena memperoleh materi yang disebarkan oleh kelompok radikal tersebut, baik dari sekolah maupun dari keluarga, sehingga mereka menganggap dirinya tengah mendapatkan hidayah dan mengklaim tengah berproses untuk hijrah

Meski demikian, konsep hijrah versi kelompok radikal tersebut bukanlah hijrah biasa, dimana kelompok radikal tersebut memiliki materi mengenai peninggalan kewarganegaraan dan lain sebagainya, yang sebetulnya harus diulas secara mendalam

Tapi, hijrah dengan ketemu kelompok tadi konsepnya bukan hijrah biasa,” tegas Ken Setiawan




One Indonesia Satu

Website resmi One Indonesia Satu yang dimiliki Rudy Haryanto (Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Founder One Indonesia Satu dan WAG IDNEWS, praktisi blogging, Citizen Reporter Persatuan Pewarta Warga Indonesia, Freelance Writer UC We-Media) dan penulis di Kompasiana)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: