Pernyataan Sikap Forum Kebangsaan Jawa Timur untuk Isu Sara dalam Momentum Hari Kemerdekaan RI Ke-74

   Send article as PDF   

SURABAYA, oneindonesiasatu.com – Pada saat memasuki perayaan kemerdekaan Republik Indonesia ke-74, di beberapa tempat wilayah Jawa Timur yaitu Malang dan Surabaya telah terjadi perlakuan yang tidak menyenangkan terhadap sejumlah mahasiswa asal Papua atas tuduhan merusak bendera merah putih dan membuangnya ke selokan pada 16 Agustus 2019 di Surabaya, Jawa Timur.

“Kekerasan dalam bentuk verbal dan fisik pun dialami mahasiswa Papua saat terjadi pengepungan di Asrama Papua Surabaya oleh aparat dan massa,” ucap Ketua Umum Forum Kebangsaan Jawa Timur, Sumardi saat diwawancarai awak media di Waroeng Aceh Kemang (Surabaya), Jl. Raya Jemursari No. 11A, Kel. Wonosari, Kec. Wonocolo, Kota Surabaya. Selasa, (20/8/2019) malam hari.

Sumardi menambahkan, pada tanggal 17 Agustus 2019, polisi bersenjata lengkap masuk ke dalam asrama dan membawa 43 mahasiswa Papua ke Markas Kepolisian Resort (Mapolres) Surabaya yang disertai suara tembakan dan tindakan kekerasan.

“Tindakan represif juga dialami oleh mahasiswa Papua di sejumlah daerah lain seperti Malang, Ternate, Ambon dan Jayapura. Setidaknya 19 mahasiswa Papua terluka dalam kejadian tersebut, sementara lainnya ditangkap kepolisian,” bebernya.

Senada dengan Sumardi, Koordinator Forum Kebangsaan Jawa Timur Ahmad Nur Aminuddin menyatakan, hal yang sesungguhnya naif terjadi kalau kita sebelumnya melakukan pendekatan kemanusiaan.

Aparat dan pemerintah atau perwakilan masyarakat seharusnya bisa melakukan pendekatan manusiawi karena insiden kerap kali terjadi pada peristiwa Nasional.

“Belum lagi jeda soal isu separatis dan etnis Papua kita juga dihadapkan dengan ujaran kebencian kepada umat lain oleh Ustadz Abdul Somad yang telah mengusik telinga kita,” ungkap Aminuddin.

Dengan hal ini, kami atas nama Forum Kebangsaan Jawa Timur menyatakan sikap sebagai berikut :

1. FKJ mendorong kepada pihak Pemerintah, TNI, POLRI serta masyarakat sipil untuk melakukan pendekatan kemanusiaan soal isu Papua.

2. FKJ menilai pihak TNI dan Polri ikut bertanggungjawab dan mengusut tuntas dalang dari kejadian Asrama Papua di Surabaya dan Malang khususnya wilayah POLDA Jawa Timur.

3. FKJ akan menyerukan secara luas agar seluruh masyarakat menunjukan jiwa kebangsaan dan menjaga persatuan di tengah perbedaan. Jangan terprovokasi kejadian tersebut.

4. FKJ dalam hal ini menilai UAS sebagai seorang tokoh agama harus menjadi contoh dan tauladan yang baik. Seorang tokoh agama harus memiliki komitmen dalam Iman, Moral dan Kebangsaan. FKJ mengingatkan dan meminta UAS agar segera melakukan permohonan maaf kepada pihak yang di singgung dalam dakwahnya.

Dalam pernyaatan sikap tersebut, juga dihadiri dari OKP Se-Jawa Timur, mulai dari KMHDI, BMK Kosgoro 57, Front Komunitas Indonesia Satu (FKI-1), GAMKI, Parindra, PPGI, Forkom, BMDS, dan MUKI Jatim. (ari)

Arianto Goder

Mahasiswa semester 9 UNESA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: