Dokter Reisa dan Semiotisasi Wanita Cantik dalam Politik Praktis

   Send article as PDF   

Marshal McLuhan benar, bahwa ‘the medium is the message‘. The medium is Reisa, and Reisa is also the message, silahkan dicerna dan sebelumnya dikunyah dulu pelan-pelan tanda-tanda tampilannya. Ojo kesusu. Ini soal semiotika, nikmati saja Reisanya… eh rasanya

Orang sekarang lebih sibuk ‘mengunyah‘ pesan dalam format dokter Reisa sang jubir (komunikator yang sekaligus juga medium pesan dari institusi) ketimbang si Covid-19 yang sialan itu

Bagaikan simbol lukisan Monalisa yang senyumnya penuh misteri, maka sekarang tatkala Ibu dokter Reisa tampil konpers — yang momennya sangat dinanti-nantikan itu — semua pemirsa dari aliran mana pun (cebong, kampret, kadrun) kompak menyimak, …menyimak sang jubir baru

Persetan dengan Covid-19 dan segala ulah penyebarannya, sekarang sang jubir yang malah lebih bikin berdebar-debar kok. Daya teror Covid-19 dibikin tekor oleh pesona bu dokter. Alhamdulilah. Semoga semua makhluk di bumi berbahagia

Tidak ada salahnya sih, bagus malah. Menimbang maraknya berbagai upaya politisasi pandemi virus Corona yang sudah grambyang kemana-mana. Lebih baik publik disodorkan suatu tontonan estetika yang memang indah, sambil pesan utama soal pandemi disampaikan, sugar coated, berbukalah dengan yang manis-manis. Glek !

Iya khan, ketimbang kita mesti nonton propaganda orator gigi-ompong, gigi-tongos, atau dipaksa mencerna segala macam agitasi jualan tuhan sambil tangannya terkepal dan berteriak-teriak bunuh… bunuh… makzulkan… yang selain palsu, juga jelek penampilannya. Duh !




Fenomena dokter Reisa ini menarik (selain memang figurnya juga appealing, …sudahlah kita tidak udah berdebat soal itu). Sama menariknya waktu kita stalking instagramnya sang Tante Pemersatu Bangsa yang sempat heboh itu

Masing-masing dengan segmen selera (kriteria)nya sendiri, walau audience bisa saja sama… ya kita-kita juga. Sama-sama pengagum wanita cantik (dan pintar). Pengagumnya bisa pria dan bisa juga sesama perempuan lho

Kata mitos, wanita itu berdandan selain untuk memikat lawan jenis, juga untuk menunjukkan superioritasnya dihadapan sesama jenisnya. Semacam kompetisi Miss Real World (nona dunia nyata) gitu lah

Dalam kajian semiotika, antara penanda (simbolnya) dan petanda (realitas atau mitosnya) memang hubungannya bersifat arbitrari, bebas saja, sampai ada konvensi (kesepakatan) dalam komunitas perbincangan itu

Dan politik ideal sejatinya adalah demi bonum-commune (kemaslahatan, atau kehidupan adil dan makmur bersama), sedangkan politik praktis adalah pelaksanaan (eksekusi) dari ide dan program keadilan dan kemakmuran dalam hidup kebersamaan itu

Dalam politik praktis para aparat-politik mesti menghadapi realitas keseharian yang nyatanya tidaklah seideal seperti yang dibayangkan semula. Tarik-menarik kepentingan terjadi disana-sini, semuanya dalam rangka merebut kekuasaan

Kekuasaan yang bakal dipakai untuk melampiaskan hasrat dan kepentingannya masing-masing. Ada pihak yang memang hasrat dan kepentingannya bersifat altruistik-mulia, namun tidak sedikit pula yang sifat hasratnya itu egoistik, serakah dan korup.

Tarik menarik kedua kubu ini tentu menimbulkan banyak ketegangan (tension). Karena kedua belah pihak memang akan senantiasa berhadapan dalam hampir setiap perkara (kejadian) yang sengaja dipolitisasi oleh pihak opisisi. Timbulah semacam ketegangan di dunia simbolik dalam berbagai ruang publik

Kondisi ketegangan sosial yang berkepanjangan pada gilirannya akan meningkatkan suhu politik. Dan suhu tinggi yang berkepanjangan tidaklah sehat. Perlu segera dikompres dengan es. Maka datanglah Bu dokter Reisa mengompres pasien politik Indonesia

Pasien-pasien di bangsal Cebong, bangsal Kampret dan bangsal Kadrun yang senantiasa bertegangan tinggi satu sama lain tiba-tiba sama-sama cengar-cengir tatkala Bu Dokter cantik ini melakukan visite…eh konpers

Fenomena konpers oleh bu dokter ini pun jadi semacam kompres yang menurunkan suhu politik yang panas. Semua pasien politik pun adem ayem tentrem kertaraharja di bumi yang gemah ripah loh jinawi ini

Ini siasat cerdik sang kepala rumah sakit yang selama ini dibikin pusing oleh ulah pasien politik yang memang bandel-bandel ini. Siapa kepala rumkitnya? Terserah saja Anda mau maknai dengan siapa… bebas juga kok, arbitrari saja

Yang jelas sekarang Covid-19 dan segala kehebohan politisasinya sementara ini telah bertekuk lutut… di sudut kerling wanita

Kapan konpers lagi bu dokter ?

Artikel ini juga saya tulis dan terbitkan di Kompasiana dengan judul “Dokter Reisa dan Semiotisasi Wanita Cantik dalam Politik Praktis




Andre Vincent Wenas

Sekjen 'Kawal Indonesia' -- Komunitas Anak Bangsa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Yuk kita ramai-ramai subscribe YouTube Channel One Indonesia Satu dengan meng klik tombol YouTube di bawah ini

%d bloggers like this: