KPK Menduga Ade Yasin Minta SPKD Siapkan Uang untuk Suap BPK

  • Bagikan
X
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menduga Bupati nonaktif Bogor Ade Yasin memerintahkan beberapa satuan kerja perangkat dinas (SKPD) menyiapkan uang untuk menyuap anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) perwakilan Jawa Barat. Informasi ini didalami dari pemeriksaan delapan saksi pada 10 Juni 2022.

"Para saksi hadir dan dikonfirmasi antara lain masih terkait dengan dugaan arahan berlanjut dari tersangka AY (Ade Yasin) agar beberapa SKPD yang diaudit oleh tersangka ATM (pegawai BPK perwakilan Jawa Barat Anthon Merdiansyah) dan kawan-kawan untuk menyiapkan uang operasional selama proses audit berlangsung," kata pelaksana tugas (Plt) juru bicara bidang penindakan KPK Ali Fikri melalui keterangan tertulis, Senin, 13 Juni 2022.

Delapan saksi ialah Kepala BPKAD Kabupaten Bogor, Teuku Mulya; Kepala Bappenda Kabupaten Bogor, Arif Rahman; Inspektur Kabupaten Bogor, Ade Jaya Munadi; dan Irban V Inspektorat Kabupaten Bogor, Temsy Nurdin. Kemudian, Kepala UPT Pajak Daerah kelas A Jonggol, Mika Rosadi.

Selain itu, KPK memeriksa Kasubbag Penatausahaan Keuangan Setda Kabupaten Bogor, Ruli Fathurahman; Sub Koordinator Pelaporan Dinas BPKAD Kabupaten Bogor, Hanny Lesmanawaty; dan pegawai negeri sipil (PNS) RSUD Cibinong, Solihin.

Baca: 9 Saksi Diperiksa untuk Pertajam Penyidikan Kasus Ade Yasin

Ali enggan memerinci lebih lanjut total uang yang diminta disiapkan Ade di tiap SPKD. Permintaan itu dipastikan dipermasalahkan sesuai dengan aturan yang berlaku.

Ade Yasin ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pengurusan laporan keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor Tahun Anggaran 2021. KPK menetapkan delapan tersangka sebagai pemberi serta penerima dalam perkara ini.

   

Sebanyak empat tersangka pemberi ialah Sekretaris Dinas PUPR Kabupaten Bogor, Maulana Adam; Kasubid Kas Daerah BPKAD Kabupaten Bogor, Ihsan Ayatullah; PPK pada Dinas PUPR Kabupaten Bogor, Rizki Taufik, serta Ade Yasin.

 

Mereka disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.

 

Sementara itu, empat pegawai BPK perwakilan Jawa Barat Anthon Merdiansyah, Arko Mulawan, Hendra Nur Rahmatullah Karwita, dan Gerri Ginanjar Trie Rahmatullah ditetapkan sebagai tersangka penerima.

 

Mereka disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.

Sumber: medcom.id

Artikel Asli

Note:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim koreksi/laporan Anda ke alamat email kami di oneindonesiasatudotcom@gmail.com.
  • Bagikan