Ancaman Wabah-Wabah Baru: Apa yang Perlu Kita Persiapkan

  • Bagikan
X

Merebaknya dua wabah baru - wabah hepatitis akut dan cacar monyet - di tengah surutnya wabah pandemi COVID-19 perlu mendapatkan perhatian khusus, baik dari pemerintah maupun masyarakat. Hal ini mengingat karena keduanya berpotensi untuk berkembang menjadi pandemi seperti halnya COVID-19, terutama bila tidak dikendalikan dengan penuh kewaspadaan. Pandangan dari WHO, yang belum mengambil langkah penting dalam penanggulangan kedua penyakit tersebut, tidak boleh dijadikan tolak ukur untuk menganggap bahwa keduanya tidak berbahaya. Seperti halnya COVID-19, yang pada awal kemunculannya tidak mendapatkan tanggapan serius dari banyak pihak, tidak menutup kemungkinan kalau kedua penyakit tersebut dapat berkembang menjadi pandemi yang mematikan, terutama bila kewaspadaan pemerintah dan masyarakat turun.

Berbagai pakar di bidang kesehatan menekankan pentingnya untuk mengambil langkah dini dalam penanggulangan kedua penyakit tersebut. Dokter Yudhi Wibowo, epidemiolog dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), mengingatkan pentingnya edukasi sedini mungkin guna meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap ancaman kedua penyakit tersebut. Edukasi dini sangatlah krusial mengingat bahwa penyakit yang berpotensi tinggi untuk berkembang menjadi pandemi tersebut akan lebih mudah untuk dikendalikan bila langkah-langkah preventif yang tepat telah diambil sejak skala penyebarannya masih relatif kecil. Edukasi tidak hanya terbatas pada informasi mengenai gejala penyakit dan cara-cara pencegahannya, tapi perlu juga mencakup antisipasi terhadap beredarnya hoaks atau berita bohong, yang selain bisa menimbulkan keresahan di masyarakat, dapat juga berpotensi mengurangi keefektifan langkah-langkah preventif yang akan diambil. Windhu Purnomo, epidemiolog dari Universitas Airlangga (Unair), juga meminta masyarakat Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan sejak dini dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Hal ini mengingat bahwa kedua wabah baru tersebut adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus, yang bisa dengan mudah menyebar apabila protokol kesehatan tidak dilaksanakan. Purnomo menyatakan bahwa PHBS tidak hanya perlu dilakukan pada masa pandemi, tapi harus juga menjadi sebuah kebiasaan atau gaya hidup di masyarakat, karena selama PHBS tetap dijaga, individu akan tahan terhadap penularan dari berbagai jenis penyakit infeksi. Beliau juga menghimbau masyarakat untuk cukup beristirahat, berolahraga ringan, mengkonsumsi makanan sehat yang memiliki kadar antioksidan tinggi, dan mengurangi paparan terhadap radikal bebas seperti merokok, untuk meningkatkan imunitas tubuh.F Dokter Robert Soertandio, SpA, M.Si.Med, dokter spesialis anak, menambahkan pentingnya untuk menjaga kebersihan tangan, terutama dalam mencegah penularan wabah cacar monyet. Beliau menganjurkan untuk menghindari memegang secara langsung binatang yang diduga mengidap penyakit dan untuk selalu mencuci tangan setelah menyentuh binatang. Hal ini dianggap penting, mengingat inang asli dari virus cacar monyet adalah binatang, sehingga penularan dari binatang merupakan salah satu jalur penularan penyakit tersebut.

Himbauan-himbauan untuk menjaga PHBS di atas sangatlah penting mengingat pada saat ini penyebaran COVID-19 sudah mulai menurun, dan bahkan bisa diperlakukan sebagai endemi, di mana jangkauan dan tingkat penularannya bisa dengan mudah diprediksi dan dikendalikan. Hal ini dikhawatirkan akan menimbulkan rasa aman semu di masyarakat, yang akan memicu turunnya tingkat kewaspadaan.

Ditambah dengan kelelahan menjalankan protokol kesehatan yang telah diberlakukan selama lebih dari dua tahun, hal ini bisa berdampak pada turunnya kesadaran akan perlunya menjaga PHBS, yang dapat berujung pada terciptanya lingkungan kondusif untuk penyebaran penyakit lain dan kembali meningkatnya penyebaran wabah penyakit. Kita perlu mendengar dan melaksanakan himbauan dari para ahli di atas untuk tetap menjaga PHBS, termasuk di dalamnya pemakaian masker sebagai salah satu cara pencegahan penularan penyakit. Meskipun terdapat pandangan bahwa pemakaian masker di tempat terbuka sudah tidak diperlukan, masyarakat masih perlu untuk tetap memakai masker di tempat umum yang tertutup, mengingat meskipun ancaman dari penularan COVID-19 sudah mulai menurun, ancaman dari hepatitis akut dan cacar monyet semakin meningkat. Walaupun resiko penularan kedua penyakit tersebut melalui saluran pernafasan jauh di bawah resiko penularan COVID-19, keduanya tetap dapat menular melalui cairan dari saluran pernafasan. Andrea McCollum, pemimpin unit epidemi poxvirus di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention, CDC), Amerika, menegaskan bahwa masker bisa mengurangi resiko penularan cacar monyet, terutama bila seseorang berada di ruangan tertutup dalam jangka waktu lama. Oleh karenanya, masyarakat perlu untuk tetap memakai masker dalam kondisi-kondisi yang dianggap rentan terhadap penularan penyakit.

Selain himbauan kepada masyarakat, para ahli juga menghimbau pemerintah untuk memperkuat surveilans, yang tidak hanya terbatas pada pengamatan arus pelaku perjalanan domestik dan mancanegara, tapi juga pengamatan terhadap timbulnya gejala-gejala penyakit di dalam negeri. Meskipun di Indonesia jumlah kasus hepatitis akut masih terbatas, dan belum ada satupun kasus cacar monyet, tidak menutup kemungkinan kalau virus-virus penyebab penyakit tersebut sudah menyebar secara laten di Indonesia. Seperti disinyalir di Amerika dan Inggris - di mana wabah cacar monyet telah menyebar - pada kebanyakan kasus, tidak ditemukan kontak antara pasien dengan individu yang memiliki riwayat kunjungan ke negara-negara di mana cacar monyet telah menjadi endemi, seperti Nigeria dan Kamerun. Hal ini menunjukkan bahwa virus cacar monyet dapat masuk ke suatu negara tanpa terdeteksi oleh sistem surveilans arus perjalanan internasional. Oleh karenanya, pemerintah perlu membantu fasilitas-fasilitas medis di Indonesia untuk mempersiapkan diri menghadapi timbulnya kasus-kasus penyakit tersebut secara tiba-tiba. Profesor Tjandra Yoga Aditama, pakar kesehatan masyarakat dari Universitas Indonesia (UI), secara spesifik menghimbau pemerintah untuk segera menyiapkan dan menerapkan protokol yang menyeluruh guna mengatasi kemungkinan penyebaran wabah baru tersebut. Sebagai contoh, untuk kasus hepatitis akut yang telah terjadi di Inggris, kebanyakan pasien memerlukan cangkok hati sebagai salah satu metoda penanganan, sehingga beliau meminta pemerintah untuk memastikan bahwa fasilitas medis di Indonesia memiliki kesiapan dalam melakukan operasi liver bila diperlukan. Pandu Riono, epidemiolog dari UI, menambahkan perlunya pemerintah untuk meninjau ulang tingkat penerapan serta menggalakkan vaksinasi di Indonesia, karena vaksinasi bisa membantu menghambat penyebaran penyakit menular yang berpotensi menjadi wabah. Langkah ini merupakan hal yang penting, terutama untuk pengendalian wabah cacar monyet, karena WHO menyatakan bahwa vaksin cacar air, yang umum diberikan kepada balita, terbukti cukup efektif dalam mencegah penularan virus cacar monyet. Dengan kembali digalakkannya imunisasi, terutama imunisasi cacar air, diharapkan efek kekebalan terhadap cacar monyet di Indonesia dapat ditingkatkan.

Meninjau pandangan para ahli di atas, sangatlah perlu bagi pemerintah dan masyarakat untuk mengambil langkah-langkah yang tepat dalam mengatasi kemungkinan penyebaran wabah hepatitis akut dan cacar monyet di Indonesia. Bagi masyarakat, pelaksanaan PHBS, yang merupakan tindakan dasar dalam pencegahan penularan penyakit, perlu untuk kembali digalakkan dalam mempertahankan diri terhadap ancaman wabah baru. Mengenai hal ini, nampaknya masyarakat Indonesia masih memiliki tingkat kesadaran yang tinggi. Ini terlihat dari demo yang dilaksanakan oleh sebagian anggota masyarakat di sekitar Rumah Sakit Islam Jakarta Pondok Kopi pada tanggal 12 Juni yang lalu. Mereka meminta pemerintah agar waspada terhadap penyakit cacar monyet dan menuntut peninjauan ulang terhadap kebijaksanaan pelonggaran aturan pemakaian masker. Di sini, pemerintah perlu melihat aspirasi masyarakat dan meninjau ulang kebijaksanaan mengenai masker. Seperti yang diutarakan Dicky Budiman, epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia, bila pemerintah memandang bahwa aturan pemakaian masker sudah bisa dilonggarkan, pemerintah perlu memberikan bukti ilmiah yang bisa mendukung, sehingga tidak terjadi keresahan di masyarakat. Disamping itu, pemerintah perlu memperjelas kondisi kapan masker wajib untuk dikenakan (misalnya, di dalam ruangan tertutup), dan kapan masker tidak wajib untuk dipakai. Hal ini akan menghindarkan kerancuan di tengah masyarakat, dan membantu penerapan PHBS dengan baik.

Oleh : Agus Inanto

Disclaimer : Rubrik Kolom adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan oposisicerdas.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi oposisicerdas.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

Artikel Asli

Note:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim koreksi/laporan Anda ke alamat email kami di oneindonesiasatudotcom@gmail.com.
  • Bagikan