Pilpres 2024, Monumen Kemenangan atau Tugu Kekalahan PDIP?

  • Bagikan
X

KONTESTASI politik melalui Pemilihan Umum (Pemilu) partai politik maupun Pemilihan Presiden (Pilpres) adalah murni perhitungan yang saling menegasikan. Kemenangan di salah satu pihak merupakan kekalahan di pihak lainnya.

Kehilangan atau penurunan suara pada salah satu partai politik menjadi penambahan suara bagi partai politik lainnya. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, maka hukum besi inilah yang berlaku mutlak dan abadi.

Sekarang ini mudah dicermati melalui berbagai pernyataan para pengamat yang sepertinya seolah-olah menyanjung, memuja dan mengarahkan ke jalan yang benar, tetapi sesungguhnya mereka menjerumuskan dan mendorong PDIP dan para elitenya agar terperosok ke jurang kegagalan dan kehancuran dalam Pemilu dan Pilpres 2024 yang akan datang.

Sangat mudah dibaca, tentunya strategi yang sedang digulirkan adalah berlakunya hukum besi abadi dalam kontestasi politik, kesalahan, kebodohan dan kelalaian lawan politik, menjadi keuntungan dan keunggulan bagi pihak lainnya.

Tentunya, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri tidak akan pernah bisa melupakan fakta dan catatan sejarah kekalahan dan kegagalan dalam Pilpres tahun 2004 lalu, bahwa pemilihan Presiden berbeda total dengan pemilihan partai politik dalam Pemilu.

Sejarah pemilu dan pilpres tahun 2004 lalu, sudah membuktikan bahwa tidak ada korelasi preferensi rakyat pemilih terhadap partai politik identik dengan pilihan terhadap kandidat capres/cawapres. Secara logika, maka seharusnya pasangan Megawati Soekarnoputri dan KH Hasyim Muzadi dalam Pilpres 2004 lalu adalah pemenang yang dipilih oleh mayoritas rakyat pemilih, karena bagaimanapun Megawati Soekarnoputri adalah presiden “incumbent” dan merangkap Ketua Umum PDIP yang menjadi pemenang Pemilu 2004.

Sumber: rmol.id

Artikel Asli

Note:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim koreksi/laporan Anda ke alamat email kami di [email protected].
  • Bagikan